Selasa, 15 April 2014

Jangan Lupa Getsemani!

"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya..." Ibr. 12:3a

Barangkali Anda tahu dan pernah menyanyikan/mendengar sebuah lagu dengan refrain sbb:
"Jangan lupa Getsemani/ jangan lupa sengsaraNya/ jangan lupa cinta Tuhan/pimpin ke Kalvari".

Saya tidak tahu persis apa yang sedang dialami oleh si pencipta lagu tersebut sehingga dia mengabadikan pesan tersebut melalui sebuah lagu. Yang jelas, pesan untuk tidak melupakan Getsemani juga merupakan pesan Alkitab. Perhatikan bagaimana penulis-penulis Injil menceritakan peristiwa Getsemani tersebut dengan cara yang amat mengharukan (Lihat Mat. 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Kita yakin, siapapun yang membaca kisah tersebut dengan sikap terbuka dan sunggguh-sungguh pasti terharu dan memiliki perubahan dalam pikiran, hati dan sikap hidupnya.

Mengapa kita tidak boleh melupakan Getsemani?

Pertama, karena di tempat tsb, Tuhan kita Yesus Kristus mengalami pergumulan yang sangat berat demi kita.

Sungguh penulis2 Alkitab dgn sangat jelas menuliskan bhw semua penderitaan Yesus tsb dideritaNya bukan demi diriNya sendiri, tetapi demi kita. Itu sungguh bukan sekedar kecelakaan sejarah karena ada satu rezim yang lalim dan kejam. Itu juga bukan sekedar salah perhitungan -di pihak Yesus- yang ingin memaksa Allah menghadirkan kerajaan Allah itu dengan segera. Juga bukan sekedar kisah yg diciptakan oleh rasul2 demi membangkitkan semangat religious semata. Sebenarnya, jauh sebelum peristiwa itu, lebih kurang 700 thn sebelum peristiwa itu, seorang nabi telah menubuatkan penderitaan Hamba Allah itu (Yes.52:13-53:12). “Sesungguhnya penderitaan kitalah yg ditanggungNya...”, demikian salah satu kalimat nabi besar PL tsb. Karena itu, sekalipun ada orang yg melupakan dan skeptis terhadap peristiwa itu, kita bersyukur bhw banyak orang yg menerimanya dgn segenap hati. Banyak orang yg menjadikan peristiwa satu peristiwa yg memberi kekuatan dalam jiwa dan rohnya. Banyak juga orang yg ingin memberitakan peristiwa itu, dengan berbagai cara, termasuk dgn lagu tsb di atas. Kembali kpd tulisan murid2 yd dpt dipercaya tsb, marilah kita perhatikan bagaimana perasaanNya. Matius menulis "Ia merasa sedih dan gentar" (Mat 26:37) Lukas, seorang akademisi, dokter, yang memiliki kemampuan berbahasa Yunani lebih baik dari penulis Injil lainnya mencatat: "Ia sangat ketakutan..." (Luk 22:44).

Menarik sekali memperhatikan kenyataan berikut ini. Kata yang dipilih Lukas untuk mengatakan ketakutan tersebut dalam bahasa aslinya adalah agonia. Dalam seluruh Perjanjian Baru, kata tersebut hanya digunakan sekali saja, yaitu di dlm ayat ini. Kata tsb menunjukkan kpd adanya konflik batin atau ketegangan yang amat hebat. Setelah itu, mari kita perhatikan juga sharingNya kepada murid-murid terdekatNya yang sengaja Dia bawa untuk turut bersama Dia dalam menghadapi pergumulan yang hebat itu. Yesus yang sebelumnya begitu tegar dan menghibur murid-muridNya agar jangan gelisah dan gentar, kini dgn jujur dan terbuka berkata: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku" (Mat 26:38).

Di sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus tidak malu mengaku kepada murid-muridNya perasaanNya yang sesungguhnya. Dia juga, bahkan tidak segan meminta pertolongan dari mereka, sebab Dia memang amat membutuhkan mereka. Kita dapat membayangkan sejenak bhw seorang Guru yg selama ini tampil dgn sangat tegar siap ditantang dan memberi tantangan kpd siapa saja, termasuk pemimpin agama, kini ditampilkan bagai satu pribadi yg ‘lemah’ dan ‘mengemis’ pertolongan.

Hal lain lagi yang dapat kita amati adalah isi doanya: "Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu..." (Mat 26:39). Kalimat tersebut mencerminkan pergumulan yang berat juga bukan? Pernahkah Anda begitu bergumul dalam doa dan memohon seperti doa tersebut? Bila pernah, tentu Anda sedikit dpt merasakan beratnya pergumulan tersebut. Ada dua fakta lain yang dituliskan dokter Lukas menunjukkan betapa seriusnya pergumulan Yesus tersebut yang tidak ditulis oleh penulis Injil lainnya. Setelah dicatat betapa takutnya Yesus(NIV Bible menterjemahkan agonia tersebut dengan anguish) maka Lukas melanjutkan "Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan di tanah" (44). Rupanya dokter Lukas ingin meyakinkan pembacanya betapa beratnya pergumulan tersebut dengan menyodorkan fakta adanya peluh darah tersebut. Lukas, yang adalah dokter, sedang menyodorkan kasus medis yang amat jarang terjadi. Menurut seorang ahli di bidang medis, ketika seseorang ada dalam kondisi stress yang hebat, maka orang tersebut akan mengeluarkan keringat yang lain dari biasanya, sampai pada batas klimaks, pembuluh darahnya pecah sehingga keluar keringat campur darah. Hal lain yang juga hanya dicatat oleh Lukas adalah adanya seorang malaikat dari langit, menampakkan diri untuk memberi kekuatan. Setelah T Yesus mengucapkan doa tsb di atas, mk Lukas kemudian mencatat: “Mk seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya” (Luk.22: 43). Semua itu menunjukkan kondisi betapa beratnya penderitaan Yesus di saat itu. Namun demikian, di taman itu, Yesus rela menderita demi kita. Karena itu, biarlah taman itu mengingatkan kita kembali akan kasih dan kesetiaan Yesus yg telah didemonstrasikan demi kita. Dengan demikian, kita juga diilhami untuk melakukan hal yang sama bagi Dia, ketika kita bergumul dan menderita di ‘taman’ kita masing-masing.



Dikutip dari :
Artikel renungan oleh Pdt. DR. Ir. Mangapul Sagala


Selasa, 08 April 2014

Kemarahan Yang Dibenarkan?

Tetapi berfirmanlah Allah pada Yunus :"Layakkah engkau marah?'-Yunus 4 : 9

Beberapa minggu yang lalu saya amat marah kepada dua orang pasien (sesuatu yang tidak biasa buat saya!), tetapi kejadian ini mengajarkan saya pelajaran yang berguna. Saya marah kepada pasien yang pertama bahkan sebelum saya melihatnya! Terjadinya pad akhir minggu, ketika saya diminta untuk mengadakan kunjungan rumah yang jaraknya beratus kilometer dari tempat saya praktek. Berminggu-minggu sebelumnya saya sudah mencoba meyakinkan partner-partner saya untuk menghapus nama pasien yang bertempat tinggal jauh dari daftar kerja kami, tetapi belum ada peneleaian tentang itu. Sekarang ada pasien yang bertempat tinggal jauh dan tidak dapat datang ke rumah sakit.

Saya menggerutu sepanjang perjalanan, di jalan desa yang sempit. Saya tidak memiliki peta tempat itu dan harus berhenti dua kali di tengah udara yang dingin untuk menanyakan arah yang selanjutnya. Ketika akhirnya saya menemukan rumahnya, saya dalam keadaan tidak lagi memiliki belas kasihan terhadap si sakit!Saya hanya mencatat riwayat kesehatannya sambil memeriksa seadanya, lalu menganjurkan dengan keras, agar si pasien mencari dokter setempat untuk merawatnya karena dia betul-betul dalam keadaan sakit. Dia menyambutnya dengan perasaan yang tidak senang dan ini dapat dimaklumi, karena tanpa setahu saya, dia telah menjadi pasien di tempat praktek saya selama dua puluh tahun, sebelum dia pindah ke luar kota baru-baru ini. Dengan cepat saya menangkis penolakannya dan berkata bahwa saya hanya memikirkan kepentingannya. Pada saat saya mengatakan hal itu, Roh Allah menegur hati nurani saya dan berkata, "Sesungguhnya engkau hanya memikirkan kepentinganmu sendiri, engkau jengkel karena harus menyetir sedemikian jauh dan akan terlambat untuk makan siang.

Kemarahan saya yang beralasan telah diperhadapkan pada kenyataan yang sebenarnya; yaitu keegoisan yang membawa pada kemunafikan dan dusta terhadap pasien. Tuhan, lepaskan kami dari prasangka untuk menentukan pendapat sebelum mengetahui kenyataan dan kemunafikan yang menjatuhkan kesalahan pada orang lain, padahal kesalahan sebetulnya ada pada saya. Berikan saya kasih Yesus yang tak mementingkan diri sendiri yang menguntungkan orang lain & memenuhi kebutuhan mereka,betapapun tidak menyenangkan bagi saya sendiri.(TGS)


Bacaan selanjutnya : Yunus 4 : 1-11
Dikutip dari :
Diagnose Firman
Sarana Vitalitas Rohani Para Dokter dan Tenaga Medis

Rabu, 26 Maret 2014

Untuk Siapa Kita Bekerja?

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.-Kolose 3 : 17

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3 : 23-24)

Dan Raja itu akan menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25 : 40)

Judul sebuah lagu pop yang terkenal setengah abad yang lalu sangat menarik yaitu : 'Bukan apa yang anda lakukan, tetapi cara ana melakukannya." Dengan kata lain, tujuan lebih penting dari pekerjaan itu sendiri. Apa yang mendorong kita melakukan sesuatu? Bagi Rasul Paulus, dorongan itu adalah kasih Kristus. Memang benar kita bekerja untuk Pusat Kesehatan Masyarakat, para atasan dan pasien kita, tetapi bagi dokter-dokter Kristen 'Yesuslah yang kita layani.' Pola pemikiran baru ini membawa beberapa dampak yang positif, yaitu membuat pekerjaan kita lebih menarik, sehingga tugas yang paling membosankan sekalipun jadi berarti. Hari-hari yang kita lalui mempunyai arti khusus pada saat kita menyerahkannya kepada Dia, dan kita tahu bahwa Tuhan hadir sementara kita melakukan tugas-tugas kita. Ini berarti bahwa pekerjaan kita di rumah sakit sama rohaninya dengan apa yang disebut pelayanan orang Kristen. Pembatasan antara pekerjaan dunia dan rohani hanya buatan manusia.

Buku kecil yang berjudul 'The Practice of The Presence of God' berisi pemikiran seperti ini dan hal ini menjadi nyata dalam kehidupan seorang biarawan yang saleh yang menjadi nyata dalam kehidupan seorang biarawan yang saleh yang menjadi pengurus dapur biara. Pastur Lawrence menemukan bahwa ia dapat melayani Tuhan di tempat itu dengan selalu hidup dan bekerja di hadapan hadirat-Nya. Ternyata bahwa ia lebih banyak berbakti di dapur daripada di meja; inilah doanya :
Tuhan atas poci dan panci ...
Jadikanlah saya seorang kudus
Dengan menyiapkan makanan dan 
mencuci semua piring yang kotor.

Bacaan selanjutnya : 1 Tesalonika 4 : 1-12

Senin, 17 Maret 2014

Mengatakan Kebenaran di Dalam Kasih

Aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.- 3 Yohanes 3

Sebagai praktisi medis Kristen kita perlu mengatakan kebenaran, kebenaran seutuhnya, dan hanya kebenaran; dengan menghindari sikap kasar tanpa perasaan dan sebaliknya berbicara dengan hati-hati, penuh kasih dan penuh perasaan. Kata 'Ya; haruslah tetap 'Ya', dan 'Tidak' haruslah tetap 'Tidak'. Terkadang, dalam kasus sulit, kita tergoda untuk berbohong mengenai diagnosis untuk mengurangi pukulan bagi pasien dan keluarganya. Pada akhirnya, kita terperangkap saat diagnosis yang sebenarnya disampaikan dan kepercayaan mereka kepada kita pun hancur. Namun, akan menolong jika kita memberi gambaran secara bertahap sehingga yang mendengarnya lebih mampu mendengar kebenaran, menghubungkan setiap informasi yang telah diberikan sehingga beroleh pemahaman seutuhnya akan situasi sebagaimana adanya.

Banyak pernikahan disia-siakan oleh salah satu atau kedua pasangan yang menyembunyikan sebagian atau seluruh kebenaran. Bukan hanya dosa-dosa yang memalukan seperti perzinahan, tapi juga dosa-dosa yang tidak kentara seperti berbohong demi kebenaran, pemutarbalikkan dan cerita yang sengaja disampaikan tidak lengkap, yang seiring dengan waktu mengikis kepercayaan. Dengan cara yang sama kita dapat kehilangan kepercayaan dari anak-anak kita atau anggota keluarga lainnya.


Mengatakan kebenaran tidaklah selalu mudah. Saat Kristus berkata bahwa mereka yang memegang ajaran-Nya akan mengetahui kebenaran (Yoh 8 : 31-32), Ia ditantang oleh ahli Taurat Yahudi dan berhasil meloloskan diri. Petrus, walaupun dengan pahit menyesali mulutnya yang terlalu cepat berbicara,  memberitahu orang Kristen untuk siap sedia memberi jawaban kepada siapapun yang menanyakan pengharapan yang kita miliki, tapi dengan lemah lembut dan hormat (1 Petrus 3 : 15-16). Ketika seorang Kristen berdosa terhadap kita, kita perlu "menegur dia di dalam kasih" (Mat 18 : 15). Sebaliknya ketika kita bersalah, kita perlu menerima teguran dan hidup rukun. "Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar" (Ams 25 : 12)

Baca : 1 Petrus 2 : 1-3; Yohanes 8 : 31-59
Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Kamis, 13 Maret 2014

Integritas : Diperlukan Sekali atau Kolot?

Aku telah hidup dalam ketulusan.--Mazmur 26 :1

Kehidupan modern telah banyak sekali menuntut kompromi atau kepurapuraan, di samping godaan untuk menyenangkan semua orang. Bohong kecil-kecilan dalam pergaulan sehari-hari dan tidak mengungkapkan fakta seluruhnya di tempat kerja adalah ungkapan dari ketidakjujuran. Ini mempengaruhi kita semua. Apakah kita selalu jujur dalam kehidupan profesional kita dan jujur terhadap rekan dan pasien kita? Apakah kehidupan pribadi kita seluruhnya transparan? Batu landasan suatu kehidupan perkawinan dan rumah tangga yang stabil bukanlah cinta yang senti mentil atau sensual, melainkan kebenaran dan kesetiaan.

Salah satu pernyataan utama Tuhan Yesus adalah Dia bukan salah satu kebenaran atau disebut sang kebenaran, melainkan penjelmaan Kebenaran itu sendiri. Di dalam Kristus kita mendapat kehidupan-Nya dipusatkan hanya pada satu tujuan, terbuka dan sama sekali bebas dari tipu muslihat. Ia tidak bisa menipu. Ia tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi, Ia menghadapi kita secara pribadi, agar kita menjadi satu dengan Dia (Yoh 17 : 21). Kalau begitu bagaimana bisa pendosa seperti Daud dan Ayub mengakui hati mereka tulus? (Mzm 41:12; Ayub 2:3). Bukan karena mereka tanpa kesalahan, tapi hubungan mereka dengan Tuhan memungkinkan mereka untuk bersikap terbuka kepada Dia, dan mereka tahu pertobatan mendatangkan pengampunan (Mzm 51). Tanpa adanya dalam diri kita kamar-kamar rahasia yang tertutup bagi Dia, Tuhan bisa bersekutu dengan setiap kita dan kepercayaan yang total membuat kita tetap bersatu dengan Dia.

Watak Kristus yang sempurna menyatakan Allah kepada kita. Dengan Roh-Nya Ia ingin mengubah semua hubungan manusiawi dan semua kegiatan kita. Oleh karena itu, harus diketahui semua orang bahwa orang Kristen tidak hidup berpura-pura atau munafik----sifat-sifat yang lebih dihargai dalam masyarakat hedonis dan utilitarian. Pengungkapan adanya kecurangan di bidang ilmu pengetahuan mengingatkan kita juga bahwa pekerjaan yang baik dan bertahan lama harus juga dilandasi dengan kejujuran.

Doa :
Allah, tolonglah kami untuk jujur terhadap Engkau dan sesama kami, sehingga kami bisa memuliakan Engkau dalam segala hal dan tidak perlu merasa malu di hadapanMu, pada hari kedatanganMu. Amin.

Baca : Mazmur 26

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Rabu, 26 Februari 2014

Berdoalah dengan Tekun




Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal.- 1 Tesalonika 5 : 16-18
Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk selalu berdoa dengan tidak jemu.-Lukas 18 : 1


 
Seberapa banyak doa mengisi hidup kita? Sebuah pedoman menganjurkan 4 tahapan kehidupan doa yaitu sebagai berikut :
  1.  “Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengarkan seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu dan aku menunggu-nunggu.”-Mzm 5 :4
  2. “Waktu petang, pagi dam tengah hari aku cemas dan menangis, dan Ia mendengar suaraku.”- Mzm 55 : 18 
  3.  “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.”-Mzm 119 : 164 
  4.   “Tetaplah berdoa.” 1 Tes 5 : 17 
Doa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan Tuhan Yesus dan orang-orang besar dalam Alkitab dan sejarah gereja. Mungkin kita mengira bahwa berdoa terus-menerus hanya urusan para raksasa rohani. Ini tidak benar. Paulus menganjurkan semua orang Kristen di Tesalonika : “Tetaplah berdoa…sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” Kita perlu berdoa secara teratur dan disiplin dengan menyediakan waktu untuk memulai dan mengakhiri hari bersama dengan Allah.


Diantara saat doa itu kita bekerja, bepergian, makan, berurusan dengan orang lain dan sebagainya. Apakah anda berdoa sebelum memeriksa pasien? Saya selalu berdoa sebelum melakukan suntikan intravena, pungsi lumbar ataupun parasentesa. Ternyata sangat menolong. Bagaimana dengan doa mengenai persoalan-persoalan dan hubungan dengan sesama? Nabi Nehemia melaksanakan ini. Ketika raja bertanya : “Apa yang kau inginkan?” Dikatakan : “Aku berdoa kepada Allah…kemudian jawabku pada raja.” (Neh 2 : 4-5)
Berdoa terus-menerus adalah berjalan dengan Allah sepanjang waktu, melibatkan Dia ke dalam setiap kegiatan dan hubungan kita dengan sesama.

Tuhan, ajarlah kami untuk berdoa.

Bacaan selanjutnya : Keluaran 33 : 11-17


Dikutip dari :
Diagnose Firman
Sarana Vitalitas Rohani
Para Dokter dan Tenaga Medis

Rabu, 19 Februari 2014

Dokter Kristen atau Dokter yang Kristen?

"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani."-1 Petrus 2:9

Pada masa reformasi 'ditemukan' kembali suatu kebenaran yang sempat dilupakan, yaitu bahwa setiap orang percaya adalah imam Allah. Semuanya mempunyai hubungan langsung dengan Tuhan lewat Kristus. Berarti semuanya bertanggung jawab penuh dalam pelayanan kekristenan. 
Kedokteran dan kekristenan kedua-duanya merupakan pekerjaan penuh (full time). Sekalipun para dokter mempunyai saat-saat "bebas tugas", tetapi kalau ada situasi darurat, mereka harus siap juga. Bahkan pada masa libur mereka. Jika pertolongan atau nasihat mereka dibutuhkan, mereka harus siap juga melayani. Hal ini dapat terjadi dalam situasi yang paling aneh sekalipun. Pada suatu saat ketika saya menyeberangi lautan Atlantik sebagai penumpang kapal Queen Elizabeth, saya menjawab panggilan darurat. Saya diminta sebagai penanda tangan kedua dari sertifikat kematian seorang rabbi bangsa Yahudi, yang harus dikubur di laut sebelum matahari tenggelam, karena hal ini dapat mengganggu hari Sabat mereka. Memang banyak orang yang meminta pendapat hanya karena kita adalah seorang dokter. Setelah bertahun-tahun hidup dan berpikir sebagai seorang dokter, kita pun sering kali memberi nasihat sekalipun tidak ditanya.

Bagaimana dengan kekristenan?
Kita cenderung menganggap para pendeta dan misionaris saja yang bekerja full time dalampelayanan kekristenan, tetapi sebenarnya kita semua adalah pelayan Tuhan, tidak kurang 'full time'-nya. Pernahkah anda memikirkan ini secara serius? Aktor James Fox mendapat banyak publikasi, karena setelah sekian tahun bekerja penuh dalam pelayanan, ia kembali ke dalam dunia teater untuk melayani Tuhan dalam lapangan ini. Sma seperti dia, kita dapat melayani Tuhan dalam praktek kedokteran. Kita dipanggil untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai korban persembahan yang kudus dan menyukakan Tuhan (Roma 12:1), termasuk juga pikiran dan pekerjaan kita. Pada waktu kita bekerja di rumah sakit, kita juga sedang dalam pelayanan sama seperti pada waktu kita berbakti di gereja. Rasul Paulus (Roma 12:6-8) mengingatkan kita akan talenta pribadi dari kita masing-masing. Sama seperti tubuh manusia yang terdiri dari berbagai bagian dengan berbagai fungsi, demikian juga tubuh Kristus yang terdiri dari para pelayan-Nya yang bekerja dalam berbagai profesi. Kita harus menjadi dokter Kristen yang menaruh penekanan yang sama pentingnya bagi kedua aspek panggilan hidup kita.

Bacaan selanjutnya : Kitab Roma 12

Dikutip dari :
Diagnose Firman
Sarana Vitalitas Rohani Para Dokter & Tenaga Medis





Rabu, 05 Februari 2014

Berdoalah Untuk Rumah Sakit Anda

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.-Yeremia 29 : 7

Tugas pertama saya sebagai dokter kelihatannya menuntut terlalu banyak. Atasan saya mulai melakukan operasi pada pukul 09.00 pagi. Ini berarti ia mengharapkan bahwa pasien sudah berada di atas meja operasi, sudah dibius dan diselimuti, dan sudah siap dengan pisau bedahnya.... Entah apa yang akan terjadi jika ia dibiarkan menunggu.

Kunjungan keliling saya mulai pada pukul 11.00 malam bersama dengan seorang perawat jaga malam. Saya beruntung jika bisa selesai pada pukul 12.00. Belum terhitung telepon yang berderin pada malam hari... ada 14 kasus gawat darurat dalam waktu 5 hari pertama saya bekerja. Selama 6 minggu pertama saya tidak dapat meninggalkan rumah sakit. Pada akhir masa tugas itu, saya lebih merasa sebagai seorang narapidana yang melakukan kerja paksa daripada seorang dokter yang baru saja lulus.

Pada saat-saat seperti ini doa harian dan penelaahan Alkitab dengan mudah terlupakan. Iman kita berada dalam keadaan bahaya menjadi layu dan mati akibat kekurangan gizi. Sudah tentu jawabannya terletak pada persekutuan Kristen yang penuh kasih dan hidup, tetapi persekutuan semacam itu tidak selalu tersedia. Pada saat-saat seperti ini kata-kata Yeremia kepada mereka yang berada dalam pembuangan pada masa itu menjadi bagian penting : "Berdoalah untuk kesejahteraan kota... rumah sakit... unit perawatan medis di mana anda sekarang ditempatkan. Berkat yang datang dari doa-doa yang anda panjatkan bagi orang-orang di sekeliling anda pasti akan tercurah juga kepada anda."


Tuhan dan junjunganku, saya begitu mudah melupakan-Mu di kala saya sedang sibuk. Saya berdoa, ampunilah saya. Biarlah kasih dan damai-Mu meliputi tempat dimana saya bekerja. Jadikan saya cermin yang memantulkan kasih yang Kau tunjukkan pada saya kepada para pasien dan kawan-kawan sekerja saya.






Bacaan selanjutnya :
Kejadian 39 : 1-6, 20-23


Dikutip dari Diagnose Firman
Sarana Vitalitas Rohani Para Dokter dan Tenaga Medis






Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas