Selasa, 15 Juli 2014

Mengapa Kita Kristen?

Akulah pokok anggur yang benar ... Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku - Yohanes 15 : 1,8

Kita berada di dalam Kristus agar menghasilkan buah. Yesus mengulang konsep ini tujuh kali dalam delapan ayat. Jadi seharusnyalah kita sangat mengerti hal itu. Tapi apa sebenarnya yang Ia maksud?

Ada seorang pemuda, dokter umum yang selama di sekolah sudah aktif dalam Christian Union. Ketika ia menyadari bahwa kepada Yesus secara terbuka di depan umum dapat membuatnya tidak populer, maka ia berdalih bahwa penginjilan bukan karunianya. Ia berkata, "Aku akan menekankan buah Roh saja-kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran" (lihat Gal 5 : 24). Saat ini ia memang dokter yang sangat baik, sayangnya ia tidak dikenal sebagai pengikut Yesus Kristus.

Yohanes 15 menunjukkan bahwa menghasilkan buah bukanlah sesuatu hal yang kita lakukan sendiri, tapi dampak dari luar. Buah Roh ada karena kita tinggal di dalam Kristus, yang berkata, "Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah ..." (ayat 16).
Menghasilkan buah menunjukkan kita menjadi murid-murid-Nya (ay. 8). Cara kita hidup dan berbicara akan menunjukkan bahwa kita berserah kepada Tuhan Yesus. Bagaimanapun, inilah tujuan dari penciptaan, "mempersatukan di dalam Krsitus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi" (Ef 1 : 10)

Bagian terakhir dari Yohanes 15 memperjelas hal itu. Banyak orang akan bereaksi menentang kesetiaan kepada Yesus Kristus yang tanpa kompromi. Seseorang tidak dianiaya karena ia pengasih, bersukacita, atau penyabar. Kita sangat memerlukan Roh Kudus agar kita tetap hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, sesuai dengan kebenaranNya dan bersaksi tentang Tuhan kita, Yesus Kristus secara terbuka kepada orang lain (ay. 27). Mengapa begitu banyak orang melupakan penyerahan diri mereka yang mula-mula kepada Tuhan Yesus semata agar diterima dalam pergaulan, semacam kekristenan yang steril? Marilah kita semua waspada, jangan kita gagal untuk tetap tinggal di dalam Kristus, tidak bersaksi tentang Dia. Tuhan dapat membuang orangm tidak terkecuali para dokter!

Baca : Yohanes 15

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 07 Juli 2014

Kamp Medis Nasional Mahasiswa XIX

Syalom rekan-rekan sejawat, sahabat PMdN dimana pun berada...

Segala pujian, hormat dan kemuliaan bagi Allah yang begitu setia memimpin kami panitia di dalam mempersiapkan kamp ini. Begitu banyak tantangan yang kami lewati, dan Allah telah membuktikan kesempurnaan penyertaanNya kepada pelayanan ini. Tidak terasa kurang dari 1 bulan lagi, Kamp Medis Nasional XIX akan berlangsung. Saat ini peserta yang mendaftar berjumlah 300 orang. Bersyukur untuk antusiasme mahasiswa medis untuk mengikuti KMdN. Mari berdoa :
1. Persiapan peserta KMdN dalam membaca & PA pribadi dari kitab 2 Timotius, juga kesehatan mereka
2. Persiapan dan kesehatan pembicara ditengah-tengah jadwal mereka yang cukup padat.
3. Tempat pelaksanaan KMdN yaitu wisma BITDEC
4. Panitia tetap bersatu hati dalam mempersiapkan setiap acara di KMdN ini, kesehatan dan manajemen studi dan pekerjaan mereka.
5. Kebutuhan dana sekitar Rp. 100.000.000,-, Tuhan yang cukupkan melalui anak-anakNya yang telah disharingkan.


Terima kasih rekan-rekan sejawat, sahabat PMdN yang terkasih.
Tuhan Yesus memberkati.

Tuhan yang Mempersatukan Segala Perbedaan

Peserta MMC IX (kiri-kanan)
dr. Alsapan Thengkano (Makassar), dr. Max Nathanael (Bandung),
dr. Renny Marlina Toreh (Manado), drg. Nikke Damesti (Jakarta),
drg. Kristina Silaban (Medan), drg. Rachel Emteta (Jakarta),
drg. Rani Dwicahyani Putri (Jakarta), drg. Marisa Thimang (Jakarta),
dr. Priska Gunadi (Jakarta), dr. Ishak Mangili (Bandung)

Satukan kami dan perlengkapi,
membangun K'rajaan-Mu,
agar tak goyah s'gala perjuangan 
meski badai k'ras mend'ru.
Satukan kami dan perlengkapi, 
hidup melayani-Mu,
Berp'rang! Berjuang! Dengan hati teguh
hidup demi 
Kasih-Mu Kristus…

Lagu ini menjadi lagu pengantar kami memasuki minggu-minggu bersama di Medical Mission Course (MMC). Sepuluh orang dari berbagai pulau yang berbeda bertemu dan dipersatukan untuk
diperlengkapi menjadi laskar Kristus yang siap diutus. MMC adalah pelatihan misi bagi kaum medis
yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Satu minggu pertama dilaksanakan di OMF Jakarta dilanjutkan dengan sepuluh minggu berikutnya di RSU Bethesda Serukam Kalimantan Barat. MMC yang kami ikuti merupakan angkatan kesembilan, sedikit berbeda dari angkatan sebelumnya, karena diikuti oleh lima dokter umum dan lima dokter gigi dimana pada angkatan sebelumnya mayoritas peserta adalah dokter umum. Dalam pelatihan ini kami tidak hanya belajar mengenai hal spiritual, melainkan juga diperlengkapi dalam skill medis, pengenalan diri, dan teamwork.

Dari minggu ke minggu, kami dibukakan mengenai konsep misi yang lebih luas selaras dengan pentingnya membangun relasi yang lebih dalam dengan Tuhan. Misi dapat dimulai dari mana saja, kemana saja, dan dapat berperan dalam bentuk apa saja baik sebagai mobilisator, pengutus, maupun yang diutus. Selain dari sesi-sesi yang membahas mengenai kerohanian, kami juga mendapat inspirasi dari pengalaman hidup para dokter senior yang bermisi. Pengalaman hidup yang
mereka bagikan membuat kami menyadari bahwa pimpinan Tuhan selalu ada dan unik bagi setiap orang.Setelah begitu banyak hal yang kami terima, setiap minggu kami diberi waktu untuk berdiam sejenak dan memprosesnya secara pribadi bersama Tuhan di dalam pause and pondering. Masing-masing dari kami juga diberikan mentor untuk membantu di dalam pertumbuhan rohani, pengenalan diri, dan mengarahkan dalam pergumulan rencana hidup ke depan. 

Sebagai satu tim, kami juga dibiasakan untuk memulai hari dengan bersekutu dan membahas Saat Teduh. Kami merasa semakin diperkaya di dalam pengenalan akan Firman Tuhan dan aplikasinya secara pribadi di dalam hidup kami. Sejalan dengan semua pengembangan rohani yang didapatkan selama MMC, kami juga diberi tanggung jawab untuk membagikannya setiap minggu dalam pelayanan di desa binaan sekitar Serukam. Kami dibagi menjadi dua tim yang melayani di dua gereja berbeda dan terlibat dalam pelayanan anak, remaja, dan umum.

Kami juga belajar skill medis. Karena jumlah peserta dokter gigi dan dokter umum seimbang, maka program medis pun terbagi sesuai profesi masing-masing yang dibawakan oleh dokter dari dalam maupun luar negeri sesuai bidang keilmuan mereka. Dalam program dokter umum, kami tidak
hanya disegarkan kembali melalui materimateri kedokteran, tetapi kami juga mendapatkan hal-hal baru yang sangat aplikatif dalam penanganan pasien, misalnya saja cara penggunaan ventilator,
penanganan trauma yang lebih detail, praktek menggunakan alat USG, dan masih banyak hal lainnya. Disini, kami juga melakukan bed side teaching bersama konsulen rumah sakit dimana kami dapat belajar cara berkomunikasi dengan pasien, merawat dan lebih memerdulikan keluhan pasien, serta mendoakan pergumulan pasien dan keluarga.

Sedikit berbeda dari dokter umum, program dokter gigi adalah program yang baru. Namun, kami sangat bersyukur karena setiap minggu Tuhan menyediakan pembicara dokter gigi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang mau membagi ilmu dan pengalaman mereka kepada kami. Kami mendapatkan penyegaran ilmu kedokteran gigi maupun ilmu praktis yang sangat berguna bagi kami dalam situasi pedesaan atau perkotaan, rumah sakit
ataupun klinik.


Kami pun banyak diberi kesempatan untuk menerapkannya dalam bentuk dental outreach promotif di beberapa sekolah dasar sekitar Serukam dan melakukan tindakan kuratif pada saat live in.

Dalam MMC ini, kami melakukan live in di tiga desa yang berbeda. Bersyukur, mendapat kesempatan untuk live in lebih banyak dibandingkan angkatan-angkatan sebelumnya. Desa pertama yang kami
kunjungi adalah desa Sukadana, tepatnya di Klinik ASRI. Di sini, kami belajar mengenai pelayanan kesehatan yang sejalan dengan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat. Kami diberi kesempatan untuk mengikuti setiap kegiatan inovatif di Klinik ASRI, seperti mengunjungi masyarakat tani atau sahabat hutan, mengenal program kambing untuk janda, dan program ASRI Kids yang bertujuan menanamkan pentingnya pelestarian alam sejak dini. Live in kali ini ditutup dengan program dental outreach, yaitu memberi penyuluhan dan pengobatan gigi kepada masyarakat pantai yang tergolong warga terpinggirkan di Sukadana.
Desa kedua yang kami kunjungi, Nanga Baram. Di sana kami bertugas di klinik binaan RSUB Serukam dan terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim dokter umum dan dokter gigi. Tim dokter umum melakukan survei kepada masyarakat mengenai kondisi kesehatan, pertumbuhan rohani dan pergumulan masyarakat sekitar serta survei tentang kinerja klinik Nanga Baram, selain itu juga dilakukan penyuluhan kesehatan dan pelayanan pengobatan karena tidak ada dokter tetap yang melayani di sana.

Di lain pihak, tim dokter gigi melakukan program penyuluhan dan screening di beberapa sekolah dasar untuk melihat tingkat keparahan gigi berlubang, selain itu dilakukan juga penyuluhan orang tua dan pelayanan pengobatan sederhana seperti cabut gigi atau pembersihan karang gigi di klinik. Melalui live in di sini, kami belajar kreatif dalam memberikan perawatan yang terbaik dengan kondisi terbatas, belajar bekerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat saat melakukan survei, dan semakin membangun kepercayaan dengan
sesama anggota tim.

Desa terakhir yang kami kunjungi, Desa Tengon, dan ini adalah puncak dari seluruh kegiatan MMC, karena di sini kami didoronguntuk mengaplikasikan apa yang telah kami dapatkan, baik dari segi rohani, medis,
maupun kerjasama tim. Medan perjalanan yang kami hadapi menuju Tengon cukuplah berat. Karena letaknya yang terpencil, kami harus melewati jalan tanah yang berbatubatu, berliku-liku, naik turun, licin,serta
harus menyeberangi sungai-sungai kecil menggunakan mobil dan motor. Pelayanan yang kami lakukan
dalam setiap tim tidak jauh berbeda, diantaranya ada pelayanan medis berupa penyuluhan kesehatan gigi dan pencabutan gigi, penyuluhan hidup bersih, penyuluhan keluarga berencana, pelayanan anak, pelayanan jumat agung, dan kunjungan rumah untuk mendoakan pergumulan setiap keluarga. Sebagai puncaknya, semua tim
berkumpul di satu dusun untuk mengadakan KKR Paskah yang terlebih dahulu diawali dengan kerja bakti membersihkan gereja. 

Kami merasakan penyertaan Tuhan dalam perjalanan dan pelayanan kami disana. Adanya dukungan doa dan penyerahan diri kepada Tuhan membuat segala kekhawatiran yang kami takutkan, seperti saat menempuh perjalanan, kesehatan, dan adanya potensi konflik dalam tim menjadi tidak terbukti karena Tuhan
selalu menyatakan janji penyertaan-Nya.

Tiga bulan yang sudah dilewati bersama merupakan kairos yang Tuhan berikan dalam hidup kami. Sungguh bersyukur kepada Tuhan kami dapat dipersatukan dan beroleh anugerah untuk mengerjakan misi Allah bagi
dunia. Kami menyadari keterbatasan kami, tetapi kami percaya bahwa Allah yang akan selalu menyatakan penyertaan-Nya kemana pun nantinya kami diutus. Kami pun ingin berterima kasih kepada setiap orang yang
telah mendukung dan mendoakan, setiap pembicara yang sudah memberkati kami melalui materi yang dibagikan, dan segenap panitia yang sudah bekerja keras di dalam MMC ini. Kami tidak dapat membalas setiap jerih lelah yang telah diberikan, namun kami yakin bahwa Tuhan akan membalas dengan berkat-Nya yang melimpah. Kami terus berdoa dan memohon dukungan doa dari segenap pembaca agar kami dapat taat dan setia dalam mengerjakan panggilan-Nya. Soli Deo Gloria!

Salam dalam kasihNya,
Peserta MMC IX

Keahlian Tuhan dalam Penyediaan

Allah yang menyediakan ... - Kejadian 22 : 8

Tuhan tahu apa saja kebutuhan kita, dan meskipun upahku kecil, Ia telah memenuhi kebutuhanku. Suatu ketika aku harus pindah ke tempat tugas lain. Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk menyewa sebuah kamar. Kebanyakan sewa kamar lebih besar daripada uang yang kumiliki. Tapi ketika aku sedang mencari-cari, seorang pengusaha Kristen menawarkan sebuah kamar dengan cuma-cuma termasuk makanan. Dan aku diperlakukan seperti anggota keluarga.

Pada kesempatan lainnya, seorang pengusaha Kristen meminjamkan kepada kami sebuah rumah di pusat kota, tanpa bayaran sama sekali. Rumah ini akhirnya menjadi rumah misi kesehatan, dimana para dokter dapat berbagi dan menguatkan satu sama lain.  Akujuga menggunakan rumah itu sebagai tempat pelatihan bagi para dokter muda. Tuhan telah memanggilku untuk melatih mereka tanpa memungut biaya. Beberapa diantara merekaakan dikirim ke daerah-daerah terpencil, dan aku tahu apa yang akan mereka hadapi di tempat seperti itu.

Suatu ketika, saat aku tidak punya tugas khusus dan pada saat bersamaan sangat membutuhkan dana agar dapat menghadiri konferensi regional ICDMA, secara tak terguda aku diminta untuk menggantikan tugas seorang dokter yang sedang cuti. Dari tugas ini akhirnya aku mendapatkan uang yang kubutuhkan. Biaya mengurus visa dan transportasi pun terpenuhi secara luar biasa pada waktuyang tepat. Indah sekali!

Terkadang aku berpikir untuk mendapatkan uang dengan cara yang mudah, misalnya bergabung dengan suatu rumah sakit swasta atau perusahaan, tapi jawaban Tuhan sampai saat ini yaitu berbakti di kalangan pemerintah. Aku mengerti mengapa banyak orang Kristen lebih suka buka praktik pribadi, karena sangat sulit untuk bekerja dengan dedikasi dan integritas yang tinggi dengan upah pemerintah semata. Tapi, jika tujuan kita hanya untuk memperoleh penghasilan besar, maka kita dapat melupakan rencana Tuhan bagi hidup dan karier kita. Kenyataannya, dengan bekerja keras dan menunggu pimpinan Tuhan, akhirnya aku dipromosikan ke sebuah jabatan tinggi di bidang pekerjaan yang disukai. Kelihatannya hal ini tidak akan mungkin terjadi, tapi rencana-rencan-Nya sangat cemerlang! Dialah Penyedia segala kebutuhanku. (Anonim)

Baca : Mazmur 46; Filipi 4 : 19

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Kamis, 03 Juli 2014

HIKMAT

Walaupun ia sangat cerdas, Salomo sadar ia tidak berhikmat. Pengetahuan duniawi menilai apa yang terlihat, tapi hikmat menilainya dengan lebih bijak (1 Raj 3 : 16-28). Perkara hidup dan mati, menyeimbangkan neraca, adalah dilema-dilema yang menimbulkan kesulitan bagi para praktisi medis. Merujuk kepada Alkitab, Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip praktis, tapi untuk menerapkannya dibutuhkan hikmat.

Setiap kali aku melihat bayi yang baru lahir menatap wajah orangtuanya atau, mendengar pembicaraan pehun kasih melalui telep
on untuk terakhir kalinya, dari pasien yang sekarat, aku diingatkan kembali sesungguhnya kita diciptakan dalam citra Allah Tritunggal (Kej 1 : 26-27). Keterkaitan yang kuat antara Pribadi yang satu dengan yang lain adalah bagian penting dari keutuhan diri kita. Karena takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan, dan hikmat datang daripadaNya, adalah bijak untuk menghormati citra diriNya diantara kita (Ams 1:7; 2:6). Pertimbangan kita selanjutnya adalah kebutuhan pribadi (juga kebutuhan jasmani) orang lain, serta selalu ingat akan hubungan pribadi antar mereka sebagaimana juga hubungan kita dengan mereka (Mat 22 : 37-39). Hal ini bisa menjadi faktor yang menentukan ketika benar dan salahnya sesuatu terlihat seimbang, sekalipun keputusan tersebut bisa bertentangan dengan norma-norma dalam masyarakat.

Konseling antenatal, perawatan kepada pasien yang sekarat dan keluwesan dalam jadwal mengunjungi pasien, adalah sebagian dari (bukannya mengabaikan) hubungan yang kreatif, yang secara radikal dapat mengubah kebiasaan yang telah lama diterima orang. Allah kita telah membayar harga yang sangat mahal untuk memulihkan hubungan yang hancur antara manusia dan Tuhan. Demikian juga upaya mempraktikkan polaNya mungkin akan menuntut harga yang sangat mahal (Mat 16 : 24,25). Tapi sebagaimana kebangkitan terjadi setelah penyaliban, maka pada waktuNya, setiap salib yang kita pikul untuk Dia dapat diberdayakan oleh Roh Kudus menjadi cara berpikir baru, bahkan terkadang menular. Contohnya para pionir Kristen dalam pergerakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada pasien yang sulit diesmbuhkan. Kepekaan mereka sekarang lebih dihargai secara meluas. Apapun bidang medis kita, kita ditawarkan untuk memiliki pikiran Kristus (1 Kor 2 : 16). Pertimbangkan dan (lakukanlah) hal itu! JGo

Senin, 16 Juni 2014

Kristus adalah Langkah Awalnya

Sebetulnya latar belakang keluarga saya bukan Kristen. Tapi, anak tetangga teman bermain saya adalah Kristen 'Napas' dan tante saya seorang Katolik yang taat. Jadi, sejak kecil saya sudah mulai terpapar dengan kekristenan meskipun tidak rutin ke gereja. Hanya pada Natal, Paskah atau diajak tetangga pada hari minggu ketika saya menginap di rumah tante.

Saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus melalui suatu Seminar Hidup Baru oleh Roh (SHBR) yang diadakan oleh salah satu persekutuan doa Katolik 1986. Sejak saat itu kerinduan untuk mnegenal Kristus begitu menggebu-gebu. Memang betul apa yang tertulis dalam firman Tuhan bahwa jika satu orang diselamatkan, seisi rumah akan diselamatkan (Kis 16 : 31) Tidak lama setelah itu, suami saya, drg. Max Leepel mengalami hidup baru disusul anak-anak kami. Kami begitu haus untuk mengenal Tuhan Yesus. Benar-benar jatuh cinta dan rindu setiap orang juga mengalami keselamatan cuma-cuma seperti yang telah kami peroleh. Hampir tidak ada kegiatan rohani yang mereka lewatkan.

Beberapa persekutuan doa di FKG UI maupun di gereja tempat kami tertanam merupakan ladang pelayanan mereka. Sekali-sekali kami melakukan pelayanan firman di FKG, pengarajan di SOM (Sekolah Orientasi Mengajar), GBI Sungai Yordan atau seminar PAIS (Pasangan Istri-Suami) di gereja yang sama bahkan bersama tim gereja, beberapa kali kami ikut pelayanan misi di pedalaman Kalbar, Ambon, P. Buru. Di gereja lokal, pelayanan rutin yang saat ini adalah di kelompok sel, kebaktian umum, pengajar SPT (Saya Pengikut Tuhan) dan tim konseling.

Bagi kami, waktu dan keuangan kadang-kadang merupakan kendala yang tidak begitu berarti. Semua tergantung pada pandai-pandainya kami menyiasati. Prinsip yang kami pegang dalam pelayanan :
1. Mengalir ikut pimpinan Tuhan, tidak mengandalkan kekuatan sendiri (Yer 17 : 5)
2. Setia pada perkara kecil (Mat 25 : 21)
3. Lakukan segala sesuatu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol 3 : 23)
4. Taat dan tunduk pada otoritas
5. Senantiasa bersyukur dengan apa yang ada (Ibrani 13 : 5)
6. Saling terbuka dan bersedia mengampuni (Mat 6 : 12)
7. Bersedia dikoreksi

Keteladanan, pendekatan pribadi, perhatian dan pemuridan tentu merupakan hal yang menentukan keberhasilan dalam membina generasi penerus kelompok kecil/kelompok sel. Saya kira kelompok kecil merupakan sarana penting untuk mengetahui talenta tiap-tiap anggota. Pemuridan yang paling efektif adalah seperti yang Yesus lakukan. Beri teladan, pantau terus, selesaikan setiap masalah secara terbuka dan jaga setiap kawanan (relasi). Setiap pelayanan baru harus tahu dasar kekristenan dengan benar supaya dapat bertumbuh dengan baik (bebas dosa). Selama Tuhan berkenan beri kesempatan untuk menyebarluaskan misi medis di Indonesia, maka utamakan Tuhan dalam setiap rencana dan berusaha hidup dalam kebenaran.


Laksmi A. Leepel
(Mission Possible)



Senin, 09 Juni 2014

Sebuah Ayat Emas untuk Dilakukan

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu : selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?-Mikha 6 : 8

Setelah lulus dari sekolah kedokteran, dan berdoa agar Tuhan menolongku untuk menjadi seorang dokter yang baik, aku menemukan ayat ini dan memutuskan untuk menjadikannya pedoman pribadiku. Bahasa perasaan yang kupakai adalah bahasa Thailand, yang menerjemahkan ungkapan "hai manusia" dengan suatu istilah yang hangat dan penuh perasaan. Ayat ini menyatakan tanggung jawab yang unik dan hak istimewa kita, bukan saja dalam hubungan kita dengan sesama tetapi juga dengan Tuhan, Allah pencipta langit dan bumi.

Dua tuntutan pertama, adil dan setia, menyangkut hubungan kita dengan sesama. Bagaikan sepasang tangan, yang satu bicara tentang ketulusan dan kejujuran, yang lain tentang sikap hati kita terhadap sesama. "Mencintai kesetiaan" adalah ungkapan ibrani yang paling sering dipakai untuk melukiskan kebaikan hati Allah. Kita memerlukan kasih agape ini untuk memelihara hubungan kita dengan sesama. Kemarahan dan niat baik manusia saja tidak cukup. Seringkali kita tidak seimbang. Kadang-kadang kita mengatakan kebenaran tanpa kasih, atau atas nama kasih kita enggan memperhadapkan masalah dengan kebenaran. Hanya dalam Tuhan Yesus Kristuslah manusia dipenuhi oleh anugerah dan kebenaran dimana kedua hal ini seimbang dengan sempurna (Yoh 1 : 14).

Bagian terakhir dari ayat ini berkaitan dengan hidup kita sehari-hari bersama Tuhan. Dalam kehidupan profesional kita, kita didorong untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang percaya diri dan tegas. Namun jalan Tuhan selalu melalui kerendahan hati. Ia menghargai orang yang tertindas dan patah semangat, yang gentar terhadap Firman-Nya (Yes 66 : 2).

Meskipun sering gagal, aku terus mencoba melakukan Mikha 6 : 8. Apa yang paling penting bagi anda? Mobil? Gelar? Nama baik? Ataukah mengasihi Allah dalam pikiran, tindakan dan perkataan?
Bersediakah anda juga berpegang dan berjalan dengannya, serta melakukannya?
Baca : Filipi 2 : 1-11; Mazmur 15

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 02 Juni 2014

Segala Sesuatu yang Tidak Kamu Lakukan

Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. - Matius 25 : 45

Tiga tahun yang lalu, kami mengadakan tiga kali perjalanan ke Brasil, mengunjungi anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar berusia di bawah 10 tahun dan mengidap virus HIV/AIDS. Anak-anak itu sedang menghadapi ajal karena hal yang tidak dapat mereka kendalikan. Mereka dirawat sekelompok pemuda usia 20-40 tahun dari organisasi pemuda internasional, yang mengabdikan diri untuk mempersiapkan anak-anak kecil itu siap "pulang ke surga"

Tentu ada banyak sukacita surgawiterpancar dalam kegembiraanyang dialami anak-anak itu, khususnya ketika Brasil mencetak gol dalam pertandingan Piala Dunia. Sayangnya, banyak orang yang tinggal di sekitar mereka berjuang sekuat tenaga mencegah agar Casa Refugio (rumah perawatan anak-anak korban AIDS ini) tidak didirikan.

Anak-anak muda itu betul-betul dipenuhi Roh Kudus ketika mereka mengasihi anak-anak kecil itu bahkan sampai maut datang menjemput. Masing-masing bersedia bertanggung jawab khusus untuk satu atau dua anak. Dan ketika seorang dari antara anak-anak itu meninggal, meeka akan merawat yang lainnya, setelah duka cita mereka reda.

Kita tidak boleh mengabaikan perkataan Tuhan Yesus di atas, melainkan harus mengingatnya setiap hari. Kenyataan tidak bisa dipungkiri. Kami yang hidup di negara Barat yang makmur, banyak memiliki komitmen tertentu kepada agama Kristen. Walau populasi kami kurang dari 20, namun dengan serakah kami menggunakan 80% sumber daya alam milik Tuhan ini. Bukan hanya itu. Tahun demi tahun kami mengurangi bantuannya, sehingga semakin kaya, padahal negara berkembang semakin tenggelam dalam kemiskinan. Apalagi, dari sedikitnya bantuan yang kami berikan, tidak ada yang dikhususkan bagi mereka yang paling miskin-yaitu berkali-kali dikatakan Firman Tuhan kepada kita, menjadi beban di hati Bapa kita di surga.

Mengapa tidak di hati kita? Maka di dunia ini kita menuai panen kebencian sebelum hukuman kekal yang dinubuatkan dalam Kitab Suci. Situasi yang sangat menyedihkan.

Baca : Matius 25 : 31-46




Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis
(The Doctor's Life Support 2)
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas