Senin, 13 April 2015

Bicara Tanpa Dipikirkan Lebih Dahulu

Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku - Mazmur 141 : 3

Seperti penyakit campak, ungkapan-ungkapan tertentu juga menular. Seorang temanku, dokter, terkenal dengan julukan "Corks" (sumbat), karena inilah satu-satunya kata yang ia lontarkan jika ada orang yang mengumpat dengan menyebut nama Tuhan. Menanyakan secara halus, "Apakah itu doa atau umpatan?" kepada orang itu bisa mengurangi kebiasaannya mengumpat. Mulut kita juga harus dijaga, agar kita tidak membocorkan rahasia, baik secara profesional, dalam doa umum atau melalui gosip. Kecaman yang diungkapkan tergesa-gesa dan kejengkelan mudah terpancing keluar, dan meskipun ditahan, sikap kita sering mengungkapkan apa yang tidak kita katakan. Betapa jauh perbedaannya dengan perilaku Tuhan Yesus yang kata-kataNya indah (Luk 4 : 22)

Sebagaimana yang meluap dari sebuah cangkir adalah isinya, begitu pula luapan hati yang keluar dari mulut (Mat 12:34). Pembualan menunjukkan hati yang congkak, ketidaksabaran berasal dari hati yang tegang (mungkin karena kelelahan) dan menghina orang lain adalah luapan hati yang dengki. Paulus mengingatkan agar kita memilih kata-kata yang penuh kasih (Kol 4:6) meskipun Yakobus mengakui, dalam praktiknya kita semua pada suatu ketika berbuat salah. (Yak 3 : 2)

Kita harus berdoa agar hati dan mulut kita dijaga, dan agar Roh Kudus nampak ketika kata-kata kita meluap dari hati. Sebagian dari bukti kehadiranNya ini nampak dalam sikap rendah hati yang kita tunjukkan bila kata-kata terlanjur diucapkan. Kesalahan harus diperbaiki di depan Tuhan, dan mungkin juga di depan orang lain.

Suatu malam aku dibangunkan oleh suster jaga yang memintaku memeriksa sesuatu yang kuanggap sepele. Suster itu merasa sakit hati karena kata-kata yang kuucapkan dengan tergesa-gesa itu. Komentarnya sesudah aku pergi ialah, "Itulah yang bisa diharapkan dari orang yang suka menampar oran lain dengan ayat Alkitab." Syukurlah sebelum aku diberi tahu akan komentar itu, Roh Kudus mendorongku untuk minta maaf kepada suster itu sebelum dia menyelesaikan tugasnya hari itu. Kenangan akan peristiwa yang memalukan ini membantuku selanjutnya untuk tidak lagi berbicara tanpa dipikirkanlebih dulu!

Baca : Efesus 3 : 14-21

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 06 April 2015

Paskah Abadi

Karna kita tahu, bahwa Kristus, sesudah bangkit dari anata orang mati, tidak mati lagi - Roma 6 : 9

Setiap dokter sudah tidak asing lagi dengan proses kelahiran. Menolong kelahiran seorang bayi ke dunia ini dapat merupakan suatu hal yang rutin. Mudah sekali bagi kita untuk mengabaikan proses itu, yaitu munculnya suatu kehidupan baru. Bagaimanapun, kelahiran adalah suatu peristiwa yang ajaib. Demikian pula kelahiran satu jiwa dalam kerajaan Allah merupakansuatu hal yang sangat ajaib. Semua itu bersumber pada kebangkitan Yesus dari kematian.

Ketika mengunjungi Leningrad pada tahun 1920, Hugh Redwood masuk ke dalam sebuah Katedral. Ia menggambarkan apa yang dilihatnya dalam bukunya yang berjudul "God in Shadows". Kunjungan itu dilakukan sebelum perayaan Paskah. Meskipun pemerintah Rusia dengan gencar berkampanye anti Tuhan, gereja itu penuh dengan jemaat yang berbakti. Salah seorang anggota jemaat, seorang wanita bangsawan, walaupun berpakaian jelek, merasa bahwa Hugh memperhatikannya, lalu ia menyapanya dalam bahasa Inggris.

"Anda seorang Inggris, bukan?" katanya, "dan di Inggris saat ini sedang merayakan Paskah. Tetapi di sini tidak ada Paskah, sebab menurut undang-undang Kristus telah dilenyapkan. Betapa jahatnya!Tetapi Kristus tidak mati, di Rusia sekalipun, mereka pikir mereka telah merampas-Nya, seperti mereka merampas Paskah kami, tetapi kami akan tetap merayakan Paskah di hati kami dan di situ Yesus akan bangkit lagi..."

Bagi banyak orang, Paskah datang dan berlalu. Bagi sebagian orang Paskah tidak berarti apa-apa atau hanya membawa sedikit sinar harapan, kemudian menghilang sampai tahun berikutnya. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya, perayaan itu berlangsung sepanjang tahun. 

Natal menceritakan mengenai seorang bayi di palungan dan suatu mujizat yang luar biasa. Tuhan telah menjadi manusia. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya, perayaan itu menceritakan mengenai kelahiran jiwa baru yang diberikan Tuhan ke dalam setiap hati manusia yang membuka dirinya bagi kehidupan Kristus. 

Jumat Agung menceritakan mengenai Anak Manusia yang tergantung di kayu Salib dan suatu perbuatan kasih yang luar biasa. Tuhan menawarkan diri-Nya sebagai tebusan untuk menyelamatkan kita. Bagi orang Kristen yang merayakan Paskah di hatinya perayaan itu menceritakan mengenai pengampunan, damai dan kuasa untuk hidup, yaang diberikan dengan suka rela oleh Kristus yang hidup. Oleh karena Kristus hidup, Paskah membawa pengharapan-nukan saja bagi kita yang mengikut Dia tetapi pengharapan untuk dibagikan kepada mereka yang tidak mengenal harapan seperti itu.

Tuhan yang Abadi dan Hidup, Engkau telah memberikan kepada kami suatu pengharapan yang hidup dengan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Tolong kami, yang juga dibangkitkan oleh Dia, untuk mencari hal-hal yang surgwai supaya kami boleh bersukacita dalam hidup abadi dan pengharapan baru.

Bacaan selanjutnya : Roma 6 : 1-11

Dikutip dari :
Diagnose Firman


Senin, 30 Maret 2015

Penyaliban

Ketika mereka sampai di tempat yang bernama tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ.
(Lukas 23 : 23)

Penyaliban, suatu jenis hukuman yang paling kejam, dirancang oleh orang Phoenicia. Ironisnya, bentuk penghukuman itu berasal dari agama mereka. Sebagai penyembah bumi, mereka tidak ingin mencemarkannya dengan darah orang jahat. Penyaliban sangat cocok dengan kepercayaan mereka. Pelaksanaan hukuman ini sangat mengerikan bahkan bila ditinjau dari sudut klinis yang tak berperasaan sekalipun.

Rasa sakit mulai terasa sejak permulaan. Paku dihunjamkan melalui telapak tangan atau pergelangan tangan. Apabila tiang salib dinaikkan atau diturunkan ke dalam lubang, maka tulang pundak pun terlepas. Setiap gerakan untuk menopang berat tubuhmengakibatkan tekanan pada kedua kaki. Kematian biasanya disebabkan karena shock atau kelelahan. Pengurangan volume sirkulasi darah diakibatkan oleh tidak adanya cairan, akibat dari posisi tegak, rasa sakit dan pendarahan serta luka bekas cambukan. Keadaan ini dibuktikan dengan seruan :"Aku haus." Tindakan terakhir ialah mematahkan kedua tulang lutut yang menyebabkan terhentinya kehilangan cairan dari sirkulasi darah. Jika ini tidak dilakukan, terjadi kelelahan yang luar biasa. Kematian datang dengan perlahan mungkin dalam tiga atau empat hari.

Kematian Tuhan Yesus merupakan ciri-ciri khusus. Apa yang terjadi di taman Getsemani menunjukkan adanya penderitaan mental dan spiritual yang sangat hebat. Di atas kayu salib, Dia masih sempat berkata-kata. Akhirnya Ia berseru dengan nyaring, menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya. Semua itu terjadi dengan tiba-tiba. Sampai saat terakhir Yesus masih dapat menguasai diri. Kejadian seperti ini sangat tidak lazim dalam proses penyaliban.

Kemudian ada bukti bahwa Yesus sudah mati. Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19 : 34). Yohanes tahu bahwa semua ini benar, ia menulisnya supaya orang lain percaya. Semua itu merupakan bukti kematian, bahkan jika dilihat dari kejauhan sekalipun, tetapi sebenarnya hal itu mempunyai arti yang lebih dalam.

Apa arti air dan darah? Kumpulan darah yang tersumbat kemudian dipisahkan menjadi serum dan sel darah akan tampak seperti darah dan air. Jika tampak dalam jumlah banyak, menunjukkan adanya kemungkinan pengumpulan darah dalam rongga perikardial atau pleura. Darah dalam rongga pleura tidak akan terpecah seperti ini, tetapi darah perikardial akan terpecah dengan cepat setelah kematian. Berdasarkan gambaran Yohanes, kemungkinan besar terjadi tamponade dan ini cocok dengan keadaan ruptur miokardial.

Dalam studi patologi, segala detail kejadian itu sungguh menarik. Jika kita renungkan apa hubungannya dengan arti terdalam dari kematian Tuhan kita Yesus Kristus? Sebuah mazmur yang seakan-akan sudah meramalkan penderitaan di Kalvari itu berbunyi : "Cela itu telah mematahkan hatiku." (Mzm 69 : 21) Baru-baru ini, seorang penulis lagu menulis : "Dia mati karena patahhati." Mungkin menggunakan metafora di sini perlu dipertanyakan karena mencampuradukkan faktor fisik dan emosi. Tetapi bagaimanapun juga, artinya mengena.

Untuk merenungkan salib-Mu, ya Tuhan, berarti menapak di atas tanah yang suci dan menggentarkan. Semua itu Kaulakukan untukku. Apa yang telah kulakukan untuk-Mu?

Dikutip dari :
Diagnose Firman

Diperlukan Pahlawan, Biarpun yang Enggan

Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani-Hakim-hakim 6 : 12

Kebanyakan dokter setuju dunia medis sekarang ini berantakan. banyak negara tidak punya sumber dana dan tenaga untuk melayankan perawatan kesehatan, bahkan yang paling sederhana sekalipun kepada rakyatnya. Orang sakit terpaksa menyuap dokter dan petugas agar dapat masuk rumah sakit dan dirawat. Di negara lain, rasa tidak puas menumpuk karena penjatahan perawatan kesehatan membuat pasien menunggu berbulan-bulan untuk menjalani pembedahan. Ditambah lagi maraknya perdebatan tentang masalah etika dewasa ini. Keadaan makin suram karena praktik aborsi-sesuai permintaan kini sudah terjadi di negara-negara baru. Medan pertempuran etika sekarang adalah euthanasia, yaitu menyatakan jaminan akan kematian yang bermartabat bagi pasien yang memintanya. Seorang lansia di Afrika Selatan yang mendukung pengesahan euthanasia berkata, "Aku tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang kuperlukan dari sistem negeri kita dan aku tidak mau menderita. Euthanasia merupakan satu-satunya jaminanku agar tidak menderita."

Apa yang harus dilakukan dokter Kristen ketika mereka menghadapi permintaan seperti itu? Apakah semakin sulit memberikan pengobatan dengan cara seperti Kristus? Setelah terjerat arus bawah sistem kesehatan yang jalannya terhalang, kita tertimbun oleh lebih banyak masalah etika seperti pengembangan kloning, bayi pesanan dan riset janin. Tapi jangan putus asa! Tuhan tidak murung. Ia masuh berkuasa dan rasanya Ia mencari pahlawan-pahlawan biarpun mereka enggan seperti Gideon.

Anda masih ingat ceritanya? Pada tahun 1200 SM bani Israel berbalik meninggalkan Tuhan. Mereka diusir dari negeri sendiri oleh orang Midian yang mengambil alih tempat tinggal mereka dan diam di situ sambil menunggu untuk mencuri hasil panen yang akan datag, sementara orang Israel bersembunyi di gua-gua seperti hewan. Tuhan merendahkan umatnya sedemikian rupa, sehingga mereka akan berseru-seru kepada Dia.

Ini langkah pertama sebelum Tuhan mencampuri urusan manusia. Jika kita, para dokter, berseru memohon pertolongan Tuhan sesering kita mengeluh, pasti tidak lama lagi campur tangan Tuhan akan nyata. Seperti tertulis dalam Roma 12 : 12 bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa. 

Baca : Hakim-hakim 6

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis




Senin, 23 Maret 2015

Peranan Doa dalam Penyembuhan

Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia..-Yakobus 5 : 14

Ada tiga  hukum di dunia yang mengikat kita-hukum alam, hukum moral atau perilaku dan hukum spiritual. Hukum alam mencakup cara tubuh bekerja dan menyembuhkan diri sendiri. Dalam bidang ini hampir semuanya dapat diramalkan.Inilah bidang kedokteran somatik. Di India, Pelayanan Kesehatan Masyarakat khusus mengurusi pengendalian pembawa penyakit (termasuk kuman) dan vaksin. Bidang ini banyak berurusan dengan hukum alam.

Hukum moral atau perilaku, hasilnya dipengaruhi oleh emosi dan pilihan kita. Di Amerika Serikat, konferensi Pelayanan Kesehatan Masyarakat mengutamakan pembahasan alkoholisme, kecanduan obat terlarang, kegemukan, penyakit kelamin, AIDS dan stres. Sebagian besar gangguan ini akibat pilihan pribadi. Dan, bagi orang Kristen, doa merupakan alat kesehatan yang ampuh karena doa mendorong pilihan moral dan sehat.

Hukum spiritual menyangkut hubungan kita dengan Tuhan. Kita diciptakan "menurut gambar-Nya", dan otak atau akal kita merupakan alat yang dipakai roh kita untuk mengendalikan tubuh kita. Ketika kita berdoa meminta kesembuhan, kita mungkin berpikir tentang rasa sakit di badan atau gejala-gejalanya. Ketika Tuhan mendengar doa kita, Ia melihat dulu apakah ada amarah atau kegetiran yang mengganggu kualitas hidup kita. 

Konsep alkitabiah tentang "syalom" bermakna kesempurnaan, kesehatan dan kesejahteraan-damai yang berasal dari hidup dalam ketaatan terhadap Allah (Yes 48 : 18-19, 22). Syalom inilah yang menimbulkan keseimbangan dan kesehatan yang terdalam :
Lenyaplah, semua ketakutan dan kesedihan,
Karena Tuhan sumber sukacita
Yesus, masuklah;
siapa yang mencintai Bapak,
meskipun di tengah badai,
di dalam diriNya tetap damai;
ya, apa pun harus kutanggung di sini,
pada Engkaulah terdapat kebahagiaan sejati,
Yesus, harta tak ternilai. 
(Johann Franck-1618 s/d 1677)

Baca : Markus 6 : 1-6                                                                                                               PBra

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis



Senin, 16 Maret 2015

Gembalaku

Takkan kekurangan aku-Mazmur 23 : 1

Ada banyak hal yang saya inginkan : siap untuk bertugas jaga di rumah sakit; memanjat tangga karir, menjaga tempramen saya, mengambil waktu istirahat setengah hari, memiliki banyak teman, keluar dari kesibukan hidup yang menjemukan dan memiliki mobil yang lebih besar. Oh ya, dan menjadi saksi yang lebih baik. Tidak benar bahwa saya tidak menginginkan apa-apa. Kesalahan kita adalah menyamakan keinginan dengan kebutuhan kita, ini adalah sikap anak kecil. Konsep Daud yang lebih matang melihat pada pemeliharaan Allah yang tak terbatas daripada keinginan yang banyak. Dalam pemeliharaan Allah, tak satu pun dari kebutuhan kita yang kurang. Yang Daud katakan bukan tidak berkekurangan dalam hal yang diinginkannya.

Gembala yang baik mempunyai sumber-sumber yang tak terbatas (Flp. 4 : 19). Dia juga mempunyai rencana yang besar untuk karir kita (Yoh. 10 : 27). Dia sepenuhnya menyadari kebutuhan kita sehari-hari (Mat. 6 : 25,32). Dia memperhatikan semua kebutuhan kita. (Yak 1 : 4)

Dalam masyarakat berteknologi tinggi, keharusan menunggu apa yang kita butuhkan sudah tersingkir. Baik secangkir kopi atau suatu reaksi biokimia atau telepon antar benua cukup dengan memijit tombol yang tepat maka kehendak kita akan tercapai. Tidak demikian dengan pengembalaan. Kalau kita melihat sekumpulan domba-domba, kita melihat adanya pertentangan antara keinginan masing-masing domba akan jalannya sendiri dan keinginan si gembala untuk mereka semua. Mereka mungkin menjadi liar atau panik dan mencoba membebaskan diri, tanpa menyadari bahwa gembalanya sedang membawa mereka ke padang rumput yang lebih hijau atau ke tempat yang lebih aman. Betapa lebih baik bagi semua pihak, kalau mereka telah mengerti rencana-Nya! Keinginan mendapat rumput kering sangat tidak berarti dan bodoh dibandingkan padang rumput hijau yang sedang menunggu. Belajar percaya dan menurut berarti belajar pula untuk menanti. Untuk kita berarti menanti Allah.

Para dokter umumnya bersifat tidak sabar. Tekanan pekerjaan yang berlebihan dan krisis-krisis dalam hidup yang harus ditanggulangi, bercampur dengan sikap pasien yang pasrah dan harapan tinggi dari teman sejawat, menimbulkan sikap tinggi hati dan ketidakramahan. Hal ini merugikan anggota tim yang lain maupun para pasien. Ujian kesabaran datang dalam berbagai bentuk : telepon yang mengganggu, tanya jawab dengan pasien, klinik yang penuh, ada saja hal yang dapat menghabiskan kesabaran kita. Di saat itu, kita dapat menggunakan kesempatan untuk datang kepada Gembala kita, memilih untuk tinggal dekat dengan-Nya daripada lari tak terkendali. Baru sesudah itu kita dapat melihat bagaimana tiap hari Dia membawa kita ke air yang lebih tenang. Dengan demikian semangat bersatu akan bersemi dalam tim, para pasien menyadari adanya suasana lebih tenang dan kita dapat belajar bahwa jika permohonan dibuat sesuai dengan kehendak-Nya, Dia betul-betul akan mencukupkan.

Tak akan kekurangan aku,tak akan kekurangan aku
jika aku milik-Nya dan Dia milikku selamanya.

                                                                                                                                   
Bacaan selanjutnya : Filipi 4 : 6-19

Dikutip dari :
Diagnose Firman

Rabu, 04 Maret 2015

Menaruh Dendam

Segala kepahitan, kegeraman ... hendaklah dibuang di antara kamu ... (Efesus 4 : 31)


Siapa pun yang memulainya, menaruh dendam menimbulkan rintangan di tempat kerja, mempengaruhi suasananya, mengganggu komunikasi dan merusak efisiensi kerja. Orang sakit yang berada dalam situasi seperti itu akan menderita. Seperti ada batu kerikil di dalam mesin, tapi kehadiran seorang Kristen dapat menjadi seperti minyak Tuhan untuk melumasi mesinnya. Menghilangkan kepahitan tidak akan tercapai dengan cara berpihak atau berdiam diri. Yang diperlukan adalah tanggapan bukan hanya reaksi. Kita harus berdoa agar ada kesempatan bagi kita untuk menuangkan "minyak", dengan lembut dan rendah hati. Pembicaraan dengan hati panas akan menimbulkan amarah daripada penyesalan, apalagi jika kesalahan ada di kita sendiri. Situasi akan menunjukkan kepada kita apakah pembicaraan sebaiknya dilakukan bersama seluruh anggota tim atau secara perorangan.


Seorang dokter perempuan yang menyusun jadwal tugas juga menyadari seorang anggota timnya terang-terangan menghindari dia, maka ia mendoakannya. Tak lama kemudian, mereka bertemu di pintu berputar dari arah yang berlawanan. Mereka bisa saja saling mengabaikan karena ada pembatas kaca di antara mereka, atau ia bisa menunggu sampai pria yang ia doakan itu pergi. Tapi ia segera menaikkan doa SOS agar diberi hikmat, dan mereka bertemu. Dengan menyebut nama pria itu, dan dengan penuh perhatian, dokter perempuan itu bertanya, "Ada masalah apa?" Maka dengan begitu keluarlah "batu kerikil" yang mengganggu. Ternyata pria itu menaruh dendam karena jadwal tugas jaga dirasanya tidak adil. Begitu masalahnya terungkap, keduanya saling memaafkan dan hubungan mereka membaik.

Mengapa kita yang sudah banyak pekerjaan, menyusahkan diri dengan hal-hal seperti itu? Ada alasan yang lebih dalam daripada sekedar meningkatkan efisiensi. Kita harus hati-hati terhadap sikap-sikap yang menghancurkan, termasuk yang ada di dalam diri kita, karena Tuhan sangat peduli memulihkan hubungan yang terputus anatara kita dengan Dia. Justru karena kasih Tuhan maka Paulus mendesak kita mengusir kepahitan di dalam hati, dengan bersikap "ramah ...penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Ef 4 : 32).

Baca : Titus 3 : 1-8

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 23 Februari 2015

Duri dalam Daging

Aku diberi suatu duri di dalam dagingku...aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku.Tetapi jawab Tuhan kepadaku,"Cukuplah anugerah-Ku bagimu ..."
(2 Korintus 12 : 7-9)

"Duri dalam dagingku-apakah itu suamiku atau kecanduanku akan alkohol?"Pasienku, seorang alkoholik, berusaha mengatasi ketagihannya akan alkohol melalui pendekatan rohani. Ia mulai memahami bahwa Allah menerima ia tanpa syarat ketika ia masih berdosa, dan ini memberi ia kekuatan untuk menjadi baik. Seperti perempuan itu, kita dapat membenci dan mencintai diri kita sendiri pada saat yang sama, dan menginginkan kebaikan dan kejahatan bersamaan. Mengapa kita begitu cacat?

Paulus diberikan sebuah 'duri' dalam daging. Apakah itu? Apakah itu kelemahan tubuh, atau salah satu dosa nafsu dan keinginan daging? Ada yang berpikir "duri" tersebut mungkin penyakit yang berhubungan dengan mata, seperti trakom, atau penyakit laiinya seperti malaria kronis atau epilepsi. Ada yang berpendapat "duri" itu adalah godaan rohani atau oposisi terhadap Injil yang tak kunjung reda. "Duri" Paulus yang sebenarnya kita tidak tahu! Ketidakpastian ini memberi kebebasan kepada setiap orang untuk mengartikan "duri" sebagaimana yang dipikirkan mereka. Jadi "duri" yang merupakan penghalang yang tidak diinginkan agar dapat melayani Tuhan dengan efektif dan bebas.

Inti dari pengalaman Paulus tersebut, Tuhan bekerja walaupun, atau lebih tepatnya melalui, "duri" kita. Anugerah Allah cukup dalam setiapkeadaan. Kekuatan-Nya ditunjukkan dalam kelemahan kita. Tuhan memakai kita walaupun kita mempunyai kelemahan. Tentu saja ini bukan berarti menerima segala sesuatu diperbolehkan. Kita tidak boleh terus berbuat dosa agar menerima lebih banyak lagi anugerah. Tidak! Kita berjuang melawan dosa dalam diri kita, dan meminta Allah memulihkan kita, yakin bahwa anugerah-Nya cukup buat mempersiapkan kita untuk hidup yang telah Ia rencanakan bagi kita. 

Tapi ada satu pemikiran akhir yang mengganggu. Bila Tuhan memperlakukan kita dengan anugerah sedemikian rupa dan menerima kita sebagaimana adanya, mengapa kita tidak melakukan hal yang serupa kepada orang lain?Mengapa kita begitu sulit memafkan?

Baca :
2 Korintus 12 : 1-10; Galatia 5 : 16-26


Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas