Rabu, 10 Desember 2014

Tetap Beriman dan Komitmen

Dunia kerja - bagi sebagian besar alumni baru - tidak terkecuali bagi para dokter-dokter baru, sah jika dibayangkan sebagai tempat yang penuh godaan dan tantangan, yang jika tidak kuat beriman dapat tergelincir ke dunia rawa paya. kenyataannya memang demikian. dunia kerja, sebagaimana dunia yang kita diami saat ini, banyak menawarkan dan menyajikan segalanya yang menguji iman.

Dokter Yusak Mangara Tua Siahaan, Sp. S, yang dikenal dengan panggilan Yusak, sudah menyaksikan perbedaan saat ia ber-PTT. Suasana dan kondisi waktu mahasiswa sangat berbeda dengan dunia kerja, katanya, sewaktu mahasiswa ia tinggal dalam lingkungan "rohani". Selain di kampus, ia juga bertemu teman-teman di persekutuan. "Kalau ada masalah teman-teman pasti ada yang nolong.Namun sejak PTT enggak bisa. Mesti ngurus sendiri. , "kenang alumnus FK Trisakti ini yang menyampaikannya pada Luther Kembaren dari Samaritan. 

Ia merasa sebagai single fighter ber-PTT di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pemahamannya tentang kekudusan dan kebenaran berbeda dengan lingkungannya. Di saat itulah ia diuji. Salah satu contoh yang disampaikan bapak 2 anak ini adalah soal pengelolaan keuangan yang tidak beres di puskesmas. sewaktu di puskesmas, uang luar biasa banyak, katanya. Bahkan bantuan Jaringan Pengaman Sosial masuk ke nomor rekening dokter. 

Menurut dokter yang mengambil spesialis di FK Undip, Semarang ini, memang itu merupakan kesempatan mencari uang sebanyak-banyaknya. Apalagi jika mengingat waktu kuliah sudah mengeluarkan yang banyak. Tapi, Yusak memilih tetap mempertahankan idealismenya. Ia bisa seperti itu, kata neurologist di RS Siloam Gleneagles ini, karena bekal pembinaan yang didapatnya sejak mahasiswa. Hubungannya dekat dengan Tuhan, maka ia mampu bertahan, tidak ikut arus. 

Pengalaman lain yang berkesan bagi Yusak semasa ia PTT adalah ketika ia difitnah mengambil uang. Seluruh pekerja di Puskesmas menganggapnya makan uang. Ia tidak membela diri, ia hanya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Kalau saya mampu menahan fitnah, itu semata karena Tuhan," ungkapnya.

Masalah uang juga jadi tantangan tersendiri bagi dokter Karuniawan Parwantono, SpBO, ahli bedah orthopedik di RS PGI Cikini. Waktu itu ia PTT di Pulau Seram, Maluku Tengah. Ada dari Direktorat Kesehatan melakukan inspeksi ke Puskesmasnya. Mereka melakukan audit. "Tapi saya tidak memberikan uang sepeserpun," tukasnya. Karena itu laporan dibuat kacau oleh mereka. Ia pun dipanggil Kakanwil. Ia menjelaskan semuanya dan kemudian dicek. "Terbukti tidak ada kecurangan. Sempat kesal juga dipermainkan seperti itu," sambungnya terus terang pada Luther dari Samaritan. Bagi ayah empat anak ini, meminimalkan konflik bukan berarti kompromi.

Bukan itu saja pengalaman ber-PTT yang dirasanya sebagai tantangan, tapi juga bagaimana mesti bisa menerima program yang tidak jalan, bahkan mengalami ketidakcocokan padahal ia ingin menerapkan program Depkes. "Banyak memang pengalaman yang saya dapatkan di sana. Saya pernah mendoakan seorang ibu yang kesurupan. Waktu itu saya ingat hanya cerita di Alkitab, bagaimana Yesus menyembuhkan. Saya melakukan, dan ibu itu sembuh," ceritanya.

Kalau ia bisa menerima semua pengalaman itu dengan tetap memiliki idealisme, kata Kurniawan, itu karena nilai-nilai kebenaran yang didapatnya sewaktu ikut persekutuan semasa ia mahasiswa di FK-UI. Sejak mahasiswa ia mengaku, selalu mengandalkan Tuhan, meskipun teman-temannya banyak mengandalkan kemampuannya sendiri. Persekutuannya dengan Tuhan itulah yang dirasanya menjadi bekal ketika ia harus ber-PTT di tempat yang terpencil.

Memegang Prinsip
Bahwa bekal pembinaan semasa mahasiswa menjadi semacam obat agar tidak tergelincir dalam tantangan iman, bukan hanya berlaku kala seorang dokter ber-PTT. Karena ujian iman akan terus berlangsung. Juga saat tengah mengambil spesialis. Ini yang dirasakan Yusak. Saat menempuh ujian banyak rekan-rekannya yang menjiplak literatur penelitian. "Kadang senior punya kebiasaan jelek. Kalau punya nilai-nilai bagus, dicibir. Saya bisa memahami hal ini, itu mereka lakukan bukan karena membenci hanya karena mereka tertinggal saja." ia mencoba arif.


Dengan menjadi dokter , tantangan iman dalam bentuk lain akan muncul. Yusak bercerita kalau ia pernah didatangi pasien untuk menggugurkan kandungan sambil menangis. Perempuan itu masih muda, ia datang dengan lelaki paruh baya. Mereka mengaku paman dan keponakan.  Menurut kedua orang itu, mereka akan dibunuh kalau orangtuanya tahu bahwa anaknya hamil. "Jadi mereka minta saya menggugurkan kandungan perempuan itu. Saya sempat bingung. Mereka juga menawarkan duit yang banyak. Lantas saya bilang dari segi etika Kristen tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dan dari segi medis juga dilarang!" tegasnya menolak.

Memasuki dunia kerja diakui Yusak modalnya hanya iman dan komitmen. Di kalangan teman seprofesi yang tidak seiman iapun kadang mengalami beda pendapat. Tapi ia tetap memegang prinsip. Prinsip yang dipegannya adalah, dokter harus mau terjun ke lapangan agar dihargai masyarakat. Dokter harus bisa mencerminkan teladan. "Di daerah PTT, dokter lebih cepat didengar dari pendeta," pendapatnya lagi.

Memegang prinsip juga terdengar dari lontaran pendapat Karuniawan. Baginya profesinya sebagai dokter hanyalah alat. "Upayakan melalui kesembuhan seseorang dapat mengenal Dia," tegasnya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya. Di samping itu, masih katanya. Kita harus percaya kehidupan ini dipelihara oleh uhan. Itu diamininya makanya ia tidak takut pada masa depannya termasuk keluarganya, sebab Tuhan yang urus. "Tuhan lebih pintar dari kita!", tandasnya.


Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi No. 4 Tahun 2003

Senin, 01 Desember 2014

Yesus Sayang ODHA




Lukas 5 : 12-16
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata : "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.


Setahun lamanya saya dan pendeta melayani komunitas orang kustatanpa bekal wawasan medis, dan saya tertular. Itu baru saya sadari saat kuliah dan tinggal di asrama. Dokter menjamin penyakit ini bisa dikondisikan tidak menular, bahkan mudah disembuhkan. Namun, karena stigma negatif dari penderitanya belum banyak berubah, bapak asrama yang bijaksana setuju saya menjalani pengobatan secara rahasia.



Tindakan Yesus menyembuhkan pengidap kusta dalam bacaan hari ini sungguh di luar dugaan. Dia menyentuh orang itu (ayat 13). Mengagetkan, sebab itu melanggar hukum agama dan berisiko menularkan penyakit. Penderita kusta dalam budaya Yahudi ada dalam kondisi tidak tahir-mengidap dosa. Bukan hanya kesembuhan, Yesus juga "menularkan kesejukan" bagi jiwa yang telah lama merindukan kasih dan penerimaan melalui sentuhan-Nya. Perintah Yesus agar orang itu menghadap para imam (ayat 14) adalah supaya kesembuhannya mendapat pengesahan hukum dan haknya untuk mendapat penerimaan dalam masyarakat kembali dipulihkan.


Hari ini para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) banyak mengalami kepahitan seperti yang dialami penderita kusta abad pertama : sulit sembuh dan terkucilkan. mereka perlu menerima kabar anugerah bahwa Tuhan menerima dan mengasihi mereka. Sebab, kematian Kristus bukan hanya untuk suku tertentu, kewarganegaraan tertentu, profesi tertentu tapi untuk semua orang. Dalam Yohanes 3 : 16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kasih-Nya juga berlaku untuk ODHA. Berita baiknya, sentuhan jabat tangan dan pelukan hangat-bukanlah media penularan dan dapat menjadi salah satu ekspresi kasih yang bisa kita berikan. Di hari AIDS sedunia ini, mari bersama berdoa agar anak-anak Tuhan dimampukan mengasihi para penderita AIDS dengan kasih Kristus, dan dengan hikmat Tuhan, usaha-usaha dunia medis dapat menerapkan terapi yang efektif bagi ODHA



Ada mujizat sederhana yang dirindukan ODHA :
Sentuhan kasih dan penerimaan






Dikutip dari :
Renungan Harian Edisi Tahunan 5

Senin, 24 November 2014

Persembahan Tubuh Parameter Persembahan Hati

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai penderitaan (1 Petrus 1 : 6)


Panggilan untuk menderita merupakan salah satu panggilan religius yang bersifat universal. Di dalam banyak agama dan kepercayaan umumnya terdapat panggilan yang berkaitan dengan penderitaan. Bahkan terdapat bentuk-bentuk penderitaan yang ekstrim serta menyiksa diri, mengasingkan diri, bahkan bunuh diri. Di beberapa sekte Kristen pun dapat penafsiran bentuk penderitaan secara jasmaniah seperti yang kita lihat di Filipina, yaitu penyaliban. Juga didapatkan penderitaan-penderitaan lain seperti puasa, pantang makanan tertentu, pencambukkan, dan lain-lain. Semua ini memiliki tujuan yang universal yaitu keselamatan jiwa atau pemurnian hati nurani.


Di beberapa agama dan kepercayaan bahkan meyakini bahwa penderitaan berguna untuk dapat melihat kehidupan supranatural atau mendapatkan kekuatan-kekuatan supranatural. Tidak heran bila ada pejabat atau pengusaha yang rela pergi berendam di sungai atau mengorbankan anaknya agar jabatan atau usahanya sukses. Di dalam dunia kedokteran pun seringkali kita menemui pasien yang bertanya : apakah ada makanan atau kegiatan yang dilarang agar ia cepat sembuh. Umumnya orang awam beranggapan bahwa obat pahit, pantangan makanan tertentu dan semakin banyak larangan dari dokter akan mempercepat penyembuhannya. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan pemikiran umum tentang penderitaan. Orang bersedia menderita untuk mendapatkan sesuatu : kesembuha, kekayaan, kekuatan, keselamatan, dll.

Di dalam Kekristenan pun didapatkan panggilan untuk menderita. Panggilan ini merupakan salah satu bukti penghayatan iman kita pada Tuhan Yesus Kristus. Walaupun demikian, konsep yang mendasari penderitaan setiap orang Kristen sangat berbeda dengan agama-agama yang lain. Di dalam surat Petrus ini jelas tertulis bahwa penderitaan bukanlah upaya untuk mendapatkan keselamatan jiwa atau kedamaian, karena keselamatan jiwa itu sudah dianugerahkan Allah. Penderitaan merupakan fakta dan konsekuensi mengikut Kristus. Lebih lanjut, rasul Petrus menegaskan bahwa penderitaan itu bertujuan untuk memurnikan iman kita, bahwasannya kita bukan orang Kristen sembarangan, yang hanya mau mengecap berkat Allah tetapi menolak penderitaan.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita pun perlu menderita? Jawabnya adalah ya, tanpa kecuali. Sungguh aneh bilamana seorang Kristen tidak pernah merasakan penderitaan. Hal itu menandakan bahwa anugerah keselamatan yang diberikan Allah belum menyentuh lubuk hatinya yang terdalam. Keselamatan itu baru sampai di bibirnya melalui pengakuan lidah dan baru diwujudkan dalamibadah mingguan, persekutuan doa, pemahaman alkitab atau puji-pujian belaka. Bagaimana mungkin seorang Kristen tidak merasakan penderitaan di tengah penderitaan umat manusia yang amat dahsyat sekarang ini.

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi keluarga seorang pasien yang meninggal karena komplikasi kehamilannya. Pasien ini memiliki seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 tahun. Saat saya bertemu dengan anaknya ini, ia sedang bermain dengan penuh keceriaan dengan anak-anak sebayanya. Saya menyapanya dan ketika melihat matanya, hati saya diliputi kesedihan yang luar biasa. Ya Tuhan, anak sekecil ini sudah dihadapkan pada penderitaan yang besar, yaitu ditinggal ibunya. Masa-masa cerianya bersama ibu yang dikasihi dan mengasihi lenyap. Bila setiap malam ia dapat menikmati kehangatan kasih ibunya, sekarang ini cuma ilusi. Bila ia sedang sedih, ketakutan, sendirian atau perlu dekapan ibu, ia hanya bisa menangis dan tidak mendapatkan pengganti yang sepadan. Penderitaan anak ini menyadarkan saya bahwa penderitaan umat manusia ada dimana-mana. Penderitaan itu kadang-kadang menyakitkan hati.

Pada saat kita mengendarai mobil, yang didalamnya sejuk dan dihibur oleh alunan lagu rohani yang amat indah, di saat yang sama pula ada banyak orang di sekeliling kita yang hidup dalam kesusahan. Anak-anak kecil yang seharusnya sedang bermanja-manja dengan orang tuanya atau bersekolah harus menerima kenyataan bahwa ia harus mencari uang untuk makan. Banyak remaja dan pemuda yang menatap masa depan yang kosong karena saat ini mereka harus mengisi hari-hari dengan kehampaan. Api semangat yang seharusnya membara dalam diri pemuda sudah padam. Buluh itu sudah terkulai. Ia tidak berani menatap datangnya matahari karena sinarnya akan lebih menyakitkan. Fajar yang datang bukanlah harapan tetapi siksaan.

Bila kita pergi ke daerah-daerah Kristen di Indonesia, seperti Irian Jaya, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan lain-lain, maka kita menyadari bahwa mereka penuh dengan penderitaan. Bukan hanya penderitaan fisik, tetapi yang lebih menyedihkan adalah kemiskinan rohani. Kemiskinan rohani inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen yang tidak hidup dalam iman yang benar dan semakin memperberat kemiskinan jasmani. Banyak pula hamba-hamba Tuhan yang terhimpit hidupnya dengan kemiskinan sehingga akhirnya mereka tidak dapat hidup layak, tidak dapat menyekolahkan anaknya dengan tuntas, tidak dapat menyenangkan istri dan anaknya saat Natal dengan membelikan baju baru, bahkan tidak dapat menyampaikna firman Tuhan dengan baik karena perut kosong. Saya mengenal seorang hamba Tuhan di Irian Jaya, yang saat ini sedang belajar theologia, yang untuk mencukupi kebutuhannya, ia harus bekerja menjadi kuli di pasar atau buruh bangunan. Saya amat menghargai hidupnya dan menganggap dirinya sebagai teladan Kristus yang mulia. Dari penderitaannya, saya belajar mengenal kasih Kristus lebih dalam, mengenal anugerah keselamatan lebih baik dan menyadari bahwa saya tidak dapat hidup dalam kemewahan dunia sedangkan banyak orang Kristen lain yang menderita. 

Pertanyaan selanjutnya : bagaimana kita harus menderita? Apakah kita harus mengalami penderitaan secara jasmani atau secara nyata pula dalam hidup sehari-hari? Apakah kita harus membuang kekayaan dan hidup menderita seperti orang-orang lain. Jawabnya ya dan tidak. Wactman Nee dalam bukunya 'Persembahan dalam Roma 12' menekankan pentingnya persembahan tubuh sebagai bukti penghayatan kita akan kemurahan Allah, dan hanya orang yang sudah merasakan belas kasihan Allah yang dapat mempersembahkan tubuhnya. Persembahan tubuh itu bersifat konkrit, sedangkan persembahan hati amatlah abstrak. Parameter persembahan hati adalah persembahan tubuh. Terdapat 3 aspek persembahan tubuh yaitu : waktu, harta dan tenaga. Dalam konteks penderitaan, kita pun harus berpartisipasi secara aktif. Tidak hanya 'tergerak, terenyuh, prihatin', tetapi kita pun harus terlibat di dalamnya.

Pada akhirnya, sebagai seorang dokter/dokter gigi Kristen, kitaharus menyadari bahwa kasih Allah yang besar terhadap diri kita, bahwasannya Allah memperkenankan kita untuk bekerja dalam profesi ini, adalah agar kita pun menjadi berkat bagi sesama kita. Penderitaan mungkin merupakan kenyataan yang tiap kali kita jumpai dan saat ini perlu kita kaji ulang : apakah kita sudah menderita bagi Kristus? Apakah terang Kristus di dalam diri kita sudah dinikmati orang lain?

                                                                                                                        dr. Dodi Hendradi, SpOG

Dikutip dari :
Majalah Samaritan Edisi 2/ Mei-Juli 2001

Rabu, 12 November 2014

Apa yang Harus Aku Lakukan?

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu : selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? - Mikha 6 : 8

Statistik dan konsensus memang penting dalam pengambilan keputusan klinis, tapi kita tidak dapat menentukannya hanya dengan menekan tut komputer. Penilaian klinis selalu diperlukan. Hal ini juga berlaku bagi pilihan-pilihan dalm lingkup etika & moral. Alkitab bukanlah buku pegangan moral yang melarang orang berbuat ini dan mengharuskan orang berbuat itu. Juga bukan sederetan rumusan yang menentukan perilaku yang saleh. Bahkan Kesepuluh Perintah Tuhan pun lebih merupakan pernyataan umum, yang menunjukkan batas-batas perilaku, dan yang memerlukan penafsiran serta penerapan, misalnya Matius 5 : 27,28.


Keseimbangan antara kebenaran dan kasih, keadilan dan pengampunan, teruntai terus dalam seluruh Alkitab bagai sehelai benang emas yang memandu kita membuat keputusan (Ef. 4 : 15). Hal-hal itu dilambangkan dengan sangat jelas di kayu salib, dimana arah vertikalnya adalah keadilan Sang Bapak, dan arah horizontalnya adalah kedua lengan Sang Anak terentang lebar penuh kasih. Keduanya itulah yang membentuk kerangka kerjaku dalam mengambil keputusan mengenai setiap pasien hari ini atau besok. Apakah yang harus kuberitahukan kepada pasien ini? Apakah yang harus kukatakan kepada orang tua yang penuh kekhawatiran ini? Berapa besarkah biaya yang akan kutetapkan bagi laki-laki ini? Kemanakah, atau kepada siapakah pasien perempuan ini akan kurujuk? Aku tidak munkin selalu benar dalam berbuat sesuatu, namun kemungkinan untuk itu makin besar bila aku belajar menerapkan bagian akhir ayat teks di atas -"hidup dengan rendah hati di hadapan Allah."Betapa seringnya aku gagal dan baru kemudian kusadari, sesungguhnya aku tidak meminta pertolongan Tuhan (Yak 1 : 5).

Sikap menyimak Firman Tuhan setiap hari dan disertai sikap hati berdoa sepanjang hari, jelas penting bagi keberlangsungan praktis klinis yang baik, seperti halnya membaca majalah dan mendengarkan dosenku juga. Dan ketika ada kesalahan apakah aku perlu minta maaf? Mikha 7 : 18, 19 mengatakan, Allah kita mengampuni dosa dan tidak terus-menerus marah, melainkan senang menyatakan kasih setia-Nya.

BDS
Baca :
Mikha 6 : 6-8; Matius 5 : 17-37; Filipi 4 : 4-8.

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 03 November 2014

Percayalah Kepada Allah



Sesungguhnya aku berkata kepadamu : Siapapun yang berkata kepada gunung ini : Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.- Markus 11 : 23


Kami berdiri di atas Bukit Zaitun saat pemandu wisata Kristen Israel menunjuk ke arah selatan ke sebuah bukit berbentuk kerucut sejauh kira-kira 15 km. Ia berkata, "Itu Herodium, dibangun oleh Herodes Agung sebagai benteng yang akhirnya menjadi kuburannya." Ia berpendapat Tuhan Yesus menunjuk ke arah yang sama waktu mengucapkan ayat di atas. Gunung Herodes menggambarkan segala kekuatan politik yang kejam dan tidak mengenal Tuhan, yg diwakili oleh dinastinya. Demikian juga hari ini, Tuhan Yesus tahu a,anat penuh kuasa dari salib akan tetap bertahan. Mengalahkan semua sistem politik yang menguntungkan diri sendiri, dimana Tuhan disingkirkan, dan kekuatan lebih diutamakan daripada kebenaran. Sekarang Tuhan membawa masuk 'Kerajaan yang tidak dapat binasa," seperti dinubuatkan Daniel (Dan 2 : 44).

Kerajaan Tuhan Yesus tetap kekal di atas segala kekuasaan dari zaman dulu hingga zaman modern. Di bidang politik maupun di kedokteran, lokal maupun universal. Saat kita berusaha hidup bagi-Nya di "tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini" (Flp 2 : 15), kita tidak perlu tawar hati. Tuhan Yesus berkata, "Percayalah kepada Allah." Sebelum mengatakan hal ini, Ia menyucikan Bait Allah dan pohon ara-lambang bangsa Israel-telah layu atas perintah-Nya. Struktur agama yang korup, sama seperti struktur politik , akan runtuh di hadapan Kerajaan-Nya.

Korupsi dalam hati kita jangan kita biarkan. Jika kita berusaha mengenyahkan unsur-unsur korupsi di masyarakat atau di rumah sakit berdasarkan balas dendam atau kebencian pribadi, pasti doa kita tidak didengar. Sebaliknya kita mesti mencari pengampunan (Mrk 11 : 25). Cara Paulus ialah memberi instruksi lemah lembut (2 Tim 2 : 24-26). Sulit dilakukan-tapi percayalah kepada Allah!

BDS

Doa : Tuhan, tambahkanlah iman percayaku. Amin.
Baca : Efesus 3

Dikutip dari :
Sumber Praktisi Hidup Medis

Senin, 27 Oktober 2014

Dimensi Kristiani


Banyak orang di Inggris saat ini melihat sedikitnya relasi antara agama dan praktek kedokteran. Pada masa lalu, hal ini tidaklah demikian. Kehidupan yang utuh dilihat dalam ruang lingkup agamawi; paling tidak pelayanan penyembuhan.

Thomas Sydenham, yang kadang-kadang disebut sebagai Bapak Hippocrates Inggris dan juga Bapak Kedokteran Inggris, seorang dokter yang pertama kali memberikan deskripsi klasik dari Rheumatic Chorea, melihat hal tersbut di atas. Anjurannya bagi setiap orang yang mau memasuki profesi ini adalah sebagai berikut :
Siapapun juga yang menekuni bidang kedokteran seharusnya secara serius mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

  1. Bahwa dia pada suatu waktu harus bertanggung jawab kepada Hakin yang Agung akan setiap nyawa pasien yang dipercayakan dalam tangannya.
  2. Ilmu dan keterampilan yang sedemikian itu, sebagai berkat dari Allah Yang Maha Kuasa, dia telah dapatkan, adalah untuk secara khusus diarahkan untuk kemuliaan Sang Pencipta, dan kesejahteraan ciptaan lainnya; karena hal tersbut adalah dasar untuk karunia-karunia surgawi yang besar untuk menjadi hamba.
  3. dia harus sadar bahwa dia berhubungan dengan sesuatu yang tidak ada artinya atau binatang yang dapat disepelekan. Kita harus menyadari nilai dari manusia, yang untuknya Allah telah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan memperdamaikan manusia dengan-Nya.
  4. dia harus ingat bahwa dia sendiri tidak terkecuali, bersama-sama dengan yang lainnya, akan mengalami hukum mortalitas, dan bisa mengalami sakit dan penderitaan sama seperti sesamanya. Oleh karena itu, kiranya dia menyalurkan pertolongan kepada yang tertekan dengan perhatian yang lebih besar, dengan lebih ramah dan dengan perasaan persaudaraan yang lebih kuat.
Dan kiranya cukup adil jika dikatakan bahwa hanya sangat sedikit yang sepikiran dengan Syndenham. Namun, di bawah terang wahyu Allah melalui Yesus Kristus yang tidak berubah, Firman yang hidup, dan Alkitab, Firman yang tertulis, apa yang Syndenham katakan adalah benar. Pasien kita berharga dan harkatnya bernilai bagi Allah sehingga Dia mengirimkan Anak-Nya untuk mati di kayu salib. Keahlian & keterampilan seorang dokter seharusnya untuk Sang Pencipta dan bukan untuk kepentingan diri sendiri. Dokter, seperti juga lainnya, akan mempertanggungjawabkan kepada Hakin yang Agung itu segala perlakuan terhdapa para pasien yang dipercayakan kepadanya.


Dimensi Kristiani yang Hilang

Mula-mula sebagian besar dari rumah-rumah sakit di dunia barat merupakan buah dari inisiatif kekristenan. Mereka tidak hanya menanggulangi kesembuhan fisik dan jiwa, tetapi juga kebutuhan rohani para pasien. Oleh karena itu, mereka mendirikan kapel-kapel di dalam rumah-rumah sakit dan menetapkan rohaniwan seta waktu doa di ruang-ruang perawatan serta kamar-kamar operasi. Namun, dalam 100 tahun terakhir ini dilihat suatu penurunan yang nyata dalam hal perhatian yang diberikan untuk kebutuhan rohani para pasien; khususnya di Inggris. Beberapa rumah sakit yang baru, dibangun tanpa kapel dan, meskipun para rohaniwanada pada hampir semua rumah sakit, mereka tidak tersebar luas, dan menerima sedikit sekali dorongan. Waktu doa di ruang-ruang perawatan dan kamar-kamar operasi sudah banyak ditiadakan dan hanya di beberapa rumah sakit saja. 

Saya ingat benar akan suatu pengalaman yang berkesan sebagai seorang mahasiswa di suatu malam dalam Perang Dunia II, ketika saya sedang bertugas sebagai petugas pencegah kebakaran di lantai atas Britol General Hospital. Beberapa ruang perawatan sudah rusak disebabkan serangan udara di kota tersebut. Melalui suatu koridor yang telah dievakuasi, saya menemukan sebuah meja yang masih berada di tengah ruangan. Saya membuka lacinya dan menemukan satu kotak kuno kecil. Pada kayunya dilekatkan sepotong kertas yang menguning karena sudah usang, dan di sana tertulis sebuah doa malam yang singkat. Doa itu disimpulkan dengan kata-kata : Bapa kami,  dan seterusnya. Di bawah tulisan itu seseorang telah menuliskan bagian lanjutan dari Doa Bapa Kami. Kotak doa yang kuno ini, tinggal di laci, merupakan contoh tipikal penurunan dan kejatuhan pegenalan akan Tuhan di rumah sakit.

Pentingnya Dimensi Rohani

Kesehatan jasmani penting; tetapi sehat rohani lebih penting lagi, sebagaimana Tuhan kita dan para murdi-Nya mengajarkannya dengan begitu empatis. Kita hidup di zaman yang tidak kekurangan apapun kecuali dimensi rohani dan kekekalan. Sebagai akibatnya, kita melihat hidup sementara ini sebagai yang terpenting; yang mana fakta sesungguhnya adalah merupakan prelude singkat dimana seseorang mungkin mengenal Allah dan mulai mempersiapkan untuk hidup yang sebenarnya; kehidupan kekal. Bahkan pengobatan jasmani dan kejiwaan yang paling sukses pun hanya sekedar pekerjaan kecil saja. Lambat laun, tubuh jasmani akan berlalu. Lebih jauh, banyak pengobatan medis masih jauh dari sukses; dan hanya bersifat paliatif; pasien hanya sedikit lebih baik meskipun hanya pada taraf jasmaniah. Hilangnya dimensi rohani dari praktek kedokteran adalah suatu tragedi.

Penyakit Sebagai Megafon Tuhan

Walaupun penyakit adalah hal yang 'jahat' -pekerjaan setan- tetapi sering merupakan sesuatu yang mana Allah menggunakannya untuk menyadarkan manusia akan kekekalan. Pemazmur mengatakan, Adalah baik untuk aku ada dalam kesesakan, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mzm 119 : 71). Dalam bukunya The Problem of Pain, CS Lewis menuliskan kalimta yang tak dapat dilupakan, 'Allah berbisik pada kita dalam kesenangan kita, berbicara dalam kesadaran kita, namun berteriak dalam kesakitan kita; itu adalah megafon-Nya untuk membangunkan dunia yang tuli.'

Hal di atas telah dikonfirmasikan dari waktu ke waktu, dengan pengalaman. Charles George Gordon mendapat serangan cacar air ringan sewaktu bekerja di Cina. Setelah sembuh, dia menulis ke saudara perempuannya, 'Saya bersyukur bahwa penyakit ini telah membuat saya berbalik kembali kepada Juruselamat saya'. Seorang dokter diopname di ruangan saya untuk suatu dugaan nyeri abdominal. Dia ternyata menderita suatu inoperable carcinoma pada lambungnya. Kondisinya terlalu kritis untuk dipulangkan, sedangkan saya tak mempunyai satu kamarpun untuknya. Hal terbaik yang dapat saya lakukan untuknya adalah sebuah kamar untuk berdua, yang mana ia sekamar dengan seorang anak muda yang baru kembali dari India, yang didiagnosa dengan disentri amuba. Anak muda ini tampaknya telah mengalami suatu pengalaman pertobatan Kristen , dan ketenangan pikiran dan jiwanya adalah 'iklan' yang indah untuk imannya. Pada mulanya dokter tua itu begitu pahit dan kecewa akan kondisinya, dan saya merasa agak takut setiap saya mengunjunginya setiap hari. Setelah kira-kira seminggu, saya melihat sikapnya berubah sama sekali. Ternyata dokter tua itu telah mengalami iman yang dimiliki anak muda itu.

Kebutuhan Rohani Pasien

Ketika seorang pasien berkonsultasi dengan dokter, dokter itu berhubungan dengan seseorang yang dalam hidupnya ada Allah yang aktif. Dokter itu ada dalam posisi untuk menjembatani kasih Allah dan menolong (atau mencegah) pencarian pasien itu akan keutuhan. Pasien-pasien yang datang mempunyai kebutuhan rohani. Kebutuhan utama mereka adalah kebutuhan rohani. Beberapa dengan perasaan bersalah yang nyata, objective guilt. Seorang kolega saya, ahli kandungan didatangi seorang pasien dengan gejala gangguan saluran kemih. Teman saya begitu terkesan dengan penampilan ibu ini yang semrawut dan bertanya ke Ibu ini :'Anda seorang wanita yang tak berbahagia. Maukah anda menceritakannya pada saya?'. Setelah terdiam agak lama, ibu ini mulai mengakui bahwa ia telah mencekik ibunya sendiri, dan sampai saat itu tak bisa menghilangkan rasa bersalahnya.

Yang lainnya, berhadapan dengan cacat permanen atau kematian, disebabkan oleh ketakutan, kesedihan dan keputusasaan; perasaan-perasaan yang sulit dikontrol dengan reassurance atau psikoterapi. Dia atas semuanya ini terdapat hubungan pribadi pasien dengan Tuhan. Sedikit sekali dari mereka yang berkonsultasi dengan kami datang dari keadaan yang 'hidup berkelimpahan' yang Yesus berikan, dan menghadapi kekekalan tanpa Tuhan dan sorga.

David Short

Dikutip dari : Majalah Samaritan No. 2/Mei-Juli 1999
(Terjemahan dari "The Christian Dimension"-Journal of The Christian Medical Fellowship, Januari 1993/dr. Lidya Gunadi)





Senin, 20 Oktober 2014

Mimpi-mimpi Manusia, Firman Allah.

Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!-Yeremia 23 : 25

Mempunyai visi dalam hidup dapat merupakan hal yang baik. Nabi Yoel melihat suatu masa depan ketika orang-orang tua mendapat mimpi dan orang-orang muda mendapat penglihatan (Yoel 2 : 28). Nubuatan ini secara gamblang digenapi pada hari Pentakosta-ibarat sebuah antidot yang membahagiakan terhadap kehidupan beragama yang formal, hambar dan gersang. Tuhan Allah masih bekerja dengan cara ini, memampukan umat-Nya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang diberikan-Nya.

Namun, tidak mudah untuk mengenali apakah penglihatan itu berasal dari Allah atau bukan. Umat Allah diperingatkan akan adanya nabi-nabi palsu dan pendusta, yang memakai nama Allah tapi tertipu oleh pikirannya sendiri (Yer 23 : 26). Peringatan itu tetap dibutuhkan saat ini, bahkan di kalangan orang Kristen. Berbeda sekali dengan orang yang memegang Firman Tuhan. Perbandingan antara mereka adalah seperti ilalang dan gandum. Penglihatan palsu akan terus-menerus berubah, muncul dan menghilang, sedangkan Firman Tuhan tidak berubah.

Orang-orang yang penafsirannya berbeda dapat menimbulkan masalah. Sikap kita yang terutama seharusnya mencari kebenaran dan menghadapi dampak-dampaknya dengan jujur. Sebagaimana yang rasul Petrus katakan, ketika ia memperingatkan adanya penyesatan, ada beberapa hal dalam Alkitab yang sulit dipahami (2 Petrus 3 : 16). Namun,  apakah kita jadi percaya Yesus Kristus dan taat pada perkataan-Nya sebagai Forman Tuhan (1 Yoh 1 : 1,2) atau sebaliknya kita hanya memilih bagian yang kita senangi atau mengambilnya untuk dikritik bahkan dihakimi? Banyak perselisihan terjadi karena prasangka yang bersifat persaingan bukan pada keinginan yang tulus untuk memperoleh pencerahan.

Adalah berbahaya jika kita datang kepada Tuhan dengan mengandalkan rasio kita bukan berdasarkan hubungan kita dengan Dia. Jika kita mempercayai anak-Nya, maka seperti halnya Roh Kudus mengilhami mereka yang menulis Kitab Suci (2 Petrus 1:21), demikian pula kita mendapat jaminan, Roh yang sama akan menafsirkan dan menyampaikan Firman Tuhan kepada kita, seperti terang bersinar di kegelapan.

Baca :
Yeremia 23 : 25-32; 2 Petrus 1 : 16-21

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 13 Oktober 2014

Dua Sisi Mata Uang


Allah yang dalam kekayaan-Nya 
memberikan kepada kita 
segala sesuatu untuk dinikmati 
(1 Timotius 6 : 17)

Kamu tidak dapat mengabdi 
kepada Allah dan kepada Mamon 
(Matius 6 : 24)


Seorang konsultan berpengalaman baru-baru ini berkata bahwa perolehan uang secara tiba-tiba merupakan suatu kutuk yang terbesar bagi seorang dokter muda. Mungkin ada yang tidak setuju, oleh karena uang merupakan salah satu berkat-berkat Tuhan. Mungkin apa yang dimaksudkan ialah bukan mengenai apa yang dapat kita perbuat dengan uang, tetapi apa yang dapat diperbuat oleh uang terhadap kita. Cinta akan uang merupakan suatu bahaya bagi semua orang Kristen, dan sebagai dokter kita lebih banyak berhubungan dengan uang dibandingkan dengan orang lain. Siapa diantara kita yang tidak merasa senang waktu mendapat hadiah, waktu kita mengurus bon-bon tagihan dengan cara-cara yang sah ataupun tidak sah untuk menghindari pajak? Diam-diam semua itu sedikit demi sedikit menyita pikiran kita. Alkitab memperingatkan kita bahwa uang merusak kasih di hati kita (Mat 6 : 21), menipu dan mempengaruhi pertimbangan kita dan menghambat pertumbuhan buah-buah rohani kita (Mat 13 : 22), mengubah penilaian kita akan orang lain (Yak 2 : 1-5,9), membodohi orang-orang beriman (Luk 12 : 20-21) dan dapat menghancurkan jiwa kita (1 Tim 6 : 9). "Kekayaan dapat menyuap orang yang paling tidak dapat disuap"-The Golden Cow, ditulis oleh John White.

Karenya janganlah hatimu melekat padanya (Mzm 62 : 11); jangan percaya kepada uang dan bergantung kepadanya (1 Tim 6 : 17). Jangan menympan kalau tidak perlu (Pkh 5 :11,13) atau membayangkan bahwa uang kan membawa kebahagiaan (Pkh 5 : 10) atau menganggap uang itu penting (1 Tim 6 : 17)

Kalau begitu, apa sebenarnya kegunaan uang itu? Uang, sekalipun merupakan majikan yang kejam, tetapi juga hamba yang berguna dan pembawa berkat yang besar. Uang dapat membuat kita percaya dan bersyukur kepada si Pemberi. Uang dapat dipakai sebagai sarana melayani Tuhan dan membantu memenuhi kebutuhan dunia, jiga dapat dipakai sebagai alat untuk mewujudkan buah-buah Roh yaitu kebaikan. Uang memampukan kita menyatakan kemurahan dan kebesaran hati kita dan dengan demikian mengumpulkan suatu harga di surga (1 Tim 6 : 18-19).

Bacaan selanjutnya :
Lukas 12 : 13-21, Matius 6 : 18-21

Dikutip dari : 
Diagnose Firman
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas