Rabu, 04 Maret 2015

Menaruh Dendam

Segala kepahitan, kegeraman ... hendaklah dibuang di antara kamu ... (Efesus 4 : 31)


Siapa pun yang memulainya, menaruh dendam menimbulkan rintangan di tempat kerja, mempengaruhi suasananya, mengganggu komunikasi dan merusak efisiensi kerja. Orang sakit yang berada dalam situasi seperti itu akan menderita. Seperti ada batu kerikil di dalam mesin, tapi kehadiran seorang Kristen dapat menjadi seperti minyak Tuhan untuk melumasi mesinnya. Menghilangkan kepahitan tidak akan tercapai dengan cara berpihak atau berdiam diri. Yang diperlukan adalah tanggapan bukan hanya reaksi. Kita harus berdoa agar ada kesempatan bagi kita untuk menuangkan "minyak", dengan lembut dan rendah hati. Pembicaraan dengan hati panas akan menimbulkan amarah daripada penyesalan, apalagi jika kesalahan ada di kita sendiri. Situasi akan menunjukkan kepada kita apakah pembicaraan sebaiknya dilakukan bersama seluruh anggota tim atau secara perorangan.


Seorang dokter perempuan yang menyusun jadwal tugas juga menyadari seorang anggota timnya terang-terangan menghindari dia, maka ia mendoakannya. Tak lama kemudian, mereka bertemu di pintu berputar dari arah yang berlawanan. Mereka bisa saja saling mengabaikan karena ada pembatas kaca di antara mereka, atau ia bisa menunggu sampai pria yang ia doakan itu pergi. Tapi ia segera menaikkan doa SOS agar diberi hikmat, dan mereka bertemu. Dengan menyebut nama pria itu, dan dengan penuh perhatian, dokter perempuan itu bertanya, "Ada masalah apa?" Maka dengan begitu keluarlah "batu kerikil" yang mengganggu. Ternyata pria itu menaruh dendam karena jadwal tugas jaga dirasanya tidak adil. Begitu masalahnya terungkap, keduanya saling memaafkan dan hubungan mereka membaik.

Mengapa kita yang sudah banyak pekerjaan, menyusahkan diri dengan hal-hal seperti itu? Ada alasan yang lebih dalam daripada sekedar meningkatkan efisiensi. Kita harus hati-hati terhadap sikap-sikap yang menghancurkan, termasuk yang ada di dalam diri kita, karena Tuhan sangat peduli memulihkan hubungan yang terputus anatara kita dengan Dia. Justru karena kasih Tuhan maka Paulus mendesak kita mengusir kepahitan di dalam hati, dengan bersikap "ramah ...penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Ef 4 : 32).

Baca : Titus 3 : 1-8

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 23 Februari 2015

Duri dalam Daging

Aku diberi suatu duri di dalam dagingku...aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku.Tetapi jawab Tuhan kepadaku,"Cukuplah anugerah-Ku bagimu ..."
(2 Korintus 12 : 7-9)

"Duri dalam dagingku-apakah itu suamiku atau kecanduanku akan alkohol?"Pasienku, seorang alkoholik, berusaha mengatasi ketagihannya akan alkohol melalui pendekatan rohani. Ia mulai memahami bahwa Allah menerima ia tanpa syarat ketika ia masih berdosa, dan ini memberi ia kekuatan untuk menjadi baik. Seperti perempuan itu, kita dapat membenci dan mencintai diri kita sendiri pada saat yang sama, dan menginginkan kebaikan dan kejahatan bersamaan. Mengapa kita begitu cacat?

Paulus diberikan sebuah 'duri' dalam daging. Apakah itu? Apakah itu kelemahan tubuh, atau salah satu dosa nafsu dan keinginan daging? Ada yang berpikir "duri" tersebut mungkin penyakit yang berhubungan dengan mata, seperti trakom, atau penyakit laiinya seperti malaria kronis atau epilepsi. Ada yang berpendapat "duri" itu adalah godaan rohani atau oposisi terhadap Injil yang tak kunjung reda. "Duri" Paulus yang sebenarnya kita tidak tahu! Ketidakpastian ini memberi kebebasan kepada setiap orang untuk mengartikan "duri" sebagaimana yang dipikirkan mereka. Jadi "duri" yang merupakan penghalang yang tidak diinginkan agar dapat melayani Tuhan dengan efektif dan bebas.

Inti dari pengalaman Paulus tersebut, Tuhan bekerja walaupun, atau lebih tepatnya melalui, "duri" kita. Anugerah Allah cukup dalam setiapkeadaan. Kekuatan-Nya ditunjukkan dalam kelemahan kita. Tuhan memakai kita walaupun kita mempunyai kelemahan. Tentu saja ini bukan berarti menerima segala sesuatu diperbolehkan. Kita tidak boleh terus berbuat dosa agar menerima lebih banyak lagi anugerah. Tidak! Kita berjuang melawan dosa dalam diri kita, dan meminta Allah memulihkan kita, yakin bahwa anugerah-Nya cukup buat mempersiapkan kita untuk hidup yang telah Ia rencanakan bagi kita. 

Tapi ada satu pemikiran akhir yang mengganggu. Bila Tuhan memperlakukan kita dengan anugerah sedemikian rupa dan menerima kita sebagaimana adanya, mengapa kita tidak melakukan hal yang serupa kepada orang lain?Mengapa kita begitu sulit memafkan?

Baca :
2 Korintus 12 : 1-10; Galatia 5 : 16-26


Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 17 Februari 2015

Mengatakan Kebenaran di dalam Kasih

Aku sangat bersuka cita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran-3 Yohanes 3

Sebagai praktisi medis Kristen kita perlu mengatakan kebenaran, kebenaran seutuhnya, dan hanya kebenaran; dengan menghindari sikap kasar tanpa perasaan dan sebaliknya berbicara dengan hati-hati, penuh kasih dan penuh perasaan. Kata 'ya' haruslah tetap 'ya', dan kata 'tidak' haruslah tetap 'tidak'. Terkadang, dalam kasus yang sulit, kita tergoda untuk berbohong mengenai diagnosis untuk mengurangi pukulan bagi pasien dan keluarganya. Pada akhirnya, kita terperangkap saat diagnosis yang sebenarnya disampaikan dan kepercayaan mereka kepada kita pun hancur. Namun, akan menolong jika kita memberi gambaran secara bertahap sehingga yang mendengarnya lebih mampu menerima keenaran, menghubungkan setiap informasi yang telah diberikan sehingga beroleh pemahaman seutuhnya akan situasi sebagaimana adanya.

Banyak pernikahan disia-siakan oleh salah satu atau kedua pasangan yang menyembunyikan sebagian atau seluruh kebenaran. Bukan hanya dosa-dosa yang memalukan seperti perzinahan, tapi juga dosa-dosa yang tidak kentara seperti berbohong demi kebenaran, pemutarbalikkan dan cerita yang sengaja disampaikan tidak lengkap, yang seiring dengan waktu mengikis kepercayaan. Dengan cara yang sama kita dapat kehilangan kepercayaan dari anak-anak kita atau anggota keluarga lainnya.

Mengatakan kebenaran tidaklah selalu mudah. Saat Kristus bahwa mereka memegang ajaran-Nya akan mengetahui kebenaran (Yoh 8:31-32), Ia ditantang oleh ahli Taurat Yahudi dan berhasil meloloskan diri. Petrus, walaupun dengan pahit menyesali mulutnya yang terlalu cepat bicara, memberitahu orang Kristen untuk siap sedia memberi jawaban kepada siapa pun yang menanyakan pengharapan yang kita miliki, tapi dengan lemah lembut dan hormat (1 Ptr 3:15-16). Ketika seorang Kristen berdosa terhadap kita, kita perlu 'menegur dia di dalam kasih' (Mat 18:15). Sebaliknya ketika kita bersalah, kita perlu menerima teguran dan hidup rukun. 'Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar' (Ams 25:12).

Baca : 1 Petrus 2:1-3; Yohanes 8:31-59
                                                                                                                                                    ROS

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 19 Januari 2015

Hubungan Baik Dengan Pasien



Demikianlah aku datang kepada orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari. - 
Yehezkiel 3 : 15



Sebelum menasihati para tahanan di Babel, Yehezkiel tinggal bersama mereka untuk bisa memahami keadaan mereka. Ini sesungguhnya inti dari semua hubungan baik. Bagaiman jika aku sendiri menjadi salah seorang pasienku?Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Mat 7 : 12) Kita perlu menyayangi orang lain, artinya "menderita bersama" mereka, seperti yang Kristus lakukan (Mat 15 :32). Jika kita sendiri mengalami apa yang kita perbuat terhadap orang lain, kita akan menjadi praktisi yang lebih memahani dan bahkan juga lebih kompeten.

Teman-teman Ayub dikenal karena ketidakpekaan mereka terhadap penderitaan Ayub. "Aku pun dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada tempatku," protes Ayub. Tapi, "Aku ... tidak menahan bibirku mengatakan belas kasihan" (Ayb 16 : 4,5). Sikap tidak memikirkan diri sendiri akan membesarkan hati mereka yang sedang menghadapi krisis. Kita harus waspada terhadap dosa memikirkan diri sendiri! Ada seorang Kristen yang, untuk mengingatkan dirinya, menaruh tulisan sederhana di atas mejanya, "Orang lain".

Pasien baru akan merasa gugup dan takut, seperti kita dulu sebagai mahasiswa menghadapi ujian lisan! Kita perlu memiliki ketenagan yang membangkitkan rasa percaya. Sikap ramah tehadap pasien, ketika menjelaskan prosedur atau untung rugi suatu tindakan, mengisyaratkan kita berada di pihak mereka. Ada banyak godaan dalam pekerjaan kita, untuk bersikap cepat marah, atau cepat mengecam orang lain. Supaya kita bisa berbuah bagi Dia, kita perlu hidup dekat dengan Kristus dan berkomunikasi dengan Dia setiap hari (Yoh 15 : 5). Buah Roh Kritus adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5 : 22-23). Seperti kita, buah juga butuh waktu untuk matang!-tapi cara hidup kita berbicara lebih banyak daripada yang diucapkan oleh bibir kita.

Bukan orang Kristen saja yang bisa melayani dengan penuh kasih, atau yang mempunyai standar etis tinggi. Tapi, kita memang memiliki sumber daya dalam hubungan kita dengan Allah. Ia menawarkan anugerah-Nya saat kita menghadapi tekanan dan ketegangan terus-menerus. Kekuatan doa tersedia bagi kita sepanjang hari.

Baca : Kolose 3 : 1-17                                                                                                     AV

Dikutip dari : 
Sumber Hidup Praktisi Medis


Senin, 12 Januari 2015

Sumber Kekuatan Batiniah Orang Kristen

Kristus hidup di dalam aku. - Galatia 2 : 20

Pasien yang banyak menuntut perhatian dan tekanan lain dalam pekerjaan bisa melemahkan kita dan mengancam keseimbangan batiniah kita. Tapi orang Kristen tidak perlu mengatasinya sendirian. Tuhan kita tinggal di dalam kita (Yoh 14 : 23). Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai pokok anggur dan orang percaya sebagai rantingnya, yang dihidupi oleh aliran hidup-Nya di dalam mereka. Sebagaimana pemangkasan menyebabkan terbentuknya buah, begitu pula Bapa di surga harus memangkas dan membersihkan hidup kita agar watak seperti Kristus terbentuk di dalam diri.

Akar membutuhkan air. Di Afrika, aku pernah melihat tanah yang coklat dan kering kerontang karena terbakar matahari, tapi di kejauhan tumbuh pohon hijau yang subur. Apa rahasianya? Pohon itu ditanam di dekat sungai. Yeremia membandingkan pohon seperti itu dengan orang percaya yang tetap segar meskipun terkena panas terik, karena berakar dalam kasih dan kuasa Allah (Yer 17 : 8). Karena Roh Allah tinggal di dalam kita dan mengalir melalui kita, kita menjadi saksi yang efektif, dengan kehidupan yang berbuah untuk kemuliaan-Nya.

Namun, kita bisa mudah "terbakar oleh matahari", begitu ada banyak pasien yang menuntut perhatian kita, berita buruk yang harus disampaikan, terapi yang gagal-dan banyak lagi. Kita sangat perlu menyisihkan waktu untuk bersaat teduh setiap hari, dimana kita menantikan Tuhan memperbaharui kekuatan kita di dalam Dia, yang adalah air kehidupan. mengutip Billy Graham, "Jika anda terlalu sibuk untuk meluangkan waktu sebentar bersama Tuhan setiap hari, dalam doa pribadi dan membaca Firman-Nya, maka anda lebih sibuk daripada yang Tuhan rencanakan bagi anda!" Hati-hatilah dengan kering-kerontangnya kehidupan yang sibuk!

Bagi kita semua ada masa-masa kering. Tugas jaga pada hari Minggu membuat kita tidak bisa beribadah bersama orang Kristen lain. Kecelakaan atau penyakit yang mendadak, atau retaknya suatu hubungan, secara fisik dan emosi melelahkan kita. Pada saat-saat demikian, ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, "sumber air hidup", kita akan membuktikan kesetiaan-Nya memelihara jiwa kita. "Daun" kita tetap hijau!

Baca :
Yeremia 17 : 1-10; Mazmur 1; Yohanes 15 : 1-17

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 10 Desember 2014

Tetap Beriman dan Komitmen

Dunia kerja - bagi sebagian besar alumni baru - tidak terkecuali bagi para dokter-dokter baru, sah jika dibayangkan sebagai tempat yang penuh godaan dan tantangan, yang jika tidak kuat beriman dapat tergelincir ke dunia rawa paya. kenyataannya memang demikian. dunia kerja, sebagaimana dunia yang kita diami saat ini, banyak menawarkan dan menyajikan segalanya yang menguji iman.

Dokter Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp. S, yang dikenal dengan panggilan Yusak, sudah menyaksikan perbedaan saat ia ber-PTT. Suasana dan kondisi waktu mahasiswa sangat berbeda dengan dunia kerja, katanya, sewaktu mahasiswa ia tinggal dalam lingkungan "rohani". Selain di kampus, ia juga bertemu teman-teman di persekutuan. "Kalau ada masalah teman-teman pasti ada yang nolong.Namun sejak PTT enggak bisa. Mesti ngurus sendiri. , "kenang alumnus FK Trisakti ini yang menyampaikannya pada Luther Kembaren dari Samaritan. 

Ia merasa sebagai single fighter ber-PTT di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pemahamannya tentang kekudusan dan kebenaran berbeda dengan lingkungannya. Di saat itulah ia diuji. Salah satu contoh yang disampaikan bapak 2 anak ini adalah soal pengelolaan keuangan yang tidak beres di puskesmas. sewaktu di puskesmas, uang luar biasa banyak, katanya. Bahkan bantuan Jaringan Pengaman Sosial masuk ke nomor rekening dokter. 

Menurut dokter yang mengambil spesialis di FK Undip, Semarang ini, memang itu merupakan kesempatan mencari uang sebanyak-banyaknya. Apalagi jika mengingat waktu kuliah sudah mengeluarkan yang banyak. Tapi, Yusak memilih tetap mempertahankan idealismenya. Ia bisa seperti itu, kata neurologist di RS Siloam Gleneagles ini, karena bekal pembinaan yang didapatnya sejak mahasiswa. Hubungannya dekat dengan Tuhan, maka ia mampu bertahan, tidak ikut arus. 

Pengalaman lain yang berkesan bagi Yusak semasa ia PTT adalah ketika ia difitnah mengambil uang. Seluruh pekerja di Puskesmas menganggapnya makan uang. Ia tidak membela diri, ia hanya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Kalau saya mampu menahan fitnah, itu semata karena Tuhan," ungkapnya.

Masalah uang juga jadi tantangan tersendiri bagi dokter Karuniawan Parwantono, SpBO, ahli bedah orthopedik di RS PGI Cikini. Waktu itu ia PTT di Pulau Seram, Maluku Tengah. Ada dari Direktorat Kesehatan melakukan inspeksi ke Puskesmasnya. Mereka melakukan audit. "Tapi saya tidak memberikan uang sepeserpun," tukasnya. Karena itu laporan dibuat kacau oleh mereka. Ia pun dipanggil Kakanwil. Ia menjelaskan semuanya dan kemudian dicek. "Terbukti tidak ada kecurangan. Sempat kesal juga dipermainkan seperti itu," sambungnya terus terang pada Luther dari Samaritan. Bagi ayah empat anak ini, meminimalkan konflik bukan berarti kompromi.

Bukan itu saja pengalaman ber-PTT yang dirasanya sebagai tantangan, tapi juga bagaimana mesti bisa menerima program yang tidak jalan, bahkan mengalami ketidakcocokan padahal ia ingin menerapkan program Depkes. "Banyak memang pengalaman yang saya dapatkan di sana. Saya pernah mendoakan seorang ibu yang kesurupan. Waktu itu saya ingat hanya cerita di Alkitab, bagaimana Yesus menyembuhkan. Saya melakukan, dan ibu itu sembuh," ceritanya.

Kalau ia bisa menerima semua pengalaman itu dengan tetap memiliki idealisme, kata Kurniawan, itu karena nilai-nilai kebenaran yang didapatnya sewaktu ikut persekutuan semasa ia mahasiswa di FK-UI. Sejak mahasiswa ia mengaku, selalu mengandalkan Tuhan, meskipun teman-temannya banyak mengandalkan kemampuannya sendiri. Persekutuannya dengan Tuhan itulah yang dirasanya menjadi bekal ketika ia harus ber-PTT di tempat yang terpencil.

Memegang Prinsip
Bahwa bekal pembinaan semasa mahasiswa menjadi semacam obat agar tidak tergelincir dalam tantangan iman, bukan hanya berlaku kala seorang dokter ber-PTT. Karena ujian iman akan terus berlangsung. Juga saat tengah mengambil spesialis. Ini yang dirasakan Yusak. Saat menempuh ujian banyak rekan-rekannya yang menjiplak literatur penelitian. "Kadang senior punya kebiasaan jelek. Kalau punya nilai-nilai bagus, dicibir. Saya bisa memahami hal ini, itu mereka lakukan bukan karena membenci hanya karena mereka tertinggal saja." ia mencoba arif.


Dengan menjadi dokter , tantangan iman dalam bentuk lain akan muncul. Yusak bercerita kalau ia pernah didatangi pasien untuk menggugurkan kandungan sambil menangis. Perempuan itu masih muda, ia datang dengan lelaki paruh baya. Mereka mengaku paman dan keponakan.  Menurut kedua orang itu, mereka akan dibunuh kalau orangtuanya tahu bahwa anaknya hamil. "Jadi mereka minta saya menggugurkan kandungan perempuan itu. Saya sempat bingung. Mereka juga menawarkan duit yang banyak. Lantas saya bilang dari segi etika Kristen tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dan dari segi medis juga dilarang!" tegasnya menolak.

Memasuki dunia kerja diakui Yusak modalnya hanya iman dan komitmen. Di kalangan teman seprofesi yang tidak seiman iapun kadang mengalami beda pendapat. Tapi ia tetap memegang prinsip. Prinsip yang dipegannya adalah, dokter harus mau terjun ke lapangan agar dihargai masyarakat. Dokter harus bisa mencerminkan teladan. "Di daerah PTT, dokter lebih cepat didengar dari pendeta," pendapatnya lagi.

Memegang prinsip juga terdengar dari lontaran pendapat Karuniawan. Baginya profesinya sebagai dokter hanyalah alat. "Upayakan melalui kesembuhan seseorang dapat mengenal Dia," tegasnya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya. Di samping itu, masih katanya. Kita harus percaya kehidupan ini dipelihara oleh uhan. Itu diamininya makanya ia tidak takut pada masa depannya termasuk keluarganya, sebab Tuhan yang urus. "Tuhan lebih pintar dari kita!", tandasnya.


Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi No. 4 Tahun 2003

Senin, 01 Desember 2014

Yesus Sayang ODHA




Lukas 5 : 12-16
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata : "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.


Setahun lamanya saya dan pendeta melayani komunitas orang kustatanpa bekal wawasan medis, dan saya tertular. Itu baru saya sadari saat kuliah dan tinggal di asrama. Dokter menjamin penyakit ini bisa dikondisikan tidak menular, bahkan mudah disembuhkan. Namun, karena stigma negatif dari penderitanya belum banyak berubah, bapak asrama yang bijaksana setuju saya menjalani pengobatan secara rahasia.



Tindakan Yesus menyembuhkan pengidap kusta dalam bacaan hari ini sungguh di luar dugaan. Dia menyentuh orang itu (ayat 13). Mengagetkan, sebab itu melanggar hukum agama dan berisiko menularkan penyakit. Penderita kusta dalam budaya Yahudi ada dalam kondisi tidak tahir-mengidap dosa. Bukan hanya kesembuhan, Yesus juga "menularkan kesejukan" bagi jiwa yang telah lama merindukan kasih dan penerimaan melalui sentuhan-Nya. Perintah Yesus agar orang itu menghadap para imam (ayat 14) adalah supaya kesembuhannya mendapat pengesahan hukum dan haknya untuk mendapat penerimaan dalam masyarakat kembali dipulihkan.


Hari ini para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) banyak mengalami kepahitan seperti yang dialami penderita kusta abad pertama : sulit sembuh dan terkucilkan. mereka perlu menerima kabar anugerah bahwa Tuhan menerima dan mengasihi mereka. Sebab, kematian Kristus bukan hanya untuk suku tertentu, kewarganegaraan tertentu, profesi tertentu tapi untuk semua orang. Dalam Yohanes 3 : 16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kasih-Nya juga berlaku untuk ODHA. Berita baiknya, sentuhan jabat tangan dan pelukan hangat-bukanlah media penularan dan dapat menjadi salah satu ekspresi kasih yang bisa kita berikan. Di hari AIDS sedunia ini, mari bersama berdoa agar anak-anak Tuhan dimampukan mengasihi para penderita AIDS dengan kasih Kristus, dan dengan hikmat Tuhan, usaha-usaha dunia medis dapat menerapkan terapi yang efektif bagi ODHA



Ada mujizat sederhana yang dirindukan ODHA :
Sentuhan kasih dan penerimaan






Dikutip dari :
Renungan Harian Edisi Tahunan 5

Senin, 24 November 2014

Persembahan Tubuh Parameter Persembahan Hati

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai penderitaan (1 Petrus 1 : 6)


Panggilan untuk menderita merupakan salah satu panggilan religius yang bersifat universal. Di dalam banyak agama dan kepercayaan umumnya terdapat panggilan yang berkaitan dengan penderitaan. Bahkan terdapat bentuk-bentuk penderitaan yang ekstrim serta menyiksa diri, mengasingkan diri, bahkan bunuh diri. Di beberapa sekte Kristen pun dapat penafsiran bentuk penderitaan secara jasmaniah seperti yang kita lihat di Filipina, yaitu penyaliban. Juga didapatkan penderitaan-penderitaan lain seperti puasa, pantang makanan tertentu, pencambukkan, dan lain-lain. Semua ini memiliki tujuan yang universal yaitu keselamatan jiwa atau pemurnian hati nurani.


Di beberapa agama dan kepercayaan bahkan meyakini bahwa penderitaan berguna untuk dapat melihat kehidupan supranatural atau mendapatkan kekuatan-kekuatan supranatural. Tidak heran bila ada pejabat atau pengusaha yang rela pergi berendam di sungai atau mengorbankan anaknya agar jabatan atau usahanya sukses. Di dalam dunia kedokteran pun seringkali kita menemui pasien yang bertanya : apakah ada makanan atau kegiatan yang dilarang agar ia cepat sembuh. Umumnya orang awam beranggapan bahwa obat pahit, pantangan makanan tertentu dan semakin banyak larangan dari dokter akan mempercepat penyembuhannya. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan pemikiran umum tentang penderitaan. Orang bersedia menderita untuk mendapatkan sesuatu : kesembuha, kekayaan, kekuatan, keselamatan, dll.

Di dalam Kekristenan pun didapatkan panggilan untuk menderita. Panggilan ini merupakan salah satu bukti penghayatan iman kita pada Tuhan Yesus Kristus. Walaupun demikian, konsep yang mendasari penderitaan setiap orang Kristen sangat berbeda dengan agama-agama yang lain. Di dalam surat Petrus ini jelas tertulis bahwa penderitaan bukanlah upaya untuk mendapatkan keselamatan jiwa atau kedamaian, karena keselamatan jiwa itu sudah dianugerahkan Allah. Penderitaan merupakan fakta dan konsekuensi mengikut Kristus. Lebih lanjut, rasul Petrus menegaskan bahwa penderitaan itu bertujuan untuk memurnikan iman kita, bahwasannya kita bukan orang Kristen sembarangan, yang hanya mau mengecap berkat Allah tetapi menolak penderitaan.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita pun perlu menderita? Jawabnya adalah ya, tanpa kecuali. Sungguh aneh bilamana seorang Kristen tidak pernah merasakan penderitaan. Hal itu menandakan bahwa anugerah keselamatan yang diberikan Allah belum menyentuh lubuk hatinya yang terdalam. Keselamatan itu baru sampai di bibirnya melalui pengakuan lidah dan baru diwujudkan dalamibadah mingguan, persekutuan doa, pemahaman alkitab atau puji-pujian belaka. Bagaimana mungkin seorang Kristen tidak merasakan penderitaan di tengah penderitaan umat manusia yang amat dahsyat sekarang ini.

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi keluarga seorang pasien yang meninggal karena komplikasi kehamilannya. Pasien ini memiliki seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 tahun. Saat saya bertemu dengan anaknya ini, ia sedang bermain dengan penuh keceriaan dengan anak-anak sebayanya. Saya menyapanya dan ketika melihat matanya, hati saya diliputi kesedihan yang luar biasa. Ya Tuhan, anak sekecil ini sudah dihadapkan pada penderitaan yang besar, yaitu ditinggal ibunya. Masa-masa cerianya bersama ibu yang dikasihi dan mengasihi lenyap. Bila setiap malam ia dapat menikmati kehangatan kasih ibunya, sekarang ini cuma ilusi. Bila ia sedang sedih, ketakutan, sendirian atau perlu dekapan ibu, ia hanya bisa menangis dan tidak mendapatkan pengganti yang sepadan. Penderitaan anak ini menyadarkan saya bahwa penderitaan umat manusia ada dimana-mana. Penderitaan itu kadang-kadang menyakitkan hati.

Pada saat kita mengendarai mobil, yang didalamnya sejuk dan dihibur oleh alunan lagu rohani yang amat indah, di saat yang sama pula ada banyak orang di sekeliling kita yang hidup dalam kesusahan. Anak-anak kecil yang seharusnya sedang bermanja-manja dengan orang tuanya atau bersekolah harus menerima kenyataan bahwa ia harus mencari uang untuk makan. Banyak remaja dan pemuda yang menatap masa depan yang kosong karena saat ini mereka harus mengisi hari-hari dengan kehampaan. Api semangat yang seharusnya membara dalam diri pemuda sudah padam. Buluh itu sudah terkulai. Ia tidak berani menatap datangnya matahari karena sinarnya akan lebih menyakitkan. Fajar yang datang bukanlah harapan tetapi siksaan.

Bila kita pergi ke daerah-daerah Kristen di Indonesia, seperti Irian Jaya, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan lain-lain, maka kita menyadari bahwa mereka penuh dengan penderitaan. Bukan hanya penderitaan fisik, tetapi yang lebih menyedihkan adalah kemiskinan rohani. Kemiskinan rohani inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen yang tidak hidup dalam iman yang benar dan semakin memperberat kemiskinan jasmani. Banyak pula hamba-hamba Tuhan yang terhimpit hidupnya dengan kemiskinan sehingga akhirnya mereka tidak dapat hidup layak, tidak dapat menyekolahkan anaknya dengan tuntas, tidak dapat menyenangkan istri dan anaknya saat Natal dengan membelikan baju baru, bahkan tidak dapat menyampaikna firman Tuhan dengan baik karena perut kosong. Saya mengenal seorang hamba Tuhan di Irian Jaya, yang saat ini sedang belajar theologia, yang untuk mencukupi kebutuhannya, ia harus bekerja menjadi kuli di pasar atau buruh bangunan. Saya amat menghargai hidupnya dan menganggap dirinya sebagai teladan Kristus yang mulia. Dari penderitaannya, saya belajar mengenal kasih Kristus lebih dalam, mengenal anugerah keselamatan lebih baik dan menyadari bahwa saya tidak dapat hidup dalam kemewahan dunia sedangkan banyak orang Kristen lain yang menderita. 

Pertanyaan selanjutnya : bagaimana kita harus menderita? Apakah kita harus mengalami penderitaan secara jasmani atau secara nyata pula dalam hidup sehari-hari? Apakah kita harus membuang kekayaan dan hidup menderita seperti orang-orang lain. Jawabnya ya dan tidak. Wactman Nee dalam bukunya 'Persembahan dalam Roma 12' menekankan pentingnya persembahan tubuh sebagai bukti penghayatan kita akan kemurahan Allah, dan hanya orang yang sudah merasakan belas kasihan Allah yang dapat mempersembahkan tubuhnya. Persembahan tubuh itu bersifat konkrit, sedangkan persembahan hati amatlah abstrak. Parameter persembahan hati adalah persembahan tubuh. Terdapat 3 aspek persembahan tubuh yaitu : waktu, harta dan tenaga. Dalam konteks penderitaan, kita pun harus berpartisipasi secara aktif. Tidak hanya 'tergerak, terenyuh, prihatin', tetapi kita pun harus terlibat di dalamnya.

Pada akhirnya, sebagai seorang dokter/dokter gigi Kristen, kitaharus menyadari bahwa kasih Allah yang besar terhadap diri kita, bahwasannya Allah memperkenankan kita untuk bekerja dalam profesi ini, adalah agar kita pun menjadi berkat bagi sesama kita. Penderitaan mungkin merupakan kenyataan yang tiap kali kita jumpai dan saat ini perlu kita kaji ulang : apakah kita sudah menderita bagi Kristus? Apakah terang Kristus di dalam diri kita sudah dinikmati orang lain?

                                                                                                                        dr. Dodi Hendradi, SpOG

Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi 2/ Mei-Juli 2001
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas