Senin, 27 Oktober 2014

Dimensi Kristiani


Banyak orang di Inggris saat ini melihat sedikitnya relasi antara agama dan praktek kedokteran. Pada masa lalu, hal ini tidaklah demikian. Kehidupan yang utuh dilihat dalam ruang lingkup agamawi; paling tidak pelayanan penyembuhan.

Thomas Sydenham, yang kadang-kadang disebut sebagai Bapak Hippocrates Inggris dan juga Bapak Kedokteran Inggris, seorang dokter yang pertama kali memberikan deskripsi klasik dari Rheumatic Chorea, melihat hal tersbut di atas. Anjurannya bagi setiap orang yang mau memasuki profesi ini adalah sebagai berikut :
Siapapun juga yang menekuni bidang kedokteran seharusnya secara serius mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

  1. Bahwa dia pada suatu waktu harus bertanggung jawab kepada Hakin yang Agung akan setiap nyawa pasien yang dipercayakan dalam tangannya.
  2. Ilmu dan keterampilan yang sedemikian itu, sebagai berkat dari Allah Yang Maha Kuasa, dia telah dapatkan, adalah untuk secara khusus diarahkan untuk kemuliaan Sang Pencipta, dan kesejahteraan ciptaan lainnya; karena hal tersbut adalah dasar untuk karunia-karunia surgawi yang besar untuk menjadi hamba.
  3. dia harus sadar bahwa dia berhubungan dengan sesuatu yang tidak ada artinya atau binatang yang dapat disepelekan. Kita harus menyadari nilai dari manusia, yang untuknya Allah telah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan memperdamaikan manusia dengan-Nya.
  4. dia harus ingat bahwa dia sendiri tidak terkecuali, bersama-sama dengan yang lainnya, akan mengalami hukum mortalitas, dan bisa mengalami sakit dan penderitaan sama seperti sesamanya. Oleh karena itu, kiranya dia menyalurkan pertolongan kepada yang tertekan dengan perhatian yang lebih besar, dengan lebih ramah dan dengan perasaan persaudaraan yang lebih kuat.
Dan kiranya cukup adil jika dikatakan bahwa hanya sangat sedikit yang sepikiran dengan Syndenham. Namun, di bawah terang wahyu Allah melalui Yesus Kristus yang tidak berubah, Firman yang hidup, dan Alkitab, Firman yang tertulis, apa yang Syndenham katakan adalah benar. Pasien kita berharga dan harkatnya bernilai bagi Allah sehingga Dia mengirimkan Anak-Nya untuk mati di kayu salib. Keahlian & keterampilan seorang dokter seharusnya untuk Sang Pencipta dan bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dokter, seperti juga lainnya, akan mempertanggungjawabkan kepada Hakin yang Agung itu segala perlakuan terhdapa para pasien yang dipercayakan kepadanya.


Dimensi Kristiani yang Hilang

Mula-mula sebagian besar dari rumah-rumah sakit di dunia barat merupakan buah dari inisiatif kekristenan. Mereka tidak hanya menanggulangi kesembuhan fisik dan jiwa, tetapi juga kebutuhan rohani para pasien. Oleh karena itu, mereka mendirikan kapel-kapel di dalam rumah-rumah sakit dan menetapkan rohaniwan seta waktu doa di ruang-ruang perawatan serta kamar-kamar operasi. Namun, dalam 100 tahun terakhir ini dilihat suatu penurunan yang nyata dalam hal perhatian yang diberikan untuk kebutuhan rohani para pasien; khususnya di Inggris. Beberapa rumah sakit yang baru, dibangun tanpa kapel dan, meskipun para rohaniwanada pada hampir semua rumah sakit, mereka tidak tersebar luas, dan menerima sedikit sekali dorongan. Waktu doa di ruang-ruang perawatan dan kamar-kamar operasi sudah banyak ditiadakan dan hanya di beberapa rumah sakit saja. 

Saya ingat benar akan suatu pengalaman yang berkesan sebagai seorang mahasiswa di suatu malam dalam Perang Dunia II, ketika saya sedang bertugas sebagai petugas pencegah kebakaran di lantai atas Britol General Hospital. Beberapa ruang perawatan sudah rusak disebabkan serangan udara di kota tersebut. Melalui suatu koridor yang telah dievakuasi, saya menemukan sebuah meja yang masih berada di tengah ruangan. Saya membuka lacinya dan menemukan satu kotak kuno kecil. Pada kayunya dilekatkan sepotong kertas yang menguning karena sudah usang, dan di sana tertulis sebuah doa malam yang singkat. Doa itu disimpulkan dengan kata-kata : Bapa kami,  dan seterusnya. Di bawah tulisan itu seseorang telah menuliskan bagian lanjutan dari Doa Bapa Kami. Kotak doa yang kuno ini, tinggal di laci, merupakan contoh tipikal penurunan dan kejatuhan pegenalan akan Tuhan di rumah sakit.

Pentingnya Dimensi Rohani

Kesehatan jasmani penting; tetapi sehat rohani lebih penting lagi, sebagaimana Tuhan kita dan para murdi-Nya mengajarkannya dengan begitu empatis. Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan apapun kecuali dimensi rohani dan kekekalan. Sebagai akibatnya, kita melihat hidup sementara ini sebagai yang terpenting; yang mana fakta sesungguhnya adalah merupakan prelude singkat dimana seseorang mungkin mengenal Allah dan mulai mempersiapkan untuk hidup yang sebenarnya; kehidupan kekal. Bahkan pengobatan jasmani dan kejiwaan yang paling sukses pun hanya sekedar pekerjaan kecil saja. Lambat laun, tubuh jasmani akan berlalu. Lebih jauh, banyak pengobatan medis masih jauh dari sukses; dan hanya bersifat paliatif; pasien hanya sedikit lebih baik meskipun hanya pada taraf jasmaniah. Hilangnya dimensi rohani dari praktek kedokteran adalah suatu tragedi.

Penyakit Sebagai Megafon Tuhan

Walaupun penyakit adalah hal yang 'jahat' -pekerjaan setan- tetapi sering merupakan sesuatu yang mana Allah menggunakannya untuk menyadarkan manusia akan kekekalan. Pemazmur mengatakan, Adalah baik untuk aku ada dalam kesesakan, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mzm 119 : 71). Dalam bukunya The Problem of Pain, CS Lewis menuliskan kalimta yang tak dapat dilupakan, 'Allah berbisik pada kita dalam kesenangan kita, berbicara dalam kesadaran kita, namun berteriak dalam kesakitan kita; itu adalah megafon-Nya untuk membangunkan dunia yang tuli.'

Hal di atas telah dikonfirmasikan dari waktu ke waktu, dengan pengalaman. Charles George Gordon mendapat serangan cacar air ringan sewaktu bekerja di Cina. Setelah sembuh, dia menulis ke saudara perempuannya, 'Saya bersyukur bahwa penyakit ini telah membuat saya berbalik kembali kepada Juruselamat saya'. Seorang dokter diopname di ruangan saya untuk suatu dugaan nyeri abdominal. Dia ternyata menderita suatu inoperable carcinoma pada lambungnya. Kondisinya terlalu kritis untuk dipulangkan, sedangkan saya tak mempunyai satu kamarpun untuknya. Hal terbaik yang dapat saya lakukan untuknya adalah sebuah kamar untuk berdua, yang mana ia sekamar dengan seorang anak muda yang baru kembali dari India, yang didiagnosa dengan disentri amuba. Anak muda ini tampaknya telah mengalami suatu pengalaman pertobatan Kristen , dan ketenangan pikiran dan jiwanya adalah 'iklan' yang indah untuk imannya. Pada mulanya dokter tua itu begitu pahit dan kecewa akan kondisinya, dan saya merasa agak takut setiap saya mengunjunginya setiap hari. Setelah kira-kira seminggu, saya melihat sikapnya berubah sama sekali. Ternyata dokter tua itu telah mengalami iman yang dimiliki anak muda itu.

Kebutuhan Rohani Pasien

Ketika seorang pasien berkonsultasi dengan dokter, dokter itu berhubungan dengan seseorang yang dalam hidupnya ada Allah yang aktif. Dokter itu ada dalam posisi untuk menjembatani kasih Allah dan menolong (atau mencegah) pencarian pasien itu akan keutuhan. Pasien-pasien yang datang mempunyai kebutuhan rohani. Kebutuhan utama mereka adalah kebutuhan rohani. Beberapa dengan perasaan bersalah yang nyata, objective guilt. Seorang kolega saya, ahli kandungan didatangi seorang pasien dengan gejala gangguan saluran kemih. Teman saya begitu terkesan dengan penampilan ibu ini yang semrawut dan bertanya ke Ibu ini :'Anda seorang wanita yang tak berbahagia. Maukah anda menceritakannya pada saya?'. Setelah terdiam agak lama, ibu ini mulai mengakui bahwa ia telah mencekik ibunya sendiri, dan sampai saat itu tak bisa menghilangkan rasa bersalahnya.

Yang lainnya, berhadapan dengan cacat permanen atau kematian, disebabkan oleh ketakutan, kesedihan dan keputusasaan; perasaan-perasaan yang sulit dikontrol dengan reassurance atau psikoterapi. Dia atas semuanya ini terdapat hubungan pribadi pasien dengan Tuhan. Sedikit sekali dari mereka yang berkonsultasi dengan kami datang dari keadaan yang 'hidup berkelimpahan' yang Yesus berikan, dan menghadapi kekekalan tanpa Tuhan dan sorga.

David Short

Dikutip dari : Majalah Samaritan No. 2/Mei-Juli 1999
(Terjemahan dari "The Christian Dimension"-Journal of The Christian Medical Fellowship, Januari 1993/dr. Lidya Gunadi)





Senin, 20 Oktober 2014

Mimpi-mimpi Manusia, Firman Allah.

Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!-Yeremia 23 : 25

Mempunyai visi dalam hidup dapat merupakan hal yang baik. Nabi Yoel melihat suatu masa depan ketika orang-orang tua mendapat mimpi dan orang-orang muda mendapat penglihatan (Yoel 2 : 28). Nubuatan ini secara gamblang digenapi pada hari Pentakosta-ibarat sebuah antidot yang membahagiakan terhadap kehidupan beragama yang formal, hambar dan gersang. Tuhan Allah masih bekerja dengan cara ini, memampukan umat-Nya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang diberikan-Nya.

Namun, tidak mudah untuk mengenali apakah penglihatan itu berasal dari Allah atau bukan. Umat Allah diperingatkan akan adanya nabi-nabi palsu dan pendusta, yang memakai nama Allah tapi tertipu oleh pikirannya sendiri (Yer 23 : 26). Peringatan itu tetap dibutuhkan saat ini, bahkan di kalangan orang Kristen. Berbeda sekali dengan orang yang memegang Firman Tuhan. Perbandingan antara mereka adalah seperti ilalang dan gandum. Penglihatan palsu akan terus-menerus berubah, muncul dan menghilang, sedangkan Firman Tuhan tidak berubah.

Orang-orang yang penafsirannya berbeda dapat menimbulkan masalah. Sikap kita yang terutama seharusnya mencari kebenaran dan menghadapi dampak-dampaknya dengan jujur. Sebagaimana yang rasul Petrus katakan, ketika ia memperingatkan adanya penyesatan, ada beberapa hal dalam Alkitab yang sulit dipahami (2 Petrus 3 : 16). Namun,  apakah kita jadi percaya Yesus Kristus dan taat pada perkataan-Nya sebagai Forman Tuhan (1 Yoh 1 : 1,2) atau sebaliknya kita hanya memilih bagian yang kita senangi atau mengambilnya untuk dikritik bahkan dihakimi? Banyak perselisihan terjadi karena prasangka yang bersifat persaingan bukan pada keinginan yang tulus untuk memperoleh pencerahan.

Adalah berbahaya jika kita datang kepada Tuhan dengan mengandalkan rasio kita bukan berdasarkan hubungan kita dengan Dia. Jika kita mempercayai anak-Nya, maka seperti halnya Roh Kudus mengilhami mereka yang menulis Kitab Suci (2 Petrus 1:21), demikian pula kita mendapat jaminan, Roh yang sama akan menafsirkan dan menyampaikan Firman Tuhan kepada kita, seperti terang bersinar di kegelapan.

Baca :
Yeremia 23 : 25-32; 2 Petrus 1 : 16-21

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 13 Oktober 2014

Dua Sisi Mata Uang


Allah yang dalam kekayaan-Nya 
memberikan kepada kita 
segala sesuatu untuk dinikmati 
(1 Timotius 6 : 17)

Kamu tidak dapat mengabdi 
kepada Allah dan kepada Mamon 
(Matius 6 : 24)


Seorang konsultan berpengalaman baru-baru ini berkata bahwa perolehan uang secara tiba-tiba merupakan suatu kutuk yang terbesar bagi seorang dokter muda. Mungkin ada yang tidak setuju, oleh karena uang merupakan salah satu berkat-berkat Tuhan. Mungkin apa yang dimaksudkan ialah bukan mengenai apa yang dapat kita perbuat dengan uang, tetapi apa yang dapat diperbuat oleh uang terhadap kita. Cinta akan uang merupakan suatu bahaya bagi semua orang Kristen, dan sebagai dokter kita lebih banyak berhubungan dengan uang dibandingkan dengan orang lain. Siapa diantara kita yang tidak merasa senang waktu mendapat hadiah, waktu kita mengurus bon-bon tagihan dengan cara-cara yang sah ataupun tidak sah untuk menghindari pajak? Diam-diam semua itu sedikit demi sedikit menyita pikiran kita. Alkitab memperingatkan kita bahwa uang merusak kasih di hati kita (Mat 6 : 21), menipu dan mempengaruhi pertimbangan kita dan menghambat pertumbuhan buah-buah rohani kita (Mat 13 : 22), mengubah penilaian kita akan orang lain (Yak 2 : 1-5,9), membodohi orang-orang beriman (Luk 12 : 20-21) dan dapat menghancurkan jiwa kita (1 Tim 6 : 9). "Kekayaan dapat menyuap orang yang paling tidak dapat disuap"-The Golden Cow, ditulis oleh John White.

Karenya janganlah hatimu melekat padanya (Mzm 62 : 11); jangan percaya kepada uang dan bergantung kepadanya (1 Tim 6 : 17). Jangan menympan kalau tidak perlu (Pkh 5 :11,13) atau membayangkan bahwa uang kan membawa kebahagiaan (Pkh 5 : 10) atau menganggap uang itu penting (1 Tim 6 : 17)

Kalau begitu, apa sebenarnya kegunaan uang itu? Uang, sekalipun merupakan majikan yang kejam, tetapi juga hamba yang berguna dan pembawa berkat yang besar. Uang dapat membuat kita percaya dan bersyukur kepada si Pemberi. Uang dapat dipakai sebagai sarana melayani Tuhan dan membantu memenuhi kebutuhan dunia, jiga dapat dipakai sebagai alat untuk mewujudkan buah-buah Roh yaitu kebaikan. Uang memampukan kita menyatakan kemurahan dan kebesaran hati kita dan dengan demikian mengumpulkan suatu harga di surga (1 Tim 6 : 18-19).

Bacaan selanjutnya :
Lukas 12 : 13-21, Matius 6 : 18-21

Dikutip dari : 
Diagnose Firman

Rabu, 08 Oktober 2014

Program Residensi Sang Tabib Agung



Ia menetapkan 12 orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diber-Nya kuasa untuk mengusir setan. - Markus 3 : 14-15






Metode pendisiplinan sang Tabib Agung mirip dengan program residensi. Ada 5 aspek yang gamblang :

  1. Ia mengharapkan murid-murid-Nya mengikuti-Nya ke mana saja. Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mengikuti-Nya, untuk meluangkan waktu berjalan dan bercakap-cakap dengan Dia dan memperhatikan apa yang dilakukan-Nya.
  2. Ia mengajar melalui kejadian biasa sehari-hari. Seperti kita ketahui dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu kedokteran, kesempatan belajar yang terbaik datang saat berurusan dengan persoalan-persoalan hidup yang sesungguhnya, dan dalam hubungan langsung antara pengajar dan yang diajar.
  3. Tuhan Yesus memanfaatkan pertanyaan secara efektif. Bertanya juga bagian penting dari program residensi kedokteran mana pun, dan Kristus melakukannya setiap waktu. Dia terus-menerus menanyai para murid agar mereka berpikir untuk menetapkan apa yang mereka percayai dan untuk berusaha mencari jalan mengatasi persoalan dan konsep yang sulit.
  4. Tuhan Yesus percaya pada konsep "lihat satu, kerjakan satu, ajarkan satu". Jelas sang Tabib Agung dapat melakukan setiap hal lebih baik dari pengikut-Nya, namun Ia tahu tidaklah cukup bagi mereka melihat apa yang dilakukan-Nya setiap hari. Ia juga menyuruh mereka melakukan apa yang dilakukan-Nya karena dalam memberikan mereka kesempatan untuk "kerjakan satu", Ia memberikan mereka kesempatan untuk gagal. Ia tahu bahwa dalam kegagalan terkadang kita belajar banyak. "Kerjakan satu" selalu berarti mengambil risiko.
  5. Pengajaran Tuhan Yesus berjangka waktu panjang; malah sebenarnya tidk berujung! Ia menghabiskan 3 tahun kemudian dengan murid-murid-Nya, namun Ia jelas-jelas tidak menganggap tanggung jawab dan hubungan-Nya selesai.
Apa yang diberitahukan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga, Ia katakan kepada kita hari ini. "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Mat 28 : 20). Dan Roh-Nya masih tetap bersama kita.

Baca :
Lukas 10 : 16-18; Markus 8 : 1-11; Yoh 14 : 25-27

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Selasa, 30 September 2014

Yang tersisa dari perjalanan KMdN 19 Bali…


Saya cukup familiar dengan perasaan yang saya bawa saat meninggalkan arena kamp medis. Setelah 6-7 hari berkumpul dengan sekitar 300 mahasiswa, berjuang, berbagi beban & keluhan dengan panitia pelaksana, ada rasa kesepian yang mulai menguasai. Kali ini saya mencoba menuangkannya dalam bentuk yang lebih bermanfaat, yaitu dengan membuat sebuah catatan kecil yang saya harap bisa selesai begitu pesawat ini mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.


Saya dan rekan-rekan panrah menghadiri kamp ini dengan ketibaan yang berbeda namun pulang pada hari yang sama, hari minggu sore, 17 Agustus 2014. Lebih dari sekedar lega karena kamp sudah selesai, kami semua sungguh bersyukur diijinkan untuk menyaksikan Tuhan bekerja dengan caranya sendiri, jauh di atas ekspektasi kami melalui panitia pelaksana yang relatif hanya segelintir jumlahnya.

Malam pertama di BITDeC kami lalui dengan menyantap nasi bungkus dan ikan bakar, dan dr. Giles jauh-jauh dari CMF Inggris harus belajar makan dengan jari-jarinya tanpa sendok & garpu. Wisma dengan kamar tidur berkapasitas 12 bed/kamar dan kamar mandi yang bisa menampung 40 orang untuk mandi secara bersamaan, terasa sangat sepi karena luasnya lokasi dan tersebarnya kamar-kamar yang ada. Dokter Susan dan rekan-rekan panitia pelaksana mulai tampak sibuk, namun kelelahan tampak jelas di wajah mereka, namun tidak pernah kehilangan sense of humor mereka. Kekuatiran yg tidak saya ungkapkan, namun mungkin terbaca oleh Susan, yang sedang menjalani terapi untuk SLE nya, adalah bahwa beban kerja & stress yang berat dapat membuat berbagai gejala penyakitnya kambuh. Puji Tuhan atas pemeliharaanNya kepada hambanya ini.   
  
Senin, 11 Agustus 2014, dimulailah Konsultasi Nasional Pelayanan Medis (KNPM), yang dihadiri oleh 50-an peserta, dari 14 daerah, 20 PMK dan 2 PMdK. KNPM berlangsung dengan sangat kondusif, para peserta, yang merupakan orang kunci masing-masing PMK mulai cair dalam persekutuan dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan padatnya jadwal pertemuan dan diskusi, sehingga meskipun waktu sudah larut malam, peserta tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan terus bersemangat membahas kondisi persekutuannya dan memberikan masukan-masukan berharga untuk setiap tahapan P1-P4 yang mereka lalui. Sementara kami sibuk mengurusi KNPM, dr. Giles sama sekali tidak ingin mengganggu kami, dia mempersiapkan eksposisi dengan serius dan mengatasi kejenuhannya dengan jogging ke Pantai Nyanyi. Kehadiran dr.Wei Leong dari  CMF Singapore menambah keceriaan kami, karena sikapnya yang mudah menyapa dan menyesuaikan diri dengan kondisi wisma. 

Selasa, 12 Agustus 2014, inilah ujian yang sesungguhnya, karena begitu KNPM ditutup pukul 13 siang, maka KMdN pun akan segera dibuka pada pukul 16.00. Hal menarik kami amati bahwa tidak tampak hiruk pikuk panitia yang berarti, yang kelihatan hanya sejumlah  walkie talkie yg tidak berhenti bersuara digenggaman panitia pelaksana yang didukung penuh oleh para volunteer dari fakultas lain. Kami bersyukur KNPM ditutup dengan menghasilkan sejumlah komitmen dari masing-masing PMK untuk memperkuat proses P1 – P4 di kampusnya dan jejaring antar kampus dan kota yang tidak hanya muncul dalam bentuk wacana namun berupa rencana kerja yang siap dieksekusi di bulan-bulan ke depan.

Pembukaan KMdN berlangsung meriah dan KKR malamnya berlangsung khidmat. Semua kekuatiran akan sound system dan temperature Bali yang cukup hangat sirna seketika karena meskipun dilaksanakan di pendopo yang terbuka, suasana sangat kondusif dan peserta sangat kooperatif. Kehadiran dan kepedulian Dr. Vinod Shah selaku CEO ICMDA terhadap kegiatan-kegiatan PMdN meningkatkan semangat kami, mengingat perjuangan beliau di usia yang tidak muda lagi telah jadi dorongan tersendiri buat kami semua.

Rabu s/d Sabtu, 13 – 16 Agustus 2014, waktu terasa berlalu begitu cepat, para pembicara mulai berdatangan, sesi demi sesi bergulir begitu cepat, eksposisi Kitab II Timotius diuraikan secara mendalam oleh dr. Giles, panel-panel diskusi dan ceramah-ceramah dilangsungkan dan dikemas dengan begitu rupa sehingga tidak satupun peserta yang mengeluh walaupun hanya diberikan waktu sekitar 1 jam untuk mandi & istirahat sore. Ini luar biasa!.
Kekuatiran akan kehadiran 4 pembicara asing akan menimbulkan kesulitan bagi panitia & peserta karena kebutuhan penerjemahan pada setiap sesi mereka, sama sekali tidak terbukti. Kami perhatikan semua peserta menikmati acara dan aktif bertanya dan berdiskusi dalam setiap sesi.Sejumlah  Lokakarya dan Seminar yang digelar secara bersamaan di ruang-ruang berbeda juga berlangsung lancar. Tidak ada keluhan dari peserta, tidak ada suara berbantah-bantahan diantara panitia, semua bekerja dan berjuang, sungguhlah suatu pemandangan yang indah untuk dinikmati kami sebagai panrah. Thanks dr. Susan untuk kepemimpinannya, thanks para panitia & volunteer yg tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Pujian dari Bapak Dewa selaku pengawas dari pihak BITDeC yang mengatakan bahwa tidak pernah mereka menerima rombongan se-tertib dan se-bersih ini benar-benar menambah suka cita kami. Suatu kesaksian yang baik tentunya, saat kami membicarakan jumlah yg masih harus kami bayarkan kepada pihak BITDeC berkaitan dengan penyelenggaraan kamp. Masih banyak kebutuhan dana tambahan untuk menutupi kekurangan ini, namun ini tidak mengurangi suka cita dan pengharapan kami bahwa Tuhan sedang dan akan mencukupi seluruh kekurangan yang ada.

Di sela-sela kesibukan menyelenggarakan kamp, ada suka cita besar menyaksikan beberapa alumni senior yang juga mantan peserta KMdN yang kali ini hadir sebagai pembicara, diantaranya dr. Paran Bagionoto, dr. TJ Situmorang, dr. Ronald Jonathan, dan dr. Edi Lubis. Sangatlah menghibur sekaligus menguatkan saat menyaksikan kelucuan mereka berbagi kisah dan pengalaman hidup, serta beban yang mereka tunjukkan terhadap pekerjaan ini. Setidaknya saya percaya pelayanan medis yang kita perjuangkan bertahun-tahun tidak akan pernah sia-sia. Bangkitnya para alumni yang relatif muda seperti dr. Andry Susanto, drg. Hedwin, & dr. Kris Gunadi juga memberikan semangat tersendiri dan memunculkan harapan regenerasi dalam meneruskan tongkat estafet pelayanan medis.

Perhatian khusus juga saya berikan kepada drg. Mathias Quake, yang hangat dan sarat dengan aroma misi. Tidak butuh waktu lama untuk merasakan ketulusan dan kerendahan hatinya dalam berbagi. Setiap kali menghadiri sesi dan menyaksikan respon peserta yang tersentuh oleh pemberitaan Firman Tuhan, beliau selalu menunjukkan keharuan karena sukacita yang mendalam. Kredit khusus saya berikan kepada dr. Goh Wei Leong yang secara kreatif merekayasa ceramah di saat jam ngantuk dan Panel Diskusi dengan 8 pembicara menjadi sangat hidup dan mencerahkan. Saya hanya bisa berkata mengucap syukur untuk hamba-hambaNya ini.  

Malam dedikasi yang memanggil para peserta untuk memberi diri bermisi secara integral di bidang-bidang yang telah dibukakan, merupakan klimaks dari semua kerja keras selama ini. Sangatlah menguatkan sekaligus mengharukan melihat para peserta berdiri mengambil tekad dan mempersembahkan hidup dan profesinya bagi Tuhan melalui jalur-jalur misi yang diyakini merupakan panggilan ilahi bagi mereka.

Minggu, 17 Agustus 2014, adalah hari spesial karena untuk pertama kali KMdN dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Upacara pun digelar, Bendera Merah Putih dikibarkan, mengheningkan cipta dilangsungkan, Pancasila diikrarkan, dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, rasa haru sekaligus bangga menyeruak ditengah-tengah keterpurukan bangsa, sungguh mengingatkan betapa besar tanggung jawab yang kita emban sebagai generasi yang hidup di era kemerdekaan ini untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

Akhirnya, tiba juga kami di penghujung pelaksanaan KMdN. Kami tidak memiliki cukup kata untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kami kepada setiap panitia pelaksana dan volunteer. Air mata keharuan, yel-yel terima kasih dan standing ovation yang amat panjang, yang mereka terima tentulah mengirimkan pesan yang sangat kuat bahwa baik panitia pengarah maupun peserta KMdN luar biasa menghargai kerja keras dan keramahan mereka, walau mungkin tidak sebanding dengan keringat dan air mata yang mereka telah curahkan selama 1 tahun persiapan kamp ini. Kiranya Tuhan sendiri yang memperhitungkannya untuk mereka.

Selesai sudah segala hiruk pikuk KMdN, usai sudah malam-malam panjang evaluasi yang melelahkan,  genaplah sudah seluruh upaya memperlengkapi para peserta. Sekarang menunggu pekerjaan rumah besar untuk menindaklanjuti tekad para peserta untuk setia mempersiapkan diri masuk ke ladang misi sesuai panggilan mereka. Dalam 2-3 tahun yad sebagian besar mereka akan menjadi alumni, waktu yang tidak terlalu panjang lagi untuk mempersiapkan mereka, namun bisa terasa lama bila kita hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Waktu akan membuktikan apakah kata: “otentik”, “tangguh”, dan “missioner bagi bangsa” hanya indah untuk diikrarkan atau benar-benar menjadi kenyataan.

Catatan terakhir yang bisa saya buat adalah bahwa:
1.       Penyelenggaraan kamp ini mengingatkan saya akan kisah Gideon dengan 300 orang Israel yang berhasil mengatasi orang Midian dan Amalek yang jumlahnya tak terhingga di Hakim-Hakim pasal 6 & 7.
2.      Perasaan tidak mampu yang tulus (meminjam istilah Susan: “impossible” ,saat menerima penunjukan sebagai panlak KMdN XIX),  disertai dengan kerendahan hati, kerja keras, dan kebergantungan akan peran Tuhan, tidak akan pernah Tuhan kecewakan. (I Kor. 1: 25 – 29).


Jakarta, 18 Agustus 2014
dr. Lineus Hewis, SpA
Panitia Pengarah KMdN XIX Bali


Selasa, 23 September 2014

Info Lowongan Kerja

















Syalom..
Selamat siang rekan-rekan pelayanan medis di Indonesia.
Info Lowongan Kerja :
RS. Mardi Rahayu membutuhkan tenga kesehatan :

  • Spesialis Bedah Mulut (Sp. BM)
  • Spesialis Jantung & Pembuluh Darah (Kardiolog)
  • Spesilis Rehabilitasi Medik (Sp. RM)
  • Spesialis Obstetri & Ginekologi (Sp. OG) 
  • Dokter Umum 
  • Dokter Gigi
dimana pengelolaannya di bawah Yayasan Kristen Kesejahteraan Mardi Rahayu, milik Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Kudus. Bagi yang berminat dapat menghubungi dr. Pujianto, MKes melalui email : dokterpujianto@yahoo.com.
Tuhan memberkati.

Senin, 22 September 2014

Finding Your Calling in Life (Part II)

Don’t be afraid to be a failure
When there are choices to make in life, any of us can make the wrong choice or fail in what we set out to do. Do not be disheartened because if any one says that they have not made a mistake they are
not being truthful. Or else they have not tried anything bold in life. God and life always give every one another chance in life, may be not the same things to choose from, but frequently something different and better. Do not be afraid to fail or make a mistake. So I went down to the potter’s house,
and there he was working at his wheel. And the vessel he was making of clay was spoiled in the potter’s hand, and he reworked it into another vessel, as it seemed good to the potter to do. - Jermiah 18:3,4

Have a plan
Have a rough road map of where you want to go in life. Everything may not go according to plan. Be ready to stop, take detours, and change directions along the way. It is always good to have a rough
plan or mental map of your trip. Having a plan makes the expedition easier. I am the Lord your God, Who teaches you to profit, Who leads you in the way you should go.-  Isaiah 48:17

Start some where
No matter how fantastic your dreams are, how much of details you have planned and mapped out your course, unless you set out you will never get there. Opportunities do not come looking for us; we have to look out for them. Sometimes we have to work hard to create opportunities in the challenges we face. So get off your seat and start. Work out your own salvation with fear and trembling; for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure.- Philippians 2: 12-13

Start small
Most great endeavours started small and most great lives had modest beginnings. Our tendency is to look for million dollar opportunities and miss the apparently insignificant ones which may eventually turn out to be massive ventures with hard work and perseverance. We wait for spectacular opportunities to come by while we let ordinary ones slip by, which may eventually turn out to be
magnificent. Do not disregard the small and the ordinary openings. Though thy beginning was small, yet thy latter end should greatly increase. - Job 8:7

Be accepting of life
Accept what life gives you. I have not got many things I wanted in life. That made me realise one is not given what one likes, but when one starts liking whatever one gets life becomes meaningful. Accept what life offers you rather than only accepting what you like. For I have learned in whatever situation I am to be content.-Philipians 4:11

Have an attitude of gratitude
Fulfilment in life or finding your calling does not happen in a day. It is good to have an attitude of gratitude for the ordinary opportunities each day. This adds to the joy of each day and makes you
look forward to life and the good things life and career have to offer. It also helps you to cope with disappointments and obstacles along your voyage. Be grateful for small steps of progress on the sojourn. Be joyful always; pray continually;give thanks in all circumstances,for this is Gods
will for you in christ jesus -1Thessolonians 5:16-18

Seek Gods Will
Some times in frantic planning and cativity one cannot hear the small voice of God promting us about Gods will in our lives. It is in moments of quietness reading the word of God , in prayer or some times silent contemplation that i have had the sense of Gods promtings and leadings in many choices I have made. At times it has been through the voice of those who love me and care for me like teachers, family as well as close friends. I wait for the lord,my soul waits and in his word I put my hope - Psalms103:5

Trust in God’s guidance and His goodness
Finally trust God and His goodness. He knows us, our desires, and our capabilities more than we ourselves. He can correct our mistakes and compensate for our bad choices and make our life beautiful. Discovering your calling is a life long journey Who ever can completly accept the will of God in every situation has learned something which will fill oned life with peace and joy.
And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose.- Romans 8:28

Finally, brothers, whatever is true, 
whatever is honorable, whatever is fair,
whatever is pure, whatever is acceptable,
whatever is commendable, if there is
anything of excellence and if there is
anything praiseworthy-keep thinking
about these things.- Philippians 4:8



Prof Dr George Mathew
#Excecutive Dean Universitas Pelita Harapan
dan Direktur Mochtar Riady Institute of Nanotechnology
Samaritan Second Edition on 2012

Selasa, 16 September 2014

Finding Your Calling In Life (Part 1)



As a fresh doctor, newly graduated from medical school, I stood on the platform of the railway station in my town, ready to undertake the longest journey of my life, to discover my calling,

brimming with hope, excitement and youthful enthusiasm. Now almost forty years later I still keep journeying, and it is difficult to say if I have found the calling in my life. Calling, to me, embodied what I did to give maximum joy, sense of satisfaction and accomplishment, and more importantly being aware that I was fulfilling a role in life beyond myself, being a channel of God’s blessing to others. 

People who find their calling or what gives them purpose and maximum joy early in life are very fortunate. They are the ones who arrive at their destination directly. I must confess that it was not so with me. My life’s journey has been a voyage of exploration and i am still on the road traveling. Finding calling in life meant assuming diverse roles and accepting various situations - student, social worker, surgeon, scientist, teacher - in India, in Bhutan, in Australia, in small mission hospitals or outposts, in state of the art tertiary centres. A single overwhelming sense of calling persisted through the decades – the desire to be a healer, to be an instrument of healing for the injured, whether physical, psychological, emotional or relational.

I do not equate calling to career. To me career is a job which provides the means to live. Sometimes your career and your calling merge and then the synergy leads to immense satisfaction. At different phases in my life I have considered varying career options, pilot, priest, researcher, and administrator.
But whatever career I have chosen I believe I may have persisted in seeking to be a healer. The urge to heal has been the recurring compulsion, perhaps the mission of my life. Often my career helped me to fulfil my calling. There were times when the healing was merely superficial.

As I look back at life, it is on those occasions when my career enabled me to be a healer in its holistic sense that I found pure joy and subsequently developed a passion for that experience. Passion, in my understanding, is that which inspires one to choose a preferred way of working and living that permeates every aspect of life. It is the one thing in life that you want to experience and which makes you willing to forego many other things in life.

But now we go on to the difficultquestion of how one realises one’s calling or find a passionate pursuit in life? Many of us (assuming my readers are associated with health care in some way) were
convinced that we wanted to be involved in medical care while we were growing up, well before embarked on formal medical training. This conviction may have been influenced by our perception that this is a profession which is a means to attain status, position, power, prestige or becoming wealthy. But none of these in itself can bring happiness or fulfilment.

Search and discover your God- given gift
I believe that in each of us God has placed an inherent ability or gift. Some of us are creative and artistic, some of us have the ability to be good listeners, some are patient, some of us can be persistent and persevering even while doing mundane repetitive tasks. Some have a taste for adventure; others are good with people management skills or networking. A few are good at writing or are articulate. I feel that we should look for a career in an area of medicine that will potentiate our natural God- given gift or talent.
Having then gifts differing according to
the grace that is given to us,let us use them
–Romans 12:6

Look for what gives you maximum joy
We should look for an avenue that gives us the most joy while we are doing it, be it teaching, surgery, administration, research or patient care. At various stages in my life I have had the opportunity to
play these different parts. Interestingly I felt elated when I managed to align these roles to my desire to be a healer. It is difficult to find Joy in being a teacher if you are uncomfortable being with
young people or is a poor communicator. It is difficult to be happy in a sterile research laboratory if your desire is to interact with people. You can not be a paediatrician and dislike noisy children.
Look for avenues that will give you joy and fulfilment.
Ask and you will recieve, that your joy
may be full-John 16:24

Follow your dream
Each of us has dreams about life. Dreams, plans and ambition are necessary and very often they embody a desire that you want to achieve beyond reality and limitations. Dreams can inspire one to move beyond the ordinary and at times to something spectacular. Dreams inspire you into action, but
without action dreams will remain mere dreams. Several of my dreams have remained elusive, but many have been fulfilled. We must dare to dream and carry our dreams in our heart.
“And it shall come to pass afterward, that
I will pour out my spirit upon all flesh; and
your sons and your daughters shall prophesy,
your old men shall dream dreams, your young
men shall see visions:”-Joel 2:28


by : Prof Dr George Mathew 
Samaritan First Edition on 2012

Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas