Senin, 29 Juni 2015

Keluarga yang Berbahagia

Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? ---Matius 7:3

Ada lelucon lama berbunyi, : Mengapa kita semua tidak bisa rukun seperti satu keluarga besar?" jawabannya adalah, "Masalahnya --kita memang keluarga besar." Setiap orang yamg ingin menjadi anggota keluarga yang berbahagia meskipun di dalamnya ada permasalahan. Pertanyaannya bagaimana caranya?

Setiap dokter praktik umum tahu pentingnya perkawinan yang aman bagi kesehatan. Pasangan suami istri yang tidak bahagia karena didera persoalan rumah tangga, dan perkawinannya penuh pergumulan. datang kepadaku sambil menangis. Masing-masing berkata, "Aku harus memikirkan diriku sendiri." Tapi kalau saja merek
a berhenti melakukan itu, hidup akan tampak berbeda. Justru sekarang anak-anak mereka menunjukkan gejala adanya gangguan emosi. Takut kalau-kalau orang tua mereka yang suka bertengkar akan berpisah, atau jika yang satu pergi, maka yang lain akan pergi juga. Para praktisi medis akan menjadi terlalu stres untuk dapat mengenali trauma-trauma ini, atau bahkan mengalaminya sendiri.

Sumber rasa takut bisa apa saja. Pasangan bisa merasa takut kalau-kalau pasangan hidupnya mencari orang lain. Gadis-gadis usia sekolah yang hamil minggat karena takut mengakui keberadaannya kepada keluarganya. Para remaja takut dianggap aneh oleh teman sebaya. Di balik semua takut ini ada rasa takut terhadap kritikan dan penolakan, ditambah lagi buruknya komunikasi antar keluarga, termasuk para penasihatnya. Resep terbaik agar keluarga "kompak" adalah melakukan "Perubahan dimulai dari aku." Bila kita minta kepada-Nya, Tuhan akan memberi tahu hal apa yang perlu Ia ubahkan dalam diri kita. Kita mungkin perlu ambisi yang lebih sederhana, atau sikap tidak selalu mengkritik, demi terbentuknya keluarga yang lebih berbahagia.

Doa : Tuhan Yesus, keluarga-Mu di bumi terkadang salah memahami-Mu namun Engkau menanggapinya dengan hikmat dan anugerah dan meninggikan kesetiaan saudara-saudara-Mu. Sebagai anggota keluarga besar-Mu, kiranya kami mengenali kedamaian dan kerukunan di rumah kami sendiri dan siap membagikan rahasia ini dengan orang lain. Amin,

Baca : Markus 3 :30-31, 31_35; Lukas 4:22; 1 Korintus 9:5
Disadur dari For God's sake, Doctor!

Kamis, 25 Juni 2015

Lowongan Dokter Umum dan Dokter Spesialis


  1. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kasih Herlina telah hadir dan beroperasi sejak 11 November 2011. Melalui bendera yayasan Kasih Herlina dan izin penyelenggaraan Dinas Kesehatan Mimika Papua Nomor 445/810/2011 tertanggal 26 September 2011, RSIA Kasih Herlina bertekad melayani masyarakat umum sepenuh hati dengan sentuhan hati. Saat ini, RSIA Kasih Herlina membutuhkan Dokter Anak untuk berkarya melayani di Timika. 
  2. Siloam Hospital Makassar membutuhkan Dokter umum maupun Dokter spesialis untuk berkarya, melayani masyarakat.
Jika anda berminat dapat menghubungi ke :
1. RSIA Kasih Herlina : l_pardede@yahoo.co.id
2. Siloam Hospital : asrini.indah@siloamhospital.com

Senin, 22 Juni 2015

Memberi Semangat Satu Sama Lain


Barnabas...menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan ... Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman ... - Kisah Para Rasul 11:23-24

Kesaksian Barnabas mengingatkan kita bahwa memberi semangat adalah berkat yang jauh lebih besar dari kritikan sebanyak apa pun. Mulanya Barnabas berteman dengan Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus), sementara orang lain berfoukus kepada reputasi Saulus sebagai pembunuh (Kis 9:26-27). Kemudia ia mengajak Paulus menjadi rekan sekerjanya dalam mengajar gereja muda di Antikhia. Di sinilah orang percaya mula-mula disebut Kristen (Kis 11:25-26). Namun, setelah pertemanan yang begitu dalam, dia dan Paulus berpisah.

Sepupu Barnabas yang masih muda, Yohanes Markus, telah meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu Paulus dan Barnabas (Kis 13:5,13) tapi kemudian Barnabas ingin memberi dia kesempatan lain. Hal ini bertentangan dengan penilaian Paulus dan, pasti dengan perasaan sakit, kerja sama yang sudah lama itu putus (Kis 15:37-40). Alkitab jarang menyebut nama Barnabas lagi. Dari seorang "pelari di depan", ia tergeser ke belakang.

Tentu tidak mudah bagi seorang pemimpin, yang sebelumnya aktif, untuk mengundurkan diri dan menyerahkan dirinya untuk menjaga dan mengatur seorang muda. Tapi pasti karena dorongan ini, Paulus di kemudian hari meminta Yohanes Markus untuk menemaninya (2 Tim 4:11). Ia bertindak seperti seorang anak bagi Petrus (1 Ptr 5:13). Ini adalah pelajaran lain tentang campur tangan Tuhan dalam hubungan kita dengan orang lain. Seperti reputasinya, Barnabas menerima hikmat Roh Kudus dan terus memberi semangat, bahkan dari tempat yang jauh.

Jadi, apa akibatnya?Kita mempunyai Injil Markus!Injil kedua yang isinya dipercaya berdasarkan penuturan Petrus kepada Yohanes Markus. Jadi, dengan dorongan semangat secara "persaudaraan" dan penyerahan orang terdekat dan terkasih kepada hikmat Allah, tanpa disadari Barnabas terlibat dalam sebuah pelayanan yang terus berjalan. Teladannya memberikan semangat kepada kita untuk menjadi orang-orang masa kini yang memberikan semangat kepada orang lain.

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 15 Juni 2015

Edward Jenner, Sang Penakluk Penyakit Cacar

"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.." (Yakobus 1 : 27)

Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan dalam dunia yang penuh dengan cobaan. Aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati”. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 ini mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku firman Tuhan. Yakobus memberi penjelasan penting lainnya tentang arti berbahagia yang sesungguhnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Kristen "berbahagia" mendengar penjelasan ini. Ketidakbahagiaan ini lebih disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan tetapi karena ketidakmauan! Orang-orang yang seperti ini lebih senang menuruti kehendak hati dan kebenaran dalam persepsi diri sendiri daripada menuruti kehendak dan kebenaran Allah.

Edward Jenner, siapa yang tidak mengenalnya? Edward Jenner adalah sang penakluk penyakit cacar. Penyakit cacar merupakan teror dan momok daratan Eropa. Beribu-ribu manusia meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Sedang yang lain mencari perlindungan dengan cara sengaja minta disuntik dengan virus cacar yang masih hidup. Tehnik ini sudah lama dipergunakan sejak zaman kekaisaran Ottoman (Kerajaan Turki) dan dibawa ke Inggris, yang mana hal itu berhasil dengan baik di tangan para dokter seperti Thomas Dimsdale (yang bahkan menyuntik "Cathrine Agung" dari Rusia), namun kurang berhasil di tangan dokter-dokter lainnya. Harapannya adalah mereka yang tidak terlindung dari virus akan menderita kasus ringan, tetapi tentu saja, beberapa menderita kasus yang berat dan sedikit yang meninggal karena treatment ini. Bahkan jika seseorang yang sudah disuntik tidak menderita penyakit ini, maka siapa saja yang berada dekatnya selama periode waktu yang cukup lama berisiko terkena infeksi yang serius. Penyembuhan itu sama sekali tidak memuaskan.

Suatu waktu, Edward Jenner dibawa dari rumahnya ke suatu tempat (semacam kurungan) untuk mendapatkan vaksinasi. Di tempat ini ia mengalami pendarahan dan tidak diberi makan (puasa) untuk operasi, pengobatan dan diikat untuk mencegahnya agar melarikan diri. Ia menjadi sangat sakit dan kondisinya merosot. Seorang anak yang dulunya kuat dan sehat menjadi sakit dan sangat lemah. Selama bertahun-tahun ia mendengar suara-suara. Ia dikirim ke sebuah sekolah kecil selama masa penyembuhannya, tetapi ia juga sangat lemah sehingga kakaknya, Stephen membawanya pulang ke rumah. Orang tua mereka sudah meninggal dalam hitungan minggu selama masa itu, ketika Edward berusia 5 tahun sehingga Stephen menjadi pelindungnya.

Pengalaman divaksinasi mungkin membekas dalam diri Jenner muda ini. Bagaimanapun juga hal itulah justru memacu dirinya untuk tertarik lebih dari biasanya pada tanda-tanda yang pada akhirnya menuntunnya dalam mengembangkan vaksin cacar sapi, sebuah vaksin yang akhirnya menghapus penyakit cacar dimana saja di bumi kecuali laboratorium.

Setelah ia sembuh, Jenner dikirim belajar untuk melayani. Walaupun ayahnya seorang Pendeta tetapi ia tidak menunjukkan minat sama sekali untuk pelayanan mimbar. Sebaliknya ia justru mati-matian ingin menjadi seorang naturalis. Memang ia mengkoleksi banyak spesimen dan mengikuti kursus yang mengajari sistem klasifikasi dari seorang naturalis kenamaan asal Swedia, Carl Linnaeus (1707-1778). Usia 13 tahun Jenner magang pada dokter ahli bedah, John Ludlow. Meskipun kondisi kesehatannya masih belum pulih, Jenner bekerja keras dan membantu pembedahan. Setelah masa magangnya selesai, Jenner pindah ke London dimana ia berguru pada Dr. John Hunter yang terkenal. Hunter adalah seorang pria agresif yang kurang peduli pada kaidah atau aturan. Jenner gemar dengan orang yang tempramental ini dan dictumnya : "kebenaran..kebenaran..kebenaran! Sebaliknya Hunter mempercayai Jenner. Hanya Hunter kurang terkenal karena membayar seorang "resurrectionists" (pembangkit manusia) untuk merampok kuburan demi mendapatkan mayat-mayat. Jenner belajar anatomi dengan mempelajari tubuh-tubuh curian ini. Jenner mengganti kegiatannya. Ia menyusun katalog specimen untuk Joseph Bank, ahli botaninya Kapten Cook. Pekerjaan yang biasa dikerjakan selama 6 bulan, tetapi oleh Jenner diselesaikan dalam waktu 2 bulan. Merasa terkesan Cook menawarkan jabatan di kapalnya tetapi Jenner menolak termasuk tawaran Hunter untuk bekerja sama juga ditolak karena ia ingin kembali ke pedesaan.

Berbagai penelitian dilakukan oleh Jenner dan berbagai tantangan harus dihadapinya. Salah satu  penelitiannya mengenai tingkah laku/kebiasaan cuckoo (burung elang malam). Hasil penelitian ini menghadapi sejumlah penentang. Tingkah laku yang digambarkannya kelihatan terlalu aneh dimana ia membuktikan bahwa burung cuckoo mempunyai kebiasaan meletakkan telur-telur mereka di sarang burung lain. Namun, Royal Society berhasil diyakinkannya dan menjadikannya anggota. Di waktu tertentu, Jenner belajar dari milkmaids bahwa mereka yang terkena cacar sapi imun terhadap cacar. Ia melakukan penelitian selama 20 tahun kemudian, sementara ia sendiri juga mengimplementasikan ide-ide baru dalam pengobatannya terhadap cacar. Ia menghentikan pendarahan para pasien cacar dan memberikan tubuh mereka suatu kesempatan yang lebih baik untuk sembuh dari penyakit. Ia menyuntik tangan-tangan petani untuk menerima vaksinasi cacar sapi, dan ternyata tidak seorang pun yang terkena cacar.

Yakin apa yang ditemukannya ini, Jenner menguji idenya ini dengan cara menjangkitkan seorang anak suruhan bernama Phipps dengan cacar sapi. Dua bulan kemudian ia menyuntik anak ini dengan virus cacar yang masih hidup. Rumahnya dikerumuni orang banyak. Para pesuruh bersumpah, jika sampai si anak meninggal maka Jenner akan dihukum gantung sebagai pembunuh. Terbukti si anak imun. Setidaknya Jenner telah memiliki bukti positif. Namun setelah itu sebuah selebaran yang mencelanya dipublikasikan. Situasi dalam komunitas medis juga tidak mendukungnya. Para dokter mencaci dan mencemooh Jenner dan memperlakukannya dengan mengusirnya dari perkumpulan mereka. Bahkan jurnal kedokteran menolak menerbitkan hasil penemuannya ini.

Jenner tidak dapat dipengaruhi situasi ini. Yakin akan keberhasilannya yang pertama, ia mulai bekerja sendiri dalam mempromosikan idenya. Ia bisa melihat bahwa jika sautu hal bisa berguna bagi sesame manusia maka pertimbangan-pertimbangan pribadi harus dikesampingkan. Akibatnya ia menderita secara finansial. Uangnya habis untuk membiayai penelitian-penelitiannya yang tiada putus-putusnya. Sementara ia mendapatkan sedikit pemasukan, karena serangan-serangan dari dunia medis tentang dirinya, dan para pasien menjadi jarang yang mau berobat kepadanya. Pada akhirnya tentu saja, ia mendapatkan banyak penghargaan. Satu per satu, para dokter berpikiran terbuka membaca bukunya dan mengadakan uji lebih lanjut. Dan ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Virology dan Pengobatan Preventif.


Sebagai ucapan terima kasih atas karyanya, Parlemen memberi sebagai hadiah untuknya yang senilai 10.000 poundsterling. Dengan kepribadiannya yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, ia menggunakan uang untuk menolong para dokter yang membutuhkan. Kehidupan Jenner bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Sebagai tambahan atas masa kecilnya yang penuh penderitaan, kehilangan istri dan anak sulungnya dan penganiayaan yang dialaminya dari dunia profesinya, ia terjangkit penyakit tifus yang tertular dari seorang pasien dan hampir mati. Di lain waktu ia hampir mati beku saat ia mengunjungi pasien yang sakit. Hari sebelum kematiannya ia berjalan ke kota untuk membeli kayu bakar untuk orang miskin dengan uangnya sendiri. Dengan perhatian dan kepeduliannya terhadap kaum miskin ia menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen sejati. Dalam tulisannya ia meminta Kristus agar mau menerima jiwanya yang kekal. Nama dan karyanya akan diingat selama dunia mengingat kedermawaannya. Bagaimana dengan kita yang mengaku seorang dokter Kristen? Sudahkah kita menjadi pelaku Firman yang sejati?


Disadur dari Majalah Samaritan 
Edisi Keempat Tahun 2008

Senin, 08 Juni 2015

Kode Etik Profesi Dokter Rumusan Integritas Dokter

Secara pribadi saya berusaha terus memegang integritas. Menurut saya sebagai dokter, pada dasarnya semua profesi itu baik, termasuk profesi dokter. Hanya saja seorang dokter menjadi tidak baik kalau sekaligus juga seorang pedagang, artinya mengkomersialisasikan profesinya. Dokter yang berlaku sebagai pedagang, dalam arti kata cara-caranya, itu tidak baik. Anda tahu kan cara-cara pedagang? Bagaimanapun profesi dokter berhubungan erat dengan kemanusiaan, unsur kemanusiaannya menonjol. 

Banyak dokter melakukan 'pembelaan diri' dengan mengatakan : "Kita hidup di masyarakat. Karena itu tidak lepas dari pengaruh yang ada di masyarakat. Kita hidup perlu makan, perlu mobil." Tetapi tetap saja menurut saya, kalau kita membuat profesi kita sebagai pedagang, hal itu tidak benar. Memang ada perbedaan antara seorang dokter dengan pedagang. Saya mendapat tarif yang berbeda dari pasien yang saya rawat di VIP dengan di kelas IV, misalnya. Padahal perlakuan saya sama. Kalau pedagang kan tidak begitu? Saya sebagai pedagang akan menerapkan tarif yang sama kepada pembeli, tidak peduli kaya atau tidak.

Tentu saja saya sering mengalami konflik nilai (hal-hal yang bertentangan dengan kode etik/etika profesi sebagai dokter) ketika menangani pasien. Ada etika profesi dokter, yakni tidak boleh memberitahu rahasia penyakit pasien. Misalnya sebuah perusahaan yang karyawannya sakit meminta informasi penyakitnya kepada dokter yang memeriksa dan merawat karyawan tersebut, kami tidak boleh memberitahukannya, kecuali si dokter perusahaan meminta atas izin perusahaan yang bersangkutan. Atau kalau yang memeriksa pasien tersebut dokter perusahaan, boleh saja. Rahasia ini dijaga supaya pasien terlindung dan untuk menghindari dampak buruk si pasien, misalnya terancam dipecat, atau terisolasi. Rahasia penyakit juga tidak boleh diberitahukan kepada si pasien. Kenapa, supaya memudahkan proses diagnosa dan penyembuhannya. Kalau si pasien tahu dia mengidap penyakit tertentu, bisa saja dia shock lalu tidak mau (takut) memberitahukan dengan jujur apa yang dialaminya. Kecuali, si pasien memang menghendaki tahu penyakitnya. Itupun sebisa mungkin dihindari. Ini berlaku untuk semua jenis penyakit.

Sedemikian rupa harus dirahasiakan karena sudah merupakan sumpah kami sebagai dokter. Sebab antara pasien dan dokter harus erat hubungannya, supaya mereka bisa mengemukakan secara terbuka. Memang saya agak sering mengalami masalah dimana para dokter perusahaan meminta rahasia penyakit pasien/karyawan perusahaan tersebut. Kalau di luar itu tidak. Kalaupun harus dibocorkan, hanya hukum yang bisa melakukannya.
Saya tidak pernah disodori uang supaya membocorkan rahasia pasien. Kalaupun disodori akan saya tolak tegas. Yang sering saya alami adalah diminta membuat surat dokter fiktif. Misalnya seorang wanita yang sakit minta surat dokter, lalu kemudian dia juga minta surat dokter untuk suaminya. Nah ini yang saya tolak. Kepada anak saya pun saya tidak akan memberikan surat dokter kalau dia sakit. Kalau dokter saja tidak bisa dipercaya siapa lagi yang bisa dipercaya? Saya harus jujur mulai dari hal-hal yang kecil. Kalau sudah berdusta tidak baik. Sebab dusta itu, kalau dimulai dari yang kecil-kecil, maka akan terbiasa. Dusta itu kan termasuk dosa juga. Tidak ada bedanya dosa berbohong dengan mencuri. Kadang-kadang orang berpikir berbohong itu bukan dosa. Sebetulnya gampang saja kam membuat surat keterangan sakit? Bisa saja itu menolong pasien. Tapi kan itu seolah-olah menolong? Saya selalu berusaha untuk berjalan di rel yang benar. 

Sering saya disponsori oleh perusahaan obat/farmasi untuk menggunakan merek obat farmasi tertentu. Dan saya masih bergumul sampai sekarang, benar tidaknya kalau saya menerima sponsor itu? Yang paling nyata adalah kalau pada waktu saya mengadakan kongres, lalu pihak perusahaan farmasi itu datang pada saya dan mengatakan, "Dok, saya mau berpartisipasi dalam kongres sebagai sponsor." Mungkin dia lihat saya suka menggunakan obat mereka, lalu berusaha "mengikat" saya melalui tawaran sebagai sponsor. Nah, ini saya masih bergumul. Ini sogok atau bukan? Kalau jelas menyogok terus terang saya tolak.

Kalau ada istilah Kolusi, Korupsi, maka kini ada Kortusi. Kortusi itu ya, kejadian seperti yang saya alami. Karena saya sudah berbuat baik, lalu ada imbalannya. Misalnya, ketika saya merawat pasien, saya dari awal sudah menentukan tarifnya sampai sembuh. Lalu pasien itu memberi sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Kan kortusi itu namanya?

Jelas tidak boleh ada hubungan kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi, Hal ini melanggar kode etik. Dokter harus independen, tidak terikat kepada satu perusaaan farmasi apapun. Kalau memang obat itu berkhasiat dan cocok, silahkan dipakai. Kalau tidak cocok, tidak dipakai, ada atau tidak ada sponsor. Sikap saya menjadi demikian, jelas karena firman Tuhan dan doa. Saya berpegang pada ayat di Matius yang mengatakan, apa gunanya memperoleh seluruh dunia tapi kehilangan nyawanya? Saya punya titel dan kedudukan. Tapi apa artinya kalau saya masuk neraka? Saya meyakini bahwa kehidupan ini bukan hanya di dunia. Kita hanya musafir saja di dunia. Perjalanan  kita suatu saat akan terhenti. Tidak seperti falsafah orang Yunani yang mengatakan, marilah kita makan dan minum, berpesta pora sebab kita akan mati. Orang Kristen tidak seperti itu, sesudah ia mati akan ada kehidupan selanjutnya. Kalau kita besok mati, kita akan bersama Dia di sorga.

Menurut saya untuk seorang dokter dapat mempertahankan integritasnya ia harus mendahulukan kepentingan pasien. Itu yang utama. Dokter memiliki sederetan kode etik yang ditujukan untuk kepentingan pasien. Dokter harus memegang sumpahnya! Soal bagaimana integritas para dokter sekarang, khususnya dokter Kristen, saya tidak mau menghakimi.

Tapi saya pribadi ingin terus berusaha mempertahankan integritas.

Sebetulnya kami, pada dokter, tidak perlu mengejar integritas. Sebab, kode etik profesi dokter, yang disusun oleh Hipocrates, bapak kedokteran, itu sendiri merupakan rumusan dari integritas dokter. Dan isi kode etik profesi dokter sangat kristiani. Coba anda perhatikan rumusan-rumusannya. Dan inilah yang mendorong saya untuk semakin sungguh-sungguh sebagai seorang dokter.

Secara pribadi yang saya lakukan agar tetap memiliki integritas adalah pertama, harus memiliki hubungan pribadi yang khusus dengan Tuhan melalui waktu teduh. Tapi tuntutan ini tidak harus dari seorang dokter, setiap orang yang mengaku Kristen pun memiliki hal ini. Memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan itu penting. Saya pernah bekerja sampai jam 11 malam, sehingga waktu teduh tidak ada. Seolah-olah saya bekerja demi pasien saya. Namun saya akhirnya berpikir, saya ini melayani Tuhan atau melayani pekerjaan?Janganlan memiliki waktu dengan Tuhan, untuk keluarga saja tidak ada.

Kedua, membaca firman Tuhan. Ini saya lakukan antara lain melalui kebaktian keluarga di rumah setiap pagi sekitar pukul 6. Jadi kalau anda telepon ke rumah pagi-pagi tidak akan dilayani. Kedua hal tersbut sangat menolong saya pada saat mengalami persoalan-persoalan, pada saat ada godaan, baik itu godaan materi, dll. Melalui firman Tuhan yang saya nikmati setiap hari saya diingatkan ketika mengalami tantangan untuk berbuat kesalahan. Selain itu di sini saya juga terlibat dalam Forum Komunikasi Dokter sebagai wadah persekutuan kami, para dokter.

Salam sejahtera,
Prof. DR. Karmel Tambunan
Dikutip dari Majalah Samaritan No. 2 Juni-Juli 1999

Kamis, 04 Juni 2015

Kekuatan dari Kelembutan Hati


Dalam suatu tempat kerja yang sangat kompetitif, suatu keterampilan manajemen yang krusial adalah kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu. Apakah akan dipandang sebagai kelemahan jika anda tidak mampu memaksakan agenda anda sendiri atau memaksakan orang lain percaya dengan agenda anda, terutama jika agenda itu selaras dengan nilai-nilai Allah dan keinginan tinggi korporasi? Namun jika bertindak demikian apakah itu artinya roh kelemahlembutan tidak mempunyai tempat di tempat kerja?Di tempat kerja masa kini yang hiper kompetitif mungkin tidak ada. Namun, justru dalam dunia bisnis yang bagaikan laut yang penuh ikan hiu inilah kualitas ilahi kelemahlembutan yang paling dibutuhkan.


Dalam bahasa Yunani, kelemahlembutan atau kesabaran disebut praytes, yang menggambarkan seekor hewan kuat yang telah belajar menerima disiplin, seperti hewan kuat yang telah belajar menerima disiplin, seperti seekor kuda yang sudah dipasangi kekang, yang menghasilkan kecepatan dan kekuatan besar menurut suruhan orang yang mengekangnya atau seekor anjing yang galak terhadap orang asing, tetapi ramah kepada anak-anak tuannya. Alkitab menggambarkan orang yang lemah lembut sebagai orang yang pembawaan tenang tetapi tegasnya dalam berurusan dengan orang lain mencerminkan kesediaan untuk menyerahkan keinginan dan pembawaannya kepada Allah. Musa adalah salah satu teladan dan disebut "sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi" (Bil 12:3), justru karena ia mengizinkan Yahweh untuk menuntun setiap langkahnya. Yesus, yang menggambarkan diriNya sebagai "lemah lembut dan rendah hati". kemudian Paulus mengidentifikasi roh yang lemah lembut sebagai suatu atribut kunci untuk menolong para pemimpin Kristen tumbuh dengan baik dalam situasi lingkungan yang bermusuhan.

Dengan demikian, kelemahlembutan dan kesabaran adalah atribut-atribut yang sangat dihargai dalam spiritualitas Kristen. Ia berfungsi sebagai kemudi kapal bagi kapal penarik yang berkekuatan 3000 tenaga kuda yang menjelajahi sungai. Seseorang yang lemah lembut adalah individu yang memiliki kuasa yang besar, yang telah mengekang kekuatannya demi kebaikan orang yang lebih lemah. Orang yang lemah lembut akan menolak untuk memaksakan kehendaknya kepada kehendak orang lain., berupaya bergerak menurut kecepatan kesiapan orang lain untuk membuat perubahan atau merengkuh suatu tujuan.

Saat anda merefleksikan kehidupan bekerja anda, pikiran pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai indikator-indikator pekerjaan Roh Kudus yang lembut dalam hidup anda di tempat kerja :

  • Apakah anda mengizinkan bawahan utk membuat kesalahan, dan saat mereka melakukannya, apakah anda memperlakukan mereka dengan tegas tetapi dengan cara yg berbelas-kasihan?
  • Apakah anda menunjukkan rasa hormat yang sama dalam cara anda berbicara kepada sekretaris maupun kepada pegawai di ruang makan dan kepada CEO?
  • Apakah anda senang melayani orang lain?
  • Apakah anda berespons kepada sentuhan Roh Kudus yg paling ringan sekalipun, atau apakah anda membutuhkan disiplin yg keras sebelum menyadarinya?
  • Apakah anda menyadari apa yg anda lakukan sekarang, sehingga anda menerima pengajaran dengan rendah hati dan dengan roh yang mau diajar?
  • Apakah anda memilih utk mendengar dan membangun relasi dgn lawan, atasan, staf dan partner negosiasi, tidak peduli betapa pun sulitnya mereka? Atau menggertak mereka?
  • Apakah anda mampu menegur tanpa marah? Berdebat tanpa meremehkan? Memperlakukan semua orang dengan sopan santun?
  • Saat anda mengevaluasi seseorang, anda memberinya harapan dan tekad yg lebih besar akan keunggulan? Atau membuatnya menjadi putus asa?
Lalu, bagaimana mengembangkan roh kelemahlembutan?Orang yg lemah lembut berarti menyerah, menyangkal diri, ketaatan dan pengabdian. 


  1. Orang yg lemah lembut tidak melukai orang lain dgn kata-kata kasar atau mengacuhkan dengan dingin
  2. Mereka mengakui kerentanan mereka terhadap dosa dan kelemahan. Ini memampukan mereka untuk berempati secara mendalam terhadap pergumulan-pergumulan orang lain.
  3. Berespons dengan "lemah lembut dan hormat" (1 Petrus 3:15) saat diperhadapkan kepada orang yang mengejek, mencemooh atau mengabaikan mereka
  4. Tidak menyerah, terutama ketika prinsip-prinsip etika dikompromikan karena tujuan mereka adalah memperdamaikan orang kepada Allah dan dengan satu sama lain.
  5. Tidak dilumpuhkan saat dikonfrontasikan dengan rasa sakit orang lain karena mereka telah belajar arti menahan sait dan dengan penuh sukacita menyandang salib setiap hari sebagai anugerah dari Allah.
Bagaimana dengan kita? 

Disadur dari buku Taking Your Soul To Work
R. Paul Stevens & Alvin Ung

Kamis, 21 Mei 2015

Pentingnya Pentakosta

Kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus -- Kisah Para Rasul 2 : 38

Pada hari Pentakosta, 50 hari setelah Paskah, Petrus yang dipenuhi oleh Roh Kudus mengajarkan bahwa semua orang percaya harus menerima Roh Kudus sebagai pemberian Tuhan. Kita perlu memiliki kuasa Tuhan di dalam diri kita agar dapat berhasil sebagai orang yang hidup di dalam Tuhan.

Dalam kehidupan profesional kadang-kadang mungkin kita merasa tidak mampu melakukan suatu tugas. Kita merasa kurang terlatih atau kurang berpengalaman namun harus menghadapi suatu tantangan. Mungkin kita berpikir, demi kebaikan si pasien, tindakan terbaik adalah merujuk pasien kita kepada dokter yang lebih ahli. Pada kesempatan lain, kita tidak bisa menghindari tanggung jawab kita, sehingga harus menghadapi situasi itu dengan banyak berdoa. Kita dapat meminta Roh Kudus agar Ia memberi kita hikmat Tuhan, pengertian yang dalam dan kekuatan. Sesungguhnya Ia beserta dengan anda-anda tidak sendirian!

Seseorang pernah berkata, "Iman menghadapi; ketakutan menghindari". Kita, dengan iman harus bersandar teguh pada janji Tuhan yang "memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Tim 1 : 7). Tuntutan atas harapan-harapan pasien, desakan waktu, dan tanggung jawab kerja, rumah dan gereja, siapa yang mampu menangani itu semua sekaligus? Meskipun ada banyak tekanan terhadap dirinya, Rasul Paulus berbicara tentang keadaan dimana ia terus diperbarui dari hari ke hari (2 Kor 4 : 16). Dan berulang kali ia mengalami bahwa anugerah Tuhan itu cukup (2 Kor 12 : 9).

Ia memberi lebih banyak kasih karunia ketika beban-beban semakin besar,
Ia mengirim lebih banyak kekuatan ketika pekerjaan semakin bertambah.
Saat kesusahan semakin bertambah, Ia menambah lebih banyak kemurahan
Saat pencobaan semakin bertubi-tubi, Ia melipatgandakan kedamaian.

Kata-kata di atas diambil dari sebuah lagu tua, namun masih membawa pesan yang tetap bermakna bagi kita sekarang!

Baca : 2 Korintus 4 : 1-18


Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 18 Mei 2015

Months of Emptiness

I was allotted months of emptiness, and nights of misery are apportioned to me - Job 7 : 3


There is not space to relate all the complex circumtances that precipitated it-and they will be different for you in any case. The fact remains that in my final two student years i became increasingly more depressed and unable to cope with life. It was not just a passing phase either; people said it would soon lift but it didn't. And as month followed upon month there seemed no end to the sleeplessness, the aimlessness and the emptiness. The whole of life was breaking up for me.


And where was God in all this? I had been a Christian for some eight years and had always known such joy and fulfilment in life up to this point. Indeed, my Christian commitment was a key factor in my choosing medicine as a carrer and now it seemed that my very future in it was in severe jeopardy.

It was during the second year of this depression that the book of Job became so meaningful to me. It was not that I found there any answers to my questions at the time, but I found such help in the fact that here was someone who was feeling just the same agony, someone with whom i could identify. The knowledge that you are not the only one brings untold release and comfort. G. K. Chesterton puts this so well in The Man who was Thursday : 'There are no words to express the abyss between isolation and having an ally. It may be conceded to the mathematicians that four is twice two, but two is not twice one; two is thousand times one.' And it was this issue of not being alone that eventually proved to be one of the key answers to the question 'Why did you let this happen, Lord?'

Eventually I did get better, and obtained a tremendously satisfying house-job in the Oncology Unit at the hospital where i trained. During this job i saw that God had over the months of my depression, been equipping me to be better able to help others cope with the psychological trauma and suicidal feelings accompanying severe illness.


Paul telss us in his opening paragraphs of 2 Corinthians that God 'comforts us in all our afflictions, so that we may able to comfort those who are in any affliction'. What a privilege then for those who are working each day with the sick and injured. If we look to him, the Lord will cause any experience-no matter how devastating at the time-to be used for ultimate good in our  lives and for the help and enrichment of our patients too.


Lord, thank you that You never cause us needless pain, that it is true that all things work together for good for those who love you. Help us to be patient under the trials that we face, knowing that you do have a purpose in them because your love is constant and everlasting.

Futher reading : Job 7 : 1-10

From : The Doctor's Life Support
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas