Kamis, 21 Mei 2015

Pentingnya Pentakosta

Kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus -- Kisah Para Rasul 2 : 38

Pada hari Pentakosta, 50 hari setelah Paskah, Petrus yang dipenuhi oleh Roh Kudus mengajarkan bahwa semua orang percaya harus menerima Roh Kudus sebagai pemberian Tuhan. Kita perlu memiliki kuasa Tuhan di dalam diri kita agar dapat berhasil sebagai orang yang hidup di dalam Tuhan.

Dalam kehidupan profesional kadang-kadang mungkin kita merasa tidak mampu melakukan suatu tugas. Kita merasa kurang terlatih atau kurang berpengalaman namun harus menghadapi suatu tantangan. Mungkin kita berpikir, demi kebaikan si pasien, tindakan terbaik adalah merujuk pasien kita kepada dokter yang lebih ahli. Pada kesempatan lain, kita tidak bisa menghindari tanggung jawab kita, sehingga harus menghadapi situasi itu dengan banyak berdoa. Kita dapat meminta Roh Kudus agar Ia memberi kita hikmat Tuhan, pengertian yang dalam dan kekuatan. Sesungguhnya Ia beserta dengan anda-anda tidak sendirian!

Seseorang pernah berkata, "Iman menghadapi; ketakutan menghindari". Kita, dengan iman harus bersandar teguh pada janji Tuhan yang "memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Tim 1 : 7). Tuntutan atas harapan-harapan pasien, desakan waktu, dan tanggung jawab kerja, rumah dan gereja, siapa yang mampu menangani itu semua sekaligus? Meskipun ada banyak tekanan terhadap dirinya, Rasul Paulus berbicara tentang keadaan dimana ia terus diperbarui dari hari ke hari (2 Kor 4 : 16). Dan berulang kali ia mengalami bahwa anugerah Tuhan itu cukup (2 Kor 12 : 9).

Ia memberi lebih banyak kasih karunia ketika beban-beban semakin besar,
Ia mengirim lebih banyak kekuatan ketika pekerjaan semakin bertambah.
Saat kesusahan semakin bertambah, Ia menambah lebih banyak kemurahan
Saat pencobaan semakin bertubi-tubi, Ia melipatgandakan kedamaian.

Kata-kata di atas diambil dari sebuah lagu tua, namun masih membawa pesan yang tetap bermakna bagi kita sekarang!

Baca : 2 Korintus 4 : 1-18


Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 18 Mei 2015

Months of Emptiness

I was allotted months of emptiness, and nights of misery are apportioned to me - Job 7 : 3


There is not space to relate all the complex circumtances that precipitated it-and they will be different for you in any case. The fact remains that in my final two student years i became increasingly more depressed and unable to cope with life. It was not just a passing phase either; people said it would soon lift but it didn't. And as month followed upon month there seemed no end to the sleeplessness, the aimlessness and the emptiness. The whole of life was breaking up for me.


And where was God in all this? I had been a Christian for some eight years and had always known such joy and fulfilment in life up to this point. Indeed, my Christian commitment was a key factor in my choosing medicine as a carrer and now it seemed that my very future in it was in severe jeopardy.

It was during the second year of this depression that the book of Job became so meaningful to me. It was not that I found there any answers to my questions at the time, but I found such help in the fact that here was someone who was feeling just the same agony, someone with whom i could identify. The knowledge that you are not the only one brings untold release and comfort. G. K. Chesterton puts this so well in The Man who was Thursday : 'There are no words to express the abyss between isolation and having an ally. It may be conceded to the mathematicians that four is twice two, but two is not twice one; two is thousand times one.' And it was this issue of not being alone that eventually proved to be one of the key answers to the question 'Why did you let this happen, Lord?'

Eventually I did get better, and obtained a tremendously satisfying house-job in the Oncology Unit at the hospital where i trained. During this job i saw that God had over the months of my depression, been equipping me to be better able to help others cope with the psychological trauma and suicidal feelings accompanying severe illness.


Paul telss us in his opening paragraphs of 2 Corinthians that God 'comforts us in all our afflictions, so that we may able to comfort those who are in any affliction'. What a privilege then for those who are working each day with the sick and injured. If we look to him, the Lord will cause any experience-no matter how devastating at the time-to be used for ultimate good in our  lives and for the help and enrichment of our patients too.


Lord, thank you that You never cause us needless pain, that it is true that all things work together for good for those who love you. Help us to be patient under the trials that we face, knowing that you do have a purpose in them because your love is constant and everlasting.

Futher reading : Job 7 : 1-10

From : The Doctor's Life Support

Mengapa Mengajar ke Luar Negeri?

Apa yang telah engkau dengar dariku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga pandai mengajar orang lain. - 2 Timotius 2:2

Setelah mengetahui kebutuhan mahasiswa dan alumni kedokteran di negeri kami saat ini dan juga mempertimbangkan promosi praktik kedokteran yang baik sebagai kesaksian iman kita di dalam Kristus, Persekutuan Kristen Albania setuju mengadakan pelatihan selama tiga hari bagi mahasiswa dan dokter setempat.

Bagiku, pelatihan ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tuhan telah memperlihatkan kepadaku kekurangan-kekurangan dalam pendidikan kedokteran yang dapat kami atasi sebagai orang Kristen. Sebagai permulaan pelatihan dilakukan dengan bantuan tenaga ahli dari luar negeri. Kami perlu menolong mahasiswa kedokteran dan para dokter dengan pelatihan mengenai pemeriksaan badan, keterampilan berkomunikasi, diagnosis dan perawatan. Bagi dokter Kristen di Albania pelatihan ini sangat berhasil-baik dari segi memperkenalkan diri maupun menunjukkan bahwa kami mau melayani dokter lain, sehingga mereka dapat melayani pasien mereka dengan lebih baik. Mimpiku sekarang adalah membuat kurikulum pelatihan selama setahun untuk alumni dan sewaktu-waktu mengundang dokter dari luar negeri untuk memberi pengajaran khusus, berdasarkan model praktik dokter yang alkitabiah.

Mengajarkan cara Tuhan akan "kedokteran holistik" meliputi bagaimana mencegah penyakit yang diakibatkan oleh gaya hidup, peduli pada pasien yang sekarat, berbelaskasihan, menghormati kehidupan pribadi dan martabat seseorang dan lain-lain. Menerapkan hal ini dalam praktik akan membuat orang melihat bagaimana keadaannya ketika kita mengikut Tuhan dan mematuhi Firman-Nya (Kel 23:25-26). Lalu mereka dibawa kepada keputusan untuk memilih apakah akan meneruskan hidup tanpa Tuhan atau hidup bersama Dia dan untuk Dia.

Anda yang mampu, tolong pertimbangkan untuk membantu pendidikan kedokteran di negeri yang lebih miskin. Bergabunglah bersama kami, berdoa agar ada pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan di Albania dan bagi kebangkitan dan pembaruan sistem kedokteran kami. Melalui hal itu, seluruh bangsa kami akan belajar mencari wajah Tuhan, dan akan disembuhkan.

Baca :
Kisah Para Rasul 16 : 9, 2 Timotius 3:10 - 4:5


Dikutip dari :
Sumber Hidup Prkatisi Medis


Senin, 04 Mei 2015

Melayani Kristus


Karena Anak Manusia juga datang 
bukan untuk dilayani, 
melainkan untuk melayani 
dan untuk memberikan nyawa-Nya 
menjadi tebusan bagi banyak orang - Markus 10:45




Hak istimewa menuntut tanggung jawab, dan seorang dokter atau dokter gigi yang menjadi Kristen meningkatkan hak istimewa dan tanggung jawabnya itu. Bagaimana kita menghadapi tantangan itu?Pada Kitab Kejadian 1, Allah menyuruh manusia untuk beranak cucu dan menguasai semua yang diciptakan di bumi-pekerjaan yang mengandung kehormatan untuk memenuhi perintah-Nya. Apakah kita, orang Kristen yang adalah dokter atau dokter yang adalah orang Kristen? Jangan kita memisahkan pekerjaan sekular dari tugas Kristen; kehendak Tuhan ialah kita menjadi ahli dalam pekerjaan kita sebagai dokter.


Ilmu pengetahuan dan teknologi modern memberi kita kekuasaan nyaris seperti kuat kuasa Tuhan, tapi ini tidak selalu cukup dalam menghadapi masalah etika, hukum dan masalah sosial. Kemajuan dalam ilmu kedokteran membebankan biaya kesehatan yang sangat mahal, yang kompleksitasnya meningkat dan tergantung pada tim kesehatan profesional. Pasien menghadapi pemeriksaan yang membingungkan dan tidak nyaman, mahal dan kadang berbahaya. Kadang malah tidak perlu seandainya saja sejak awal telah dilakukan diagnosis klinis yang memadai. Pasien yang terlalu banyak, dan hilangnya penghargaan pasien sebagai manusia, dapat merusak hubungan dokter-pasien. Kita dapat memperpanjang hidup tapi kualitasnya berkurang.

Bacaan hari ini relevan dalam situasi sulit seperti itu. Tuhan Yesus menangangani sikap salah murid-murid-Nya, saat mereka berlomba mendapatkan tempat tertinggi di dalam Kerajaan-Nya yang akan datang. Mereka takkan dilayani. Tidak ada tempat bagi kesombongan dan kehormatan dalam kerajaan-Nya. Orang yang inginmenjadi terbesar atau terdahulu harus menjadi pelayan atau hamba. Kerendahhatian adalah sikap mutlak bagi orang Kristen. Murid-murid Kristus dalam kehidupan profesionalnya seharusnya mau berkorban, kehilangan waktu istirahat, tidur, waktu bersama keluarga dan rekreasi. Melayani dan memberi, dengan cara demikian kita mengikuti contoh Tuhan Yesus. Apakah sikap kita benar seperti itu?

Baca : Kejadian 1 : 26-30; Markus 10 : 35-45


Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 27 April 2015

Integritas : Diperlukan Sekali atau Kolot?


Aku telah hidup dalam ketulusan.--Mazmur 26 :1

Kehidupan modern telah banyak sekali menuntut kompromi atau kepurapuraan, di samping godaan untuk menyenangkan semua orang. Bohong kecil-kecilan dalam pergaulan sehari-hari dan tidak mengungkapkan fakta seluruhnya di tempat kerja adalah ungkapan dari ketidakjujuran. Ini mempengaruhi kita semua. Apakah kita selalu jujur dalam kehidupan profesional kita dan jujur terhadap rekan dan pasien kita? Apakah kehidupan pribadi kita seluruhnya transparan? Batu landasan suatu kehidupan perkawinan dan rumah tangga yang stabil bukanlah cinta yang senti mentil atau sensual, melainkan kebenaran dan kesetiaan.

Salah satu pernyataan utama Tuhan Yesus adalah Dia bukan salah satu kebenaran atau disebut sang kebenaran, melainkan penjelmaan Kebenaran itu sendiri. Di dalam Kristus kita mendapat kehidupan-Nya dipusatkan hanya pada satu tujuan, terbuka dan sama sekali bebas dari tipu muslihat. Ia tidak bisa menipu. Ia tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi, Ia menghadapi kita secara pribadi, agar kita menjadi satu dengan Dia (Yoh 17 : 21). Kalau begitu bagaimana bisa pendosa seperti Daud dan Ayub mengakui hati mereka tulus? (Mzm 41:12; Ayub 2:3). Bukan karena mereka tanpa kesalahan, tapi hubungan mereka dengan Tuhan memungkinkan mereka untuk bersikap terbuka kepada Dia, dan mereka tahu pertobatan mendatangkan pengampunan (Mzm 51). Tanpa adanya dalam diri kita kamar-kamar rahasia yang tertutup bagi Dia, Tuhan bisa bersekutu dengan setiap kita dan kepercayaan yang total membuat kita tetap bersatu dengan Dia.

Watak Kristus yang sempurna menyatakan Allah kepada kita. Dengan Roh-Nya Ia ingin mengubah semua hubungan manusiawi dan semua kegiatan kita. Oleh karena itu, harus diketahui semua orang bahwa orang Kristen tidak hidup berpura-pura atau munafik----sifat-sifat yang lebih dihargai dalam masyarakat hedonis dan utilitarian. Pengungkapan adanya kecurangan di bidang ilmu pengetahuan mengingatkan kita juga bahwa pekerjaan yang baik dan bertahan lama harus juga dilandasi dengan kejujuran.

Doa :
Allah, tolonglah kami untuk jujur terhadap Engkau dan sesama kami, sehingga kami bisa memuliakan Engkau dalam segala hal dan tidak perlu merasa malu di hadapanMu, pada hari kedatanganMu. Amin.

Baca : Mazmur 26

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 13 April 2015

Bicara Tanpa Dipikirkan Lebih Dahulu

Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku - Mazmur 141 : 3

Seperti penyakit campak, ungkapan-ungkapan tertentu juga menular. Seorang temanku, dokter, terkenal dengan julukan "Corks" (sumbat), karena inilah satu-satunya kata yang ia lontarkan jika ada orang yang mengumpat dengan menyebut nama Tuhan. Menanyakan secara halus, "Apakah itu doa atau umpatan?" kepada orang itu bisa mengurangi kebiasaannya mengumpat. Mulut kita juga harus dijaga, agar kita tidak membocorkan rahasia, baik secara profesional, dalam doa umum atau melalui gosip. Kecaman yang diungkapkan tergesa-gesa dan kejengkelan mudah terpancing keluar, dan meskipun ditahan, sikap kita sering mengungkapkan apa yang tidak kita katakan. Betapa jauh perbedaannya dengan perilaku Tuhan Yesus yang kata-kataNya indah (Luk 4 : 22)

Sebagaimana yang meluap dari sebuah cangkir adalah isinya, begitu pula luapan hati yang keluar dari mulut (Mat 12:34). Pembualan menunjukkan hati yang congkak, ketidaksabaran berasal dari hati yang tegang (mungkin karena kelelahan) dan menghina orang lain adalah luapan hati yang dengki. Paulus mengingatkan agar kita memilih kata-kata yang penuh kasih (Kol 4:6) meskipun Yakobus mengakui, dalam praktiknya kita semua pada suatu ketika berbuat salah. (Yak 3 : 2)

Kita harus berdoa agar hati dan mulut kita dijaga, dan agar Roh Kudus nampak ketika kata-kata kita meluap dari hati. Sebagian dari bukti kehadiranNya ini nampak dalam sikap rendah hati yang kita tunjukkan bila kata-kata terlanjur diucapkan. Kesalahan harus diperbaiki di depan Tuhan, dan mungkin juga di depan orang lain.

Suatu malam aku dibangunkan oleh suster jaga yang memintaku memeriksa sesuatu yang kuanggap sepele. Suster itu merasa sakit hati karena kata-kata yang kuucapkan dengan tergesa-gesa itu. Komentarnya sesudah aku pergi ialah, "Itulah yang bisa diharapkan dari orang yang suka menampar oran lain dengan ayat Alkitab." Syukurlah sebelum aku diberi tahu akan komentar itu, Roh Kudus mendorongku untuk minta maaf kepada suster itu sebelum dia menyelesaikan tugasnya hari itu. Kenangan akan peristiwa yang memalukan ini membantuku selanjutnya untuk tidak lagi berbicara tanpa dipikirkanlebih dulu!

Baca : Efesus 3 : 14-21

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 06 April 2015

Paskah Abadi

Karna kita tahu, bahwa Kristus, sesudah bangkit dari anata orang mati, tidak mati lagi - Roma 6 : 9

Setiap dokter sudah tidak asing lagi dengan proses kelahiran. Menolong kelahiran seorang bayi ke dunia ini dapat merupakan suatu hal yang rutin. Mudah sekali bagi kita untuk mengabaikan proses itu, yaitu munculnya suatu kehidupan baru. Bagaimanapun, kelahiran adalah suatu peristiwa yang ajaib. Demikian pula kelahiran satu jiwa dalam kerajaan Allah merupakansuatu hal yang sangat ajaib. Semua itu bersumber pada kebangkitan Yesus dari kematian.

Ketika mengunjungi Leningrad pada tahun 1920, Hugh Redwood masuk ke dalam sebuah Katedral. Ia menggambarkan apa yang dilihatnya dalam bukunya yang berjudul "God in Shadows". Kunjungan itu dilakukan sebelum perayaan Paskah. Meskipun pemerintah Rusia dengan gencar berkampanye anti Tuhan, gereja itu penuh dengan jemaat yang berbakti. Salah seorang anggota jemaat, seorang wanita bangsawan, walaupun berpakaian jelek, merasa bahwa Hugh memperhatikannya, lalu ia menyapanya dalam bahasa Inggris.

"Anda seorang Inggris, bukan?" katanya, "dan di Inggris saat ini sedang merayakan Paskah. Tetapi di sini tidak ada Paskah, sebab menurut undang-undang Kristus telah dilenyapkan. Betapa jahatnya!Tetapi Kristus tidak mati, di Rusia sekalipun, mereka pikir mereka telah merampas-Nya, seperti mereka merampas Paskah kami, tetapi kami akan tetap merayakan Paskah di hati kami dan di situ Yesus akan bangkit lagi..."

Bagi banyak orang, Paskah datang dan berlalu. Bagi sebagian orang Paskah tidak berarti apa-apa atau hanya membawa sedikit sinar harapan, kemudian menghilang sampai tahun berikutnya. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya, perayaan itu berlangsung sepanjang tahun. 

Natal menceritakan mengenai seorang bayi di palungan dan suatu mujizat yang luar biasa. Tuhan telah menjadi manusia. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya, perayaan itu menceritakan mengenai kelahiran jiwa baru yang diberikan Tuhan ke dalam setiap hati manusia yang membuka dirinya bagi kehidupan Kristus. 

Jumat Agung menceritakan mengenai Anak Manusia yang tergantung di kayu Salib dan suatu perbuatan kasih yang luar biasa. Tuhan menawarkan diri-Nya sebagai tebusan untuk menyelamatkan kita. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya perayaan itu menceritakan mengenai pengampunan, damai dan kuasa untuk hidup, yaang diberikan dengan suka rela oleh Kristus yang hidup. Oleh karena Kristus hidup, Paskah membawa pengharapan-nukan saja bagi kita yang mengikut Dia tetapi pengharapan untuk dibagikan kepada mereka yang tidak mengenal harapan seperti itu.

Tuhan yang Abadi dan Hidup, Engkau telah memberikan kepada kami suatu pengharapan yang hidup dengan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Tolong kami, yang juga dibangkitkan oleh Dia, untuk mencari hal-hal yang surgwai supaya kami boleh bersukacita dalam hidup abadi dan pengharapan baru.

Bacaan selanjutnya : Roma 6 : 1-11

Dikutip dari :
Diagnose Firman


Senin, 30 Maret 2015

Penyaliban

Ketika mereka sampai di tempat yang bernama tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ.
(Lukas 23 : 23)

Penyaliban, suatu jenis hukuman yang paling kejam, dirancang oleh orang Phoenicia. Ironisnya, bentuk penghukuman itu berasal dari agama mereka. Sebagai penyembah bumi, mereka tidak ingin mencemarkannya dengan darah orang jahat. Penyaliban sangat cocok dengan kepercayaan mereka. Pelaksanaan hukuman ini sangat mengerikan bahkan bila ditinjau dari sudut klinis yang tak berperasaan sekalipun.

Rasa sakit mulai terasa sejak permulaan. Paku dihunjamkan melalui telapak tangan atau pergelangan tangan. Apabila tiang salib dinaikkan atau diturunkan ke dalam lubang, maka tulang pundak pun terlepas. Setiap gerakan untuk menopang berat tubuhmengakibatkan tekanan pada kedua kaki. Kematian biasanya disebabkan karena shock atau kelelahan. Pengurangan volume sirkulasi darah diakibatkan oleh tidak adanya cairan, akibat dari posisi tegak, rasa sakit dan pendarahan serta luka bekas cambukan. Keadaan ini dibuktikan dengan seruan :"Aku haus." Tindakan terakhir ialah mematahkan kedua tulang lutut yang menyebabkan terhentinya kehilangan cairan dari sirkulasi darah. Jika ini tidak dilakukan, terjadi kelelahan yang luar biasa. Kematian datang dengan perlahan mungkin dalam tiga atau empat hari.

Kematian Tuhan Yesus merupakan ciri-ciri khusus. Apa yang terjadi di taman Getsemani menunjukkan adanya penderitaan mental dan spiritual yang sangat hebat. Di atas kayu salib, Dia masih sempat berkata-kata. Akhirnya Ia berseru dengan nyaring, menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya. Semua itu terjadi dengan tiba-tiba. Sampai saat terakhir Yesus masih dapat menguasai diri. Kejadian seperti ini sangat tidak lazim dalam proses penyaliban.

Kemudian ada bukti bahwa Yesus sudah mati. Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19 : 34). Yohanes tahu bahwa semua ini benar, ia menulisnya supaya orang lain percaya. Semua itu merupakan bukti kematian, bahkan jika dilihat dari kejauhan sekalipun, tetapi sebenarnya hal itu mempunyai arti yang lebih dalam.

Apa arti air dan darah? Kumpulan darah yang tersumbat kemudian dipisahkan menjadi serum dan sel darah akan tampak seperti darah dan air. Jika tampak dalam jumlah banyak, menunjukkan adanya kemungkinan pengumpulan darah dalam rongga perikardial atau pleura. Darah dalam rongga pleura tidak akan terpecah seperti ini, tetapi darah perikardial akan terpecah dengan cepat setelah kematian. Berdasarkan gambaran Yohanes, kemungkinan besar terjadi tamponade dan ini cocok dengan keadaan ruptur miokardial.

Dalam studi patologi, segala detail kejadian itu sungguh menarik. Jika kita renungkan apa hubungannya dengan arti terdalam dari kematian Tuhan kita Yesus Kristus? Sebuah mazmur yang seakan-akan sudah meramalkan penderitaan di Kalvari itu berbunyi : "Cela itu telah mematahkan hatiku." (Mzm 69 : 21) Baru-baru ini, seorang penulis lagu menulis : "Dia mati karena patahhati." Mungkin menggunakan metafora di sini perlu dipertanyakan karena mencampuradukkan faktor fisik dan emosi. Tetapi bagaimanapun juga, artinya mengena.

Untuk merenungkan salib-Mu, ya Tuhan, berarti menapak di atas tanah yang suci dan menggentarkan. Semua itu Kaulakukan untukku. Apa yang telah kulakukan untuk-Mu?

Dikutip dari :
Diagnose Firman
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas