Senin, 27 Juli 2015

Thomas Sydenham, Hippocrates Bangsa Inggris

Sebab kepada yang seorang Roh memberikan ....karunia untuk menyembuhkan 
(1 Korintus 12 : 8-9)

Sejarah bergantung pada peristiwa-peristiwa. Tak terkecuali sejarah dunia kedokteran. Saat lnggris berada pada masa perang, keluarga Sydenham bukan hanya sebuah keluarga yang terkemuka tetapi iuga kaum puritan yang dengan raiin berpegang teguh pada peraturan-peraturan tata susila. Thomas Sydenham (1624 - 1689), sama seperti saudara -saudara laki- lakinya, ikut berperang. Selama peperangan itu suatu peristiwa terjadi, yang mengubah sejarah kedokteran. Di suatu saat yang dramatis, seorang Royalis (pengikut kerajaan lnggris) yang mabuk memasuki ruang tidur Thomas dan menodongkan pistol di dadanya. Senjata itu meletus dengan letusan yang kuat dan Thomas tidak terluka. Keberuntungan bagi dunia ilmu kedokteran, karena rupanya si pembunuh mabuk pada saat itu secara tidak sengaja menggerakkan tangan kirinya ke depan senjatanya dan letusan itupun menghancurkan tangannya sendiri dari pada mengenai jantung Thomas.
Thomas Sydenham pun terluput dari kematian dan kemudian hari menjadi "Hippocrates Bangsa lnggris". Ia mencapai puncak karirnya di masa-masa tidak sfabil. Ia baru saja masuk ke Magdalen Hall pada tahun 1642, mungkin bermaksud unluk mempelajari ilmu kedokteran ketika perang meletus antara Palemen dan raja. Pendidikan Sydenham menjadi kacau. Setidaknya dua kali ia masuk dan keluar dari dinas militer tersebut. Satu kali ia ditinggal dalam keadaan hampir mati di medan perang. Dalam petisinya ia menulis, bahwa ia harus mencucurkan darah yang banyak untuk memperoleh bayaran kembali terhadap hutang kepada saudaranya yang terbunuh di medan perang. Dalam Exeter 1 643 ia ditangkap kaum Royalis dan dipenjarakan selama sembilan bulan. la sangat memusuhi kaum Royalis ini, tidak hanya karena salah seorang dari mereka pernah hampir membunuhnya, tetapi juga pimpinan Royalis membunuh ibunya secara biadab pada tahun berikutnya.

Pulang ke rumah setelah perang untuk pertama kali, Thomas bertemu dengan Dr. Thomas Coxe yong merawat salah satu saudara laki-lakinya yang terluka pada saat perang. Coxe menyarankan dan mendorongnya untuk belajar kedokteran. Thomas setuju meskipun tanpa semangat dan kembali ke Magdalene Hall tahun 1647. Studinya sama sekali tidak berjalan mulus sebelum akhirnya ia lulus dalam bidang kedokteran karena perintah dari Earl of Pembroke pada tahun I 948. Standar pendidikan kedokteran begitu rendah sehingga perintah seorang Earl bisa menghasilkan seorang dokter yang tanpa pengetahuan dan ketrampilan medis. Dalam hal ini berarti Sydenham bisa menjadi dokter militer. la tinggal di universitas selama beberapa tahun lagi, tahun-tahun yang diselingi oleh tugas kemiliterannya yang kedua, sebelum mengambil praktek kedokteran di London. Oleh karena belajar yang sporadis, ia tidak bergaul banyak dengan pengetahuan medis yang tua dan tidak akurat yang terdapat dalam buku-buku pada waktu itu. Keadaan ini melindunginya dari banyak kesalahan dan memaksanya untuk mengandalkan pengamatan dan kecerdasannya, yang kurang lebih sama artinya dengan pengembangan ilmu kedokteran.  

Tahun 1655, sang mahasiswa yang penuh harapan ini mulai praktek sendiri dan menikah dengan modal 600 poundsterling yang dipinjamkan parlemen untuk "membayar utang" karena saudaranya yang meninggal di medan perang. Ia sempat berusaha terpilih untuk duduk di parlemen. Gagal dengan upayanya tersebut, ia menerima pekerjaan yan disebut “comptroller of the pipe” yang memudahkannya dalam hal keuangan, yang mencukupinya untuk melanjutkan studi kedokteran secara serius. Ia mengadakan perjalanan ke Montpellier, Perancis untuk mengikuti kelas-kelas kedokteran. Usahanya ini mengantarnya memperoleh suatu penghargaan dari Royal College of Physician di tahun 1663, walaupun dia sendiri belum menjadi dokter sepenuhnya hingga tahun 1676.

Namun jauh sebelum diakui itu, kejeniusannya membawanya menjadi termasyhur. Selama musim wabah di tahun 1665 Sydenham menulis dan mempublikasikan bukunya yang pertama berjudul Methous Curandi Ferbes, sebuah buku yang sangat berpengaruh. Di masa itu lusinan penyakit terjadi dikarenakan ooleh satu nama yaitu “fever”. Sydenham dengan pengamatannya yang teliti mampu membedakan macam dan rinci penyakit-penyakit tersebut.. “Dalam menulis…sejarah alamiah penyakit, maka setiap hipotesis filosofis harus dikesampingkan dan manifestasi serta gejala harus dicatat dengan tingkat keakuratan sepenuhnya”. Ia menekankan bahwa “gejala yang ganjil dan konstan” umum bagi penyakit yang sama, tidak peduli pada siapa itu ditemukan. Dari pada menganggap penyakit adalah suatu ketidakseimbangan dari satu “humors” seseorang, ia mulai mencari dan menggambarkan sejarah alamiah dari penyakit. Penyakit mungkin menyerang kelemahan seseorang tetapi pada akhirnya dokter harus memerangi setiap penyakit dengan metode yang tepat untuk itu. Meskipun manusia punya respon yang berbeda terhadap penyakit, namun sesungguhnya penyakit-penyakit tersebut jelas berbeda.

Cukup banyak dokter yang merasakan pengaruh dibalik pendekatan baru Sydenham yang mendominasi metode kedokteran di abad ke 18, antara lain Hermann Boerhaave (1668-1738), seorang dokter Belanda yang termasyur yang senantiasa mengangkat topi setiap kali mendengar nama Sydenham disebut. Deskripsi Sydenham yang jelas mengenai sejumlah penyakit dengan cepat dapat diterima oleh sejawatnya di Eropa, kecuali saingannya di Inggris. Semakin bertambah jumlah dokter yang menyumbangkan deskripsi yang pasti mengenai penyakit yang spesifik. Pada saat seorang dokter datang ke tempat tidur pasien, maka ia mengupayakan dan terutama membuat diagnose. Ini akhirnya menjadi suatu standard dalam praktek kedokteran.
Sampai pada akhir masanya Sydenham senantiasa menjadi orang yang praktis ketimbang teoritis. Sepertinya ia tidak sepenuhnya menyadari imolikasi dari penemuan-penemuannya. Misalnya, ia tidak sepenuhnya meninggalkan pandangan Hippocratic bahwa penyakit disebabkan oleh humors, sebuah teori yang “diledakkan” oleh Johannes Baptista van Helmont (1579-1644). Bagi Sydenham hasil lebih berarti dari pada teori sehingga ia memegang teori-teori Yunani kuno ini dan juga miliknya sendiri tanpa  merasa ada kontradiksi diantaranya.

Thomas Willis (1621-1675), seorang kontemporer yang hampir sama dalam beberapa hal lebih ilmiah dalam pendekatannya terhadap masalah medikl. Ia sedikit lebih maju dari Hippocrates dibandingkan dengan Sydenham, tetapi pengamatan Sydenham yang teliti memberikan penelitiannya terhadap demam ini lebih awet dari pada penelitian Wilis. Terhadap hasil penelitian Sydenham ini kita berhutang, teruta,a, pengenalan akan pil kina dan laudanum dalam ilmu farmakologi Inggris. Istirahat di tempat tidur, udara segar, puasa (diet) merupakan perawatan yang umum dianjurkan untuk purging, bloodletting atau steam cures.

Diantara teman-teman dekat Sydenham terdapat seorang yang baik hati seperti Robert Boyle (1627-1691) dan filsuf John Locke (1632-1704). Kepada kedua temannya ini ia menulis suatu deskripsi yang hidup mengenai kalkulus (batu-batu) dan encok yang sangat dideritanya. Sama seperti kedua temannya ini, Sydenham juga seorang Kristen, dan nampaknya ia mengajarkan implikasi medisnya dari inkarnasi. Selembar dokumen menggambarkan pandangannya. Kristus, dengan menjadi manusia menunjukkan betapa bernilainya tubuh manusia, pikirnya, oleh karena itu dunia kedokteran, dengan menyembuhkan manusia, yang serupa dengan Kristus, bisa dan harus melayani kemuliaan Allah. Ia mengingatkan para dokter bahwa mereka juga bersifat tidak kekal dan akan mempertanggungjawabkan profesi medis mereka pada saat penghakiman terakhir.

Jejak kesalahannya yang nampak merupakan suatu ledakan kepahitan terhadap para musuhnya. Melawan kelemahan ini, ia menyeimbangkan perhatiannya yang sejati terhadap para pasiennya dengan mengunjungi mereka secara pribadi, terkadang ditemani Boyle atau Locke. Ia memberikan bantuan medis yang nyata bagi kaum miskin, sesekali ia meminjamkan kudanya untuk pasien yang butuh menunggang kuda untuk kesehatannya. Ia seorang saleh yang menganut ajaran puritan dengan kuat. Dengan teladan Kristus di hadapannya ia mencari dengan sungguh-sungguh dan hati-hati untuk membuat kehidupan sesamanya lebih baik.

Sejarah bergantung pada peristiwa-peristiwa. Kita diberkati dengan luputnya Sydenham dari peristiwa penembakan semasa perang saat itu.


Sumber :

Graves D., dalam Smaritan Edisi 3 Tahun 2007

Senin, 13 Juli 2015

RENE THEOPHILE HYACINTHE LAENNEC: Penemu Stetoskop

RENE THEOPHILE HYACINTHE LAENNEC:
Penemu Stetoskop

"Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara? "
(Ayub 3I:1)

Pada saat lbunda Rene Laennec meninggal, Ayahnya, Teophile yang seorang dilettante (penikmat seni, puisi, dan semacamnya) membuang dirinya serta saudara laki-laki dan perempuannya ke sanak keluarga mereka. Laennec waktu itu baru berusia lima tahun. Saat ia berusia tuiuh tahun, itulah kemujurannya karena diseret tinggal dengan pamannya, Guillaume, seorang dokter dan profesor di Nantes (sebuoh koto di sebeloh borot Perancis). Pamannya inilah yang menanamkan minatnya dalam bidang medis.

Saat itu merupakan hari-hari yang mengerikan dari Revoluli Perancis. Rene Laennec meskipun dalam kerusuhan ia tetap menekuni studi kedokterannya karena instrukturnya secara pintar dan tenang mengatasi kelas seakan tidak terjadi sesuatu yang tidak biasa di luar kelas mereka. Namun sulit bagi sang remaja ini untuk tetap berpura-pura tidak tahu, apalagi ketika Paman Guillaume-nya
ditahan.

Meskipun ditentang oleh Ayahnya, Rene tetap memutuskan unluk sekolah kedokteran. "Profesi orang-orang dungu" demikion kata lbu Tirinya. Tetopi Guillaume hanya memperoleh jabatan yang rendah di sebuah RS yang suram dan menghasilkan sedikit uang untuk Rene. Selama revolusi, sang anak muda bekerja di RS kota dan bahkan berpetualang masuk sampai ke dalam jajaran pasukan Republik, mempraktekkan keahliannya terhadap korban yang terlalu sangat parah sakitnya. Selama bertahun-tahun ia belajar dengan keras dan mempraktekkan kedokteran secara tertatih-tatih disertai rasa gugup, serta tanpa izin orang tua untuk berkarir di bidang medis.

Tetapi dunia medis tidak menghabiskan seluruh waktunya.Walaupun menderita "asma", mungkin satu gejala pertama TBC, ia belajar memainkon seruling. Seperti Ayahnya, ia mencoba menulis puisi. Sebuah potret diri yang dibuatnya beberapa tahun sebelum ia meninggal menuniukkan bahwa ia seorang pelukis yang kompeten. Dalam tiap kesempatan ia berjalan kaki ke daeroh pedesaan, terpesona dengan tumbuh-tumbuhan. Biasanya ia pulang dari ekspedisi-ekspedisi seperti ini dalam kondisi hidung berdarah dan sakit. la mempelajari bahasa Yunani dan Latin sehingga ia bisa membaca tentang medis klasik dalam bahasa aslinya, dan juga bahasa Brenton sehingga ia bisa lebih dekat lagi ke akarnya. Paman Guillaume mengadakan perjanjian dengan Teophile ayahnya untuk mengizinkon Rene untuk studi kedokteran di Paris.

Akhirnya Teophile menjadi lunak dalam sikap menentangnya. Maka segeralah Rene menempuh perjalanannya sejauh dua ratus mil ke Paris. Ia tiba di sana dalam keadaan sakit dan demam namun demikian ia tetap mengikuti pelajarannya. Tahun-tahun berikutnya meskipun terus menerus sakit ia boleh mencapai hal-hal besar.

Ia mendapatkan penghargaan dalam bidang pengobatan dan pembedahan. Untuk mendapatkan tambahan penghasilan ia membuka kelas pelajaran anatomi. Mengamati lebih dekat maka kita akan tahu bahwa Laennec lah yang pertama-tama memberikan  deksripsi yang akurat mengenai peritonitis, adhesions, false membrane, dan ciri-ciri intestinal lainnya. Dialah yang pertama-tama memberikan perhitiungan akurat yang masuk di akal mengenoi fungsi dari prostat. Jurnal-jurnal kedokteran menerima tulisan-tulisannya. Satu dari penemuan-penemuan aslinya adalah bahwa tubercular lesions biso terbentuk di dalam tubuh di samping paru-paru. Fakta ini masih jauh dari jelas (Ironisnya itulah TBC yang mengakibatkannya meninggal dunia walaupun ia menyangkali itu sampai akhir masa hidupnya bahwa ia mengidap penyakit tersebut. lbunya dan beberapa kerabatnya meninggal karena mengidap penyakit yang sama).

Pada masa Laennec para dokter belajar auskultasi dengan cara menempelkan telinga mereka ke dada
manusia untuk mendengar apa yang terjadi di dalam tubuh. Satu gadis muda yang datang pada Laennec berdada besor dan merasa malu dengan cara yang intim ini. Kebanyakan dokter merasa diejek dan tertekan dengan prosedur ini; seorang pria yang lemah bisa saja tidak melakukan prosedur ini sama sekali. Namun Laennec adalah seorang pria yang baik dan penuh tekad. la ingin menuniukkan penghargaannya kepada gadis tersebut, ia tahu perasaa
n gadis itu tetapi gadis itu harus diperiksa. Laennec berusaha keras menemukan cara untuk menolongnya. Fisika telah mengajarkannya sesuatu mengenai transmisi suara/bunyi. Dalam saat penuh inspirasi tersebut, nampaklah baginya bahwa ia bisa menggulung kertas menyerupai tabung dan meletakkannya di dada si gadis. Pada waktu ia mencoba cara bijaksana ini ia begitu terkejut mendapati betapa jelas ia bisa mendengar suara/bunyi di dalamnya dibanding dengan yang dilakukannya kepada para pasien sebelum itu. Saat itu lahirlah Stetoskop.

Segera Laennec meningkatkan penemuannya tersebut. Dengan mengabaikan sejumlah solusi yang tidak bermanfaat ia meneruskan idenya mencoba dengan potongan-potongan kayu yang bisa dengan mudah disembunyikan. Dengan karakternya yang sederhana, ia membawa perlengkapan barunya ini
di dalam topinya sehingga bisa selalu bersamanya kapan pun ia membutuhkannya. Suatu saat ia melihat bagaimana sebuah stetoskop yang baik itu bisa lakukan. Para dokter tidak bisa mengobati apa yang tidak bisa mereka diagnosa. Stetoskop memungkinkon Rene untuk membuat pengamatan secara menyeluruh. Sejak hari itu, ia berusaha mengkorelasikan suara/bunyi di dada dan perut dengan fungsi-fungsi anatomis yang spesifik.

Berangsur-angsur Laennec mulai mengklasifikasi semua ienis suara/bunyi cardiac dan pulmonary yang didengarnya dan menjelaskan signifikonsi mereka. Diantara penyakit-penyakit yang digambarkannya yaitu gongrene of the lungs, penumonia dalam semua tahapan, tuberculosis (consumption), ephysema, dan bronchitis. Untuk memastikan bahwa rekan-rekan sesama dokternya menggunakon peralatan diagnostik yang baru, ia membuat dan menyerahkan beberapa stetoskop (berupa potongan-potongan) yang lebih untuk mereka. la menerbitkan catatan-catatannya berdasarkan hasil penelitiannya.

Tahun 1819 Laennec dipaksa untuk menghentikan prakteknya dan kembali ke pedesaan untuk memulihkan kesehatannya. Jelaslah, ia mengidap TBC. Pada waktu ia kembali ke Paris ia menerima tawaran dari pemerintah Royalis yang menggantikan para kaum revolusionaris. Tulisannya menarik
perhatian dan bergaya baru, mereka jelas dan mudah dimengerti. Para dokter berdatangan dari
seluruh dunia untuk mempelajari metodenya.Mereka sangat terkesan dengan kelemahlembutan dan
keahliannya di bidang anatomi. Mereka mendengar sendiri nilai sebuah stetoskop pada saat ia mengajari mereka suara/bunyi yang harus mereka dengar.

Sama seperti pendahulunya, Hermonn Boerhoove ia memakai bahasa Latin di kelasnya sehingga seluruh bangsa Eropa bisa memahaminya. Metodenya adalah mengambil status pasien (patient's history), memeriksa pasien, mengizinkan para calon dokter memeriksa pasien, mendiskusikan hasil penemuan mereka, menentukan bentuk pengobaton, dan jika pasien meninggal, melakukan autopsi. Metode ini akhirnya ditiru secara luas. Tetapi "obat salep" kesuksesannya bukan tanpa "lalat". la menjadi fokus serangan rasa iri hati. Walaupun ia meresponinya dengan jelas dan humor yong baik, serangan-serangan terhadap nama baiknya ini sangat melukai hatinya. Sebuah kampanye fitnah menuntunnya memasuki kehidupan pernikahan. Dalam memudahkan kehidupan rumah tangganya, Laennec mempekerjakan seorang pembantu, seorong godis Kotolik berusia paruh baya dan soleh. Para tetangganya mempergunjingkannya. Para musuhnya menuduhnya tidak bermoral. Untuk menutup mulut mereka dan mengembalikon nama baik wanita tersebut, ia menikahi wanita tersebut dan merasa bahagia. Kebahagiannya hanya bertahan selama dua tahun. Tahun 1826 ia terlalu sakit untuk terus bekerja dan akhirnya harus pergi ke daerah pedesaan lagi untuk istirahat. la meninggal enam minggu kemudian setelah ia kembali ke Brenton, sambil melepaskan cincin dari jari-jarinya sesaat sebelum kematiannya (ia menjelaskan) untuk memberi kesempatan kepada siapo saja untuk tugas yang tidak menyenangkan. la mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini dengan sedikit lebih kaya dari pada waktu ia memasukinya. Laennec memberikan kepada dunia ini sebuah peralatan yang canggih untuk mendiagnosis, dan pengamatannya yang praktis menuniukkan bagaimana peralatan baru ini mungkin dipergunakan. Dengan penemuannya terbitlah suatu era baru dalam bidang diagnosis fisik.


Sumber: Doctors Who Follow Christ - Dan Groves (dalam Samaritan),
diterjemahkan oleh lr. Nora D. Jacob.

Senin, 06 Juli 2015

Komitmen yang Tinggi dan Kecakapan yang Teliti

Siapakah di antara kamu yang kalau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya? ...-Lukas 14 : 28


Hari ini, sambil kita meneruskan penerapan perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati bagi perawatan kesehatan, marilah kita mengingat biaya yang dikeluarkan dan komitmen serta kecakapan yang dibutuhkan. Belas kasihan orang Samaria mengandung risiko. Apakah korban itu jebakan untuk membawa orang lain ke dalam bahaya? Praktisi medis mungkin juga menghadapi bahaya, cukup sering menghadapi serangan fisik bahkan juga pelecehan verbal. Belas kasihan juga membutuhkan biaya : biaya perjalanan dan penginapan bagi korban itu. Tapi orang Samaria itu sungguh-sungguh berkomitmen untuk menuntaskan perbuatan baiknya. Bagi kita, penghasilan di tempat lain mungkin lebih tinggi dan sering ada tekanan dalam keluarga dan kehidupan sosial. Adalah baik jika seorang murid yang bercita-cita melakukan hal inimenghitung biayanya-inilah prinsip alkitabiah yang sehat.

Sebagai pemikiran terakhir, kita dapat memperhatikan kecakapan yang teliti dari orang Samaria dalam membebat luka-luka dan mengurapinya dengan minyak anggur. Ketelitian adalah ciri khas lain dari pelayanan Kristen. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu .." (Kol 3 ; 23-24a). Jadi sikap itu harus ada pada kita.

Sebagai tambahan, kita perlu menjadi cakap! Orang Samaria melakukan tindakan yang benar. Cara perawatannya mungkin saja kelihatan kuno, tapi pada waktu itu minyak dan anggur merupakan salah satu bentuk pengobatan yang diakui. Tidal teliti adalah kesaksian yang buruk , ysng tidak bisa dimaklumi meski kita banyak tahu kutipan ayat-ayat Alkitab atau rajin ke gereja. Kualitas perawatan kesehatan, yang sering berdampak ke pemberian penghargaan dan pengangkatan seseorang juga harus diawasi. Mungkin kita merasa pengawasan ini membosankan. Tapi sebagai orang Kristen, kita harus mendukung mereka. Kristus adalah seorang tukang kayu yang pasti membuat meja dan kursi dengan baik. Para praktisi medis juga harus bekerja sebaik mungkin. "... Kristus adalah tuan dan kamu hamba-hamba-Nya" (Kol 3:24b). Upah dari Dialah yang kita cari.

Baca : Matius 19:16-30 Lukas 14 : 25-35

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 29 Juni 2015

Keluarga yang Berbahagia

Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? ---Matius 7:3

Ada lelucon lama berbunyi, : Mengapa kita semua tidak bisa rukun seperti satu keluarga besar?" jawabannya adalah, "Masalahnya --kita memang keluarga besar." Setiap orang yamg ingin menjadi anggota keluarga yang berbahagia meskipun di dalamnya ada permasalahan. Pertanyaannya bagaimana caranya?

Setiap dokter praktik umum tahu pentingnya perkawinan yang aman bagi kesehatan. Pasangan suami istri yang tidak bahagia karena didera persoalan rumah tangga, dan perkawinannya penuh pergumulan. datang kepadaku sambil menangis. Masing-masing berkata, "Aku harus memikirkan diriku sendiri." Tapi kalau saja merek
a berhenti melakukan itu, hidup akan tampak berbeda. Justru sekarang anak-anak mereka menunjukkan gejala adanya gangguan emosi. Takut kalau-kalau orang tua mereka yang suka bertengkar akan berpisah, atau jika yang satu pergi, maka yang lain akan pergi juga. Para praktisi medis akan menjadi terlalu stres untuk dapat mengenali trauma-trauma ini, atau bahkan mengalaminya sendiri.

Sumber rasa takut bisa apa saja. Pasangan bisa merasa takut kalau-kalau pasangan hidupnya mencari orang lain. Gadis-gadis usia sekolah yang hamil minggat karena takut mengakui keberadaannya kepada keluarganya. Para remaja takut dianggap aneh oleh teman sebaya. Di balik semua takut ini ada rasa takut terhadap kritikan dan penolakan, ditambah lagi buruknya komunikasi antar keluarga, termasuk para penasihatnya. Resep terbaik agar keluarga "kompak" adalah melakukan "Perubahan dimulai dari aku." Bila kita minta kepada-Nya, Tuhan akan memberi tahu hal apa yang perlu Ia ubahkan dalam diri kita. Kita mungkin perlu ambisi yang lebih sederhana, atau sikap tidak selalu mengkritik, demi terbentuknya keluarga yang lebih berbahagia.

Doa : Tuhan Yesus, keluarga-Mu di bumi terkadang salah memahami-Mu namun Engkau menanggapinya dengan hikmat dan anugerah dan meninggikan kesetiaan saudara-saudara-Mu. Sebagai anggota keluarga besar-Mu, kiranya kami mengenali kedamaian dan kerukunan di rumah kami sendiri dan siap membagikan rahasia ini dengan orang lain. Amin,

Baca : Markus 3 :30-31, 31_35; Lukas 4:22; 1 Korintus 9:5
Disadur dari For God's sake, Doctor!

Kamis, 25 Juni 2015

Lowongan Dokter Umum dan Dokter Spesialis


  1. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kasih Herlina telah hadir dan beroperasi sejak 11 November 2011. Melalui bendera yayasan Kasih Herlina dan izin penyelenggaraan Dinas Kesehatan Mimika Papua Nomor 445/810/2011 tertanggal 26 September 2011, RSIA Kasih Herlina bertekad melayani masyarakat umum sepenuh hati dengan sentuhan hati. Saat ini, RSIA Kasih Herlina membutuhkan Dokter Anak untuk berkarya melayani di Timika. 
  2. Siloam Hospital Makassar membutuhkan Dokter umum maupun Dokter spesialis untuk berkarya, melayani masyarakat.
Jika anda berminat dapat menghubungi ke :
1. RSIA Kasih Herlina : l_pardede@yahoo.co.id
2. Siloam Hospital : asrini.indah@siloamhospital.com

Senin, 22 Juni 2015

Memberi Semangat Satu Sama Lain


Barnabas...menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan ... Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman ... - Kisah Para Rasul 11:23-24

Kesaksian Barnabas mengingatkan kita bahwa memberi semangat adalah berkat yang jauh lebih besar dari kritikan sebanyak apa pun. Mulanya Barnabas berteman dengan Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus), sementara orang lain berfoukus kepada reputasi Saulus sebagai pembunuh (Kis 9:26-27). Kemudia ia mengajak Paulus menjadi rekan sekerjanya dalam mengajar gereja muda di Antikhia. Di sinilah orang percaya mula-mula disebut Kristen (Kis 11:25-26). Namun, setelah pertemanan yang begitu dalam, dia dan Paulus berpisah.

Sepupu Barnabas yang masih muda, Yohanes Markus, telah meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu Paulus dan Barnabas (Kis 13:5,13) tapi kemudian Barnabas ingin memberi dia kesempatan lain. Hal ini bertentangan dengan penilaian Paulus dan, pasti dengan perasaan sakit, kerja sama yang sudah lama itu putus (Kis 15:37-40). Alkitab jarang menyebut nama Barnabas lagi. Dari seorang "pelari di depan", ia tergeser ke belakang.

Tentu tidak mudah bagi seorang pemimpin, yang sebelumnya aktif, untuk mengundurkan diri dan menyerahkan dirinya untuk menjaga dan mengatur seorang muda. Tapi pasti karena dorongan ini, Paulus di kemudian hari meminta Yohanes Markus untuk menemaninya (2 Tim 4:11). Ia bertindak seperti seorang anak bagi Petrus (1 Ptr 5:13). Ini adalah pelajaran lain tentang campur tangan Tuhan dalam hubungan kita dengan orang lain. Seperti reputasinya, Barnabas menerima hikmat Roh Kudus dan terus memberi semangat, bahkan dari tempat yang jauh.

Jadi, apa akibatnya?Kita mempunyai Injil Markus!Injil kedua yang isinya dipercaya berdasarkan penuturan Petrus kepada Yohanes Markus. Jadi, dengan dorongan semangat secara "persaudaraan" dan penyerahan orang terdekat dan terkasih kepada hikmat Allah, tanpa disadari Barnabas terlibat dalam sebuah pelayanan yang terus berjalan. Teladannya memberikan semangat kepada kita untuk menjadi orang-orang masa kini yang memberikan semangat kepada orang lain.

Dikutip dari :
Sumber Hidup Praktisi Medis

Senin, 15 Juni 2015

Edward Jenner, Sang Penakluk Penyakit Cacar

"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.." (Yakobus 1 : 27)

Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan dalam dunia yang penuh dengan cobaan. Aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati”. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 ini mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku firman Tuhan. Yakobus memberi penjelasan penting lainnya tentang arti berbahagia yang sesungguhnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Kristen "berbahagia" mendengar penjelasan ini. Ketidakbahagiaan ini lebih disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan tetapi karena ketidakmauan! Orang-orang yang seperti ini lebih senang menuruti kehendak hati dan kebenaran dalam persepsi diri sendiri daripada menuruti kehendak dan kebenaran Allah.

Edward Jenner, siapa yang tidak mengenalnya? Edward Jenner adalah sang penakluk penyakit cacar. Penyakit cacar merupakan teror dan momok daratan Eropa. Beribu-ribu manusia meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Sedang yang lain mencari perlindungan dengan cara sengaja minta disuntik dengan virus cacar yang masih hidup. Tehnik ini sudah lama dipergunakan sejak zaman kekaisaran Ottoman (Kerajaan Turki) dan dibawa ke Inggris, yang mana hal itu berhasil dengan baik di tangan para dokter seperti Thomas Dimsdale (yang bahkan menyuntik "Cathrine Agung" dari Rusia), namun kurang berhasil di tangan dokter-dokter lainnya. Harapannya adalah mereka yang tidak terlindung dari virus akan menderita kasus ringan, tetapi tentu saja, beberapa menderita kasus yang berat dan sedikit yang meninggal karena treatment ini. Bahkan jika seseorang yang sudah disuntik tidak menderita penyakit ini, maka siapa saja yang berada dekatnya selama periode waktu yang cukup lama berisiko terkena infeksi yang serius. Penyembuhan itu sama sekali tidak memuaskan.

Suatu waktu, Edward Jenner dibawa dari rumahnya ke suatu tempat (semacam kurungan) untuk mendapatkan vaksinasi. Di tempat ini ia mengalami pendarahan dan tidak diberi makan (puasa) untuk operasi, pengobatan dan diikat untuk mencegahnya agar melarikan diri. Ia menjadi sangat sakit dan kondisinya merosot. Seorang anak yang dulunya kuat dan sehat menjadi sakit dan sangat lemah. Selama bertahun-tahun ia mendengar suara-suara. Ia dikirim ke sebuah sekolah kecil selama masa penyembuhannya, tetapi ia juga sangat lemah sehingga kakaknya, Stephen membawanya pulang ke rumah. Orang tua mereka sudah meninggal dalam hitungan minggu selama masa itu, ketika Edward berusia 5 tahun sehingga Stephen menjadi pelindungnya.

Pengalaman divaksinasi mungkin membekas dalam diri Jenner muda ini. Bagaimanapun juga hal itulah justru memacu dirinya untuk tertarik lebih dari biasanya pada tanda-tanda yang pada akhirnya menuntunnya dalam mengembangkan vaksin cacar sapi, sebuah vaksin yang akhirnya menghapus penyakit cacar dimana saja di bumi kecuali laboratorium.

Setelah ia sembuh, Jenner dikirim belajar untuk melayani. Walaupun ayahnya seorang Pendeta tetapi ia tidak menunjukkan minat sama sekali untuk pelayanan mimbar. Sebaliknya ia justru mati-matian ingin menjadi seorang naturalis. Memang ia mengkoleksi banyak spesimen dan mengikuti kursus yang mengajari sistem klasifikasi dari seorang naturalis kenamaan asal Swedia, Carl Linnaeus (1707-1778). Usia 13 tahun Jenner magang pada dokter ahli bedah, John Ludlow. Meskipun kondisi kesehatannya masih belum pulih, Jenner bekerja keras dan membantu pembedahan. Setelah masa magangnya selesai, Jenner pindah ke London dimana ia berguru pada Dr. John Hunter yang terkenal. Hunter adalah seorang pria agresif yang kurang peduli pada kaidah atau aturan. Jenner gemar dengan orang yang tempramental ini dan dictumnya : "kebenaran..kebenaran..kebenaran! Sebaliknya Hunter mempercayai Jenner. Hanya Hunter kurang terkenal karena membayar seorang "resurrectionists" (pembangkit manusia) untuk merampok kuburan demi mendapatkan mayat-mayat. Jenner belajar anatomi dengan mempelajari tubuh-tubuh curian ini. Jenner mengganti kegiatannya. Ia menyusun katalog specimen untuk Joseph Bank, ahli botaninya Kapten Cook. Pekerjaan yang biasa dikerjakan selama 6 bulan, tetapi oleh Jenner diselesaikan dalam waktu 2 bulan. Merasa terkesan Cook menawarkan jabatan di kapalnya tetapi Jenner menolak termasuk tawaran Hunter untuk bekerja sama juga ditolak karena ia ingin kembali ke pedesaan.

Berbagai penelitian dilakukan oleh Jenner dan berbagai tantangan harus dihadapinya. Salah satu  penelitiannya mengenai tingkah laku/kebiasaan cuckoo (burung elang malam). Hasil penelitian ini menghadapi sejumlah penentang. Tingkah laku yang digambarkannya kelihatan terlalu aneh dimana ia membuktikan bahwa burung cuckoo mempunyai kebiasaan meletakkan telur-telur mereka di sarang burung lain. Namun, Royal Society berhasil diyakinkannya dan menjadikannya anggota. Di waktu tertentu, Jenner belajar dari milkmaids bahwa mereka yang terkena cacar sapi imun terhadap cacar. Ia melakukan penelitian selama 20 tahun kemudian, sementara ia sendiri juga mengimplementasikan ide-ide baru dalam pengobatannya terhadap cacar. Ia menghentikan pendarahan para pasien cacar dan memberikan tubuh mereka suatu kesempatan yang lebih baik untuk sembuh dari penyakit. Ia menyuntik tangan-tangan petani untuk menerima vaksinasi cacar sapi, dan ternyata tidak seorang pun yang terkena cacar.

Yakin apa yang ditemukannya ini, Jenner menguji idenya ini dengan cara menjangkitkan seorang anak suruhan bernama Phipps dengan cacar sapi. Dua bulan kemudian ia menyuntik anak ini dengan virus cacar yang masih hidup. Rumahnya dikerumuni orang banyak. Para pesuruh bersumpah, jika sampai si anak meninggal maka Jenner akan dihukum gantung sebagai pembunuh. Terbukti si anak imun. Setidaknya Jenner telah memiliki bukti positif. Namun setelah itu sebuah selebaran yang mencelanya dipublikasikan. Situasi dalam komunitas medis juga tidak mendukungnya. Para dokter mencaci dan mencemooh Jenner dan memperlakukannya dengan mengusirnya dari perkumpulan mereka. Bahkan jurnal kedokteran menolak menerbitkan hasil penemuannya ini.

Jenner tidak dapat dipengaruhi situasi ini. Yakin akan keberhasilannya yang pertama, ia mulai bekerja sendiri dalam mempromosikan idenya. Ia bisa melihat bahwa jika sautu hal bisa berguna bagi sesame manusia maka pertimbangan-pertimbangan pribadi harus dikesampingkan. Akibatnya ia menderita secara finansial. Uangnya habis untuk membiayai penelitian-penelitiannya yang tiada putus-putusnya. Sementara ia mendapatkan sedikit pemasukan, karena serangan-serangan dari dunia medis tentang dirinya, dan para pasien menjadi jarang yang mau berobat kepadanya. Pada akhirnya tentu saja, ia mendapatkan banyak penghargaan. Satu per satu, para dokter berpikiran terbuka membaca bukunya dan mengadakan uji lebih lanjut. Dan ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Virology dan Pengobatan Preventif.


Sebagai ucapan terima kasih atas karyanya, Parlemen memberi sebagai hadiah untuknya yang senilai 10.000 poundsterling. Dengan kepribadiannya yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, ia menggunakan uang untuk menolong para dokter yang membutuhkan. Kehidupan Jenner bukanlah sebuah kehidupan yang mudah. Sebagai tambahan atas masa kecilnya yang penuh penderitaan, kehilangan istri dan anak sulungnya dan penganiayaan yang dialaminya dari dunia profesinya, ia terjangkit penyakit tifus yang tertular dari seorang pasien dan hampir mati. Di lain waktu ia hampir mati beku saat ia mengunjungi pasien yang sakit. Hari sebelum kematiannya ia berjalan ke kota untuk membeli kayu bakar untuk orang miskin dengan uangnya sendiri. Dengan perhatian dan kepeduliannya terhadap kaum miskin ia menyatakan dirinya sebagai seorang Kristen sejati. Dalam tulisannya ia meminta Kristus agar mau menerima jiwanya yang kekal. Nama dan karyanya akan diingat selama dunia mengingat kedermawaannya. Bagaimana dengan kita yang mengaku seorang dokter Kristen? Sudahkah kita menjadi pelaku Firman yang sejati?


Disadur dari Majalah Samaritan 
Edisi Keempat Tahun 2008

Senin, 08 Juni 2015

Kode Etik Profesi Dokter Rumusan Integritas Dokter

Secara pribadi saya berusaha terus memegang integritas. Menurut saya sebagai dokter, pada dasarnya semua profesi itu baik, termasuk profesi dokter. Hanya saja seorang dokter menjadi tidak baik kalau sekaligus juga seorang pedagang, artinya mengkomersialisasikan profesinya. Dokter yang berlaku sebagai pedagang, dalam arti kata cara-caranya, itu tidak baik. Anda tahu kan cara-cara pedagang? Bagaimanapun profesi dokter berhubungan erat dengan kemanusiaan, unsur kemanusiaannya menonjol. 

Banyak dokter melakukan 'pembelaan diri' dengan mengatakan : "Kita hidup di masyarakat. Karena itu tidak lepas dari pengaruh yang ada di masyarakat. Kita hidup perlu makan, perlu mobil." Tetapi tetap saja menurut saya, kalau kita membuat profesi kita sebagai pedagang, hal itu tidak benar. Memang ada perbedaan antara seorang dokter dengan pedagang. Saya mendapat tarif yang berbeda dari pasien yang saya rawat di VIP dengan di kelas IV, misalnya. Padahal perlakuan saya sama. Kalau pedagang kan tidak begitu? Saya sebagai pedagang akan menerapkan tarif yang sama kepada pembeli, tidak peduli kaya atau tidak.

Tentu saja saya sering mengalami konflik nilai (hal-hal yang bertentangan dengan kode etik/etika profesi sebagai dokter) ketika menangani pasien. Ada etika profesi dokter, yakni tidak boleh memberitahu rahasia penyakit pasien. Misalnya sebuah perusahaan yang karyawannya sakit meminta informasi penyakitnya kepada dokter yang memeriksa dan merawat karyawan tersebut, kami tidak boleh memberitahukannya, kecuali si dokter perusahaan meminta atas izin perusahaan yang bersangkutan. Atau kalau yang memeriksa pasien tersebut dokter perusahaan, boleh saja. Rahasia ini dijaga supaya pasien terlindung dan untuk menghindari dampak buruk si pasien, misalnya terancam dipecat, atau terisolasi. Rahasia penyakit juga tidak boleh diberitahukan kepada si pasien. Kenapa, supaya memudahkan proses diagnosa dan penyembuhannya. Kalau si pasien tahu dia mengidap penyakit tertentu, bisa saja dia shock lalu tidak mau (takut) memberitahukan dengan jujur apa yang dialaminya. Kecuali, si pasien memang menghendaki tahu penyakitnya. Itupun sebisa mungkin dihindari. Ini berlaku untuk semua jenis penyakit.

Sedemikian rupa harus dirahasiakan karena sudah merupakan sumpah kami sebagai dokter. Sebab antara pasien dan dokter harus erat hubungannya, supaya mereka bisa mengemukakan secara terbuka. Memang saya agak sering mengalami masalah dimana para dokter perusahaan meminta rahasia penyakit pasien/karyawan perusahaan tersebut. Kalau di luar itu tidak. Kalaupun harus dibocorkan, hanya hukum yang bisa melakukannya.
Saya tidak pernah disodori uang supaya membocorkan rahasia pasien. Kalaupun disodori akan saya tolak tegas. Yang sering saya alami adalah diminta membuat surat dokter fiktif. Misalnya seorang wanita yang sakit minta surat dokter, lalu kemudian dia juga minta surat dokter untuk suaminya. Nah ini yang saya tolak. Kepada anak saya pun saya tidak akan memberikan surat dokter kalau dia sakit. Kalau dokter saja tidak bisa dipercaya siapa lagi yang bisa dipercaya? Saya harus jujur mulai dari hal-hal yang kecil. Kalau sudah berdusta tidak baik. Sebab dusta itu, kalau dimulai dari yang kecil-kecil, maka akan terbiasa. Dusta itu kan termasuk dosa juga. Tidak ada bedanya dosa berbohong dengan mencuri. Kadang-kadang orang berpikir berbohong itu bukan dosa. Sebetulnya gampang saja kam membuat surat keterangan sakit? Bisa saja itu menolong pasien. Tapi kan itu seolah-olah menolong? Saya selalu berusaha untuk berjalan di rel yang benar. 

Sering saya disponsori oleh perusahaan obat/farmasi untuk menggunakan merek obat farmasi tertentu. Dan saya masih bergumul sampai sekarang, benar tidaknya kalau saya menerima sponsor itu? Yang paling nyata adalah kalau pada waktu saya mengadakan kongres, lalu pihak perusahaan farmasi itu datang pada saya dan mengatakan, "Dok, saya mau berpartisipasi dalam kongres sebagai sponsor." Mungkin dia lihat saya suka menggunakan obat mereka, lalu berusaha "mengikat" saya melalui tawaran sebagai sponsor. Nah, ini saya masih bergumul. Ini sogok atau bukan? Kalau jelas menyogok terus terang saya tolak.

Kalau ada istilah Kolusi, Korupsi, maka kini ada Kortusi. Kortusi itu ya, kejadian seperti yang saya alami. Karena saya sudah berbuat baik, lalu ada imbalannya. Misalnya, ketika saya merawat pasien, saya dari awal sudah menentukan tarifnya sampai sembuh. Lalu pasien itu memberi sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Kan kortusi itu namanya?

Jelas tidak boleh ada hubungan kerja sama antara dokter dengan perusahaan farmasi, Hal ini melanggar kode etik. Dokter harus independen, tidak terikat kepada satu perusaaan farmasi apapun. Kalau memang obat itu berkhasiat dan cocok, silahkan dipakai. Kalau tidak cocok, tidak dipakai, ada atau tidak ada sponsor. Sikap saya menjadi demikian, jelas karena firman Tuhan dan doa. Saya berpegang pada ayat di Matius yang mengatakan, apa gunanya memperoleh seluruh dunia tapi kehilangan nyawanya? Saya punya titel dan kedudukan. Tapi apa artinya kalau saya masuk neraka? Saya meyakini bahwa kehidupan ini bukan hanya di dunia. Kita hanya musafir saja di dunia. Perjalanan  kita suatu saat akan terhenti. Tidak seperti falsafah orang Yunani yang mengatakan, marilah kita makan dan minum, berpesta pora sebab kita akan mati. Orang Kristen tidak seperti itu, sesudah ia mati akan ada kehidupan selanjutnya. Kalau kita besok mati, kita akan bersama Dia di sorga.

Menurut saya untuk seorang dokter dapat mempertahankan integritasnya ia harus mendahulukan kepentingan pasien. Itu yang utama. Dokter memiliki sederetan kode etik yang ditujukan untuk kepentingan pasien. Dokter harus memegang sumpahnya! Soal bagaimana integritas para dokter sekarang, khususnya dokter Kristen, saya tidak mau menghakimi.

Tapi saya pribadi ingin terus berusaha mempertahankan integritas.

Sebetulnya kami, pada dokter, tidak perlu mengejar integritas. Sebab, kode etik profesi dokter, yang disusun oleh Hipocrates, bapak kedokteran, itu sendiri merupakan rumusan dari integritas dokter. Dan isi kode etik profesi dokter sangat kristiani. Coba anda perhatikan rumusan-rumusannya. Dan inilah yang mendorong saya untuk semakin sungguh-sungguh sebagai seorang dokter.

Secara pribadi yang saya lakukan agar tetap memiliki integritas adalah pertama, harus memiliki hubungan pribadi yang khusus dengan Tuhan melalui waktu teduh. Tapi tuntutan ini tidak harus dari seorang dokter, setiap orang yang mengaku Kristen pun memiliki hal ini. Memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan itu penting. Saya pernah bekerja sampai jam 11 malam, sehingga waktu teduh tidak ada. Seolah-olah saya bekerja demi pasien saya. Namun saya akhirnya berpikir, saya ini melayani Tuhan atau melayani pekerjaan?Janganlan memiliki waktu dengan Tuhan, untuk keluarga saja tidak ada.

Kedua, membaca firman Tuhan. Ini saya lakukan antara lain melalui kebaktian keluarga di rumah setiap pagi sekitar pukul 6. Jadi kalau anda telepon ke rumah pagi-pagi tidak akan dilayani. Kedua hal tersbut sangat menolong saya pada saat mengalami persoalan-persoalan, pada saat ada godaan, baik itu godaan materi, dll. Melalui firman Tuhan yang saya nikmati setiap hari saya diingatkan ketika mengalami tantangan untuk berbuat kesalahan. Selain itu di sini saya juga terlibat dalam Forum Komunikasi Dokter sebagai wadah persekutuan kami, para dokter.

Salam sejahtera,
Prof. DR. Karmel Tambunan
Dikutip dari Majalah Samaritan No. 2 Juni-Juli 1999
Copyright 2007, Pelayanan Medis Nasional (PMdN) Perkantas
Jl. Pintu Air Raya Blok C-5 Jakarta
Telp. (021) 3522923, 3442463-4 Fax 021- 3522170
Twitter : @MedisPerkantas